Gangguan Mental Menghiasi Generasi Z

Generasi Z dan Tantangan Kesehatan Mental yang Mengancam

Generasi Z atau Gen Z berasal dari istilah ‘zoomers’, yaitu kelompok demografis yang lahir pada awal tahun 1997 hingga 2012. Sebagian besar anggotanya adalah anak-anak dari generasi ‘Baby Boomers’ yang lebih muda daripada Generasi X dan Generasi Milenial. Gen Z tumbuh dalam era digital yang mengubah cara berpikir, bersosialisasi, dan mengejar tujuan hidup.

Berdasarkan data resmi yang ditetapkan Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia pada Sensus Penduduk 2020, Gen Z mencapai 27,94 persen dari jumlah keseluruhan penduduk Indonesia. Mereka dijuluki sebagai ‘native digital’ karena mereka lahir dan tumbuh bersamaan dengan reformasi digital, meskipun belum paham sepenuhnya tentang teknologi pada masa kecilnya. Generasi ini tumbuh dengan akses ‘portable’ ke internet dan teknologi digital sejak usia muda.

Menurut penelitian Ferguson, Donna (Februari 29, 2020), Gen Z lebih banyak menghabiskan waktu bersama media elektronik dibandingkan kehidupan nyatanya. Tak jarang generasi ini disebut sebagai generasi paling kesepian. Alih-alih tumbuh dan berkembang dengan sehat, Gen Z justru merupakan generasi yang paling banyak mengalami gangguan kesehatan mental.

Definisi dan Pentingnya Kesehatan Mental

Kesehatan mental merupakan kondisi psikologi yang memengaruhi kualitas kehidupan seseorang. World Health Organization (WHO) mendefinisikan kesehatan mental sebagai kondisi kesejahteraan pola pikir yang memungkinkan seseorang berkontribusi dengan optimal dan bekerja secara produktif dalam kehidupannya.

Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) menunjukkan lebih dari 19 juta penduduk berusia 15 tahun ke atas mengalami gangguan mental emosional. Di Aceh, baru saja diekspose bahwa lebih dari 20.000 penduduk Aceh kini mengalami gangguan jiwa. Sebanyak 10.000 di antaranya mengalami gangguan jiwa berat. Sayangnya data ini tidak terpilah sehingga kita tak tahu persis berapa persen di antaranya adalah remaja. Namun, tak terpilah datanya bukan berarti tidak ada remaja yang mengalami gangguan jiwa di Aceh.

Faktor yang Mempengaruhi Kesehatan Mental

Berbagai tantangan yang dihadapi pada masa remaja dapat memengaruhi kesehatan mental baik dari faktor internal maupun eksternal. Survei nasional seperti Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) menunjukkan bahwa satu dari tiga remaja Indonesia memiliki masalah kesehatan mental.

Pentingnya kesehatan mental bagi setiap individu, memungkinkannya dapat menikmati hidup, kualitas hidupnya meningkat, menjalin hubungan yang baik, serta meningkatnya produktivitas. Bahkan, Intelligence Quotient (IQ) yang tinggi tidak bisa dipergunakan dengan sempurna apabila seseorang tersandung oleh gangguan kesehatan mental. Jika penerus bangsa yang seharusnya mencetak perubahan dan inovasi justru terbelit kasus gangguan kesehatan mental, maka negara ini akan sulit berkembang.

Jenis-Jenis Gangguan Kesehatan Mental

Beberapa gangguan kesehatan mental yang umum terjadi adalah depresi, kecemasan, ‘anxiety’, apatis, gangguan bipolar, gangguan stres pascatrauma, gangguan obsesif kompulsif (OCD), dan psikosis. Namun, yang paling banyak dialami Gen Z adalah ‘anxiety’.

Berdasarkan wawancara dengan salah satu penderita ‘anxiety’ di Bireuen, yaitu Rahmah, ia mengatakan bahwa hidupnya kini terasa berantakan, cita-cita dan rencana pendidikannya berjalan amburadul. Setiap hari ia berperang dengan isi pikirannya sendiri. “Anxiety bisa muncul setiap hari,” ungkap Rahmah.

Ia mengibaratkan ‘anxiety’ seperti jelangkung: datang tak diundang, menghilang tanpa disadari. Ia menceritakan tentang kehidupannya sebelum dilanda deburan ombak ‘anxiety’ sangatlah bahagia, sangat produktif, dan bisa menikmati setiap momen kecil dalam hidupnya. “Namun, sekarang terasa semua sirna,” keluhnya.

Pengalaman Julia Rimba

Lain lagi kisah seorang influencer yang sudah sembuh dari gangguan kesehatan mental, bernama Julia Rimba. Ia menceritakan di kanal YouTube bahwa dirinya korban ‘bully’ sejak kecil karena berkulit hitam. Dalam hidupnya, ia cuma memiliki ibu karena ‘lost contact’ dengan sang ayah sejak usia balita.

Ketika ibunya berpulang, ia menjadi sebatang kara. Kesepian yang ia rasa, tidak punya tujuan hidup, tidak punya orang-orang terdekat, membuatnya mengalami gangguan kesehatan mental.

Bahaya Penyakit Mental

Tidak bisa dipungkiri bahwa kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Jika yang sakit adalah fisik, seseorang masih memiliki banyak kiat untuk sembuh. Namun, jika yang sakit adalah mental, fisik pun ikut melemah karena sistem kekebalan tubuh menurun dan membuat tubuh lebih rentan terhadap infeksi virus maupun bakteri.

Bahaya penyakit mental bisa menyebabkan penyakit fisik kronis seperti kanker, penyakit jantung, dan lain-lain. Inilah yang disebut penyakit psikosomatis. Dokter Tirta mengatakan bahwa psikosomatis terjadi karena tubuh mengalami tekanan yang sangat hebat karena kepikiran, panik, dan cemas. Endapan emosi ini akhirnya menimbulkan ketidakstabilan hormon dan menimbulkan gejala penyakit psikis seperti deg-degan, sesak napas, jantung berdebar-debar, tensi darah tidak stabil, keringat dingin, hingga pingsan tiba-tiba.

Perjalanan Kesembuhan dan Inspirasi

“Ketika sudah mencapai titik kesembuhan, rasanya seperti mendapatkan kesempatan hidup untuk kedua kalinya,” ujar Julia Rimba dalam salah satu vlognya. Semua terasa indah, semangatnya kembali, bahkan melebihi sebelum ia mengalami gangguan kesehatan mental.

Ia memilih untuk bangkit dari keterpurukan. Setelah berkonsultasi dengan psikolog dan psikiater pelan-pelan dia menemukan arah tujuannya lagi. Saat ini ia sudah sembuh dari gangguan kesehatan mental dan mampu menjadi motivator terhadap perempuan yang kehilangan diri sendiri. Ia bisa lebih produktif menggunakan waktunya. Setiap detik dari kehidupannya berharga. Meski dengan kondisi fisik yang masih sama seperti dulu, yaitu berkulit hitam, tetapi sekarang ia sudah bisa menerima dengan senang hati apa pun kondisinya.

Kesimpulan

Pada hakikatnya, yang menjadi masalah hidup bukanlah suatu kondisi, melainkan penolakan terhadap kondisi hidup yang membuat seseorang sulit bahagia. Julia Rimba tidak hanya bangkit dan berkembang untuk dirinya sendiri, ia punya banyak ide untuk mengajak orang lain sembuh seperti apa yang ia alami dulu.

Karena sakit mental itu sangat tidak nyaman, ia mengimbau agar para orang tua selalu senantiasa menjaga kesehatan mental dari generasi baru penerus bangsa. Jika mental sehat, semua akan baik-baik saja.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *