Wali kota menegaskan, pemerintah akan mengidentifikasi penyebab spesifik anak tidak bersekolah agar solusi yang diberikan tepat sasaran. “Kalau masalahnya itu karena pembiayaan, saya pikir gak masalah lagi karena sudah kita gratiskan. Kalau masalahnya kesehatan, nanti akan turun tim kesehatan. Kalau masalahnya sosial, nanti akan turun dari Dinas Sosial,” terang Dokter Amin.
Dirinya juga menambahkan, penanganan akan dilakukan secara individual, yakni jika anak berhenti sekolah akibat trauma, seperti perundungan, pemerintah akan melibatkan psikiater atau psikolog sesuai kebutuhan.
Tujuan akhir gerakan ini adalah membekali anak-anak dengan ilmu dan keterampilan agar mampu mandiri secara ekonomi dan tidak menjadi beban masyarakat di masa depan. Melalui upaya tersebut, pemerintah menargetkan lahirnya sumber daya manusia berkualitas menuju Indonesia Emas 2045.
“Karena itu, kita harus benar-benar menyiapkan sumber daya manusia sejak sekarang untuk menyongsong Indonesia Emas 2045. Waktunya tinggal sekitar 19 tahun lagi, sehingga pemerintah saat ini terus berupaya serius memberi perhatian besar pada penguatan kualitas sumber daya manusia Indonesia,” pesannya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Siti Romlah, menekankan bahwa hadirnya gerakan Sahabat ATS ini untuk memastikan hak-hak dasar setiap anak di Kota Probolinggo terpenuhi secara layak.
“Sebuah gerakan yang InsyaAllah akan mendapat rida dari Allah, yaitu sebuah gerakan sinergi aksi holistik berbasis area terpadu, anak tidak sekolah atau sahabat ATS yang mana ini untuk memastikan bahwa hak-hak dasar setiap anak di Kota Probolinggo benar-benar terpenuhi dengan layak,” katanya.
Turut menyukseskan gerakan ini, Bunda PAUD Kota Probolinggo dr. Evariani juga meminta seluruh kader binaannya turun ke lapangan melakukan screening sekaligus menjadi bagian dari Sahabat ATS. “PKK nantinya akan turun langsung ke lapangan, karena memiliki jaringan dasa wisma yang terhubung hingga tingkat RT dan RW. Melalui kader-kader inilah pendataan dapat dilakukan sampai ke rumah-rumah untuk menemukan anak-anak yang belum bersekolah,” kata dr. Eva. (Humas/sin)
Tinggalkan Balasan