Foto : Dedi Mulyadi Gubernur Jawa Barat (atas), Saepul Bahri Binzein, Bupati Purwakarta (bawah)
Forumnusantaranews.com- Kunjungan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi ke rumah duka korban pembunuhan tragis saat hajatan di kampung Cikumpay, Desa Kertamukti , Kecamatan Campaka, menuai sorotan tajam publik. Pasalnya, Gubernur yang secara posisi berada di tingkat provinsi justru hadir lebih dulu dibanding Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein yang notabene merupakan kepala daerah setempat.
Kehadiran orang nomor satu di Jawa Barat itu disambut haru keluarga korban. Namun di sisi lain, muncul pertanyaan dari masyarakat, mengapa Bupati Purwakarta tidak menjadi pihak pertama yang hadir di tengah duka warganya sendiri?
Peristiwa berdarah yang terjadi saat hajatan tersebut tidak hanya meninggalkan luka mendalam bagi keluarga korban, tetapi juga mengguncang rasa aman masyarakat.
Banyak pihak menilai, dalam situasi seperti ini, kehadiran cepat kepala daerah menjadi simbol empati sekaligus tanggung jawab moral terhadap warganya.
“Ini bukan soal siapa yang datang, tapi soal kepekaan. Harusnya kepala daerah hadir paling awal,” ujar salah satu warga yang enggan disebutkan namanya, Selasa 7 April 2026.
Setelah kunjungan Gubernur, barulah Bupati Purwakarta terlihat mendatangi rumah korban. Momen itu semakin memicu perbincangan di tengah masyarakat, terutama di media sosial, yang mempertanyakan respons dan kecepatan pemerintah daerah dalam menangani peristiwa serius di wilayahnya.
Surat edaran hajatan yang dibuat Bupati pun menuai kritikan, antisipasi atau kebijakan yang terburu-buru. Dalam kondisi seperti ini, kecepatan respons dan kehadiran langsung pemimpin daerah sangat penting untuk menjaga kepercayaan publik.
Selain sebagai bentuk empati, langkah cepat juga menjadi bagian dari upaya meredam potensi konflik lanjutan.
Masyarakat berharap kejadian ini menjadi bahan evaluasi agar ke depan, respons pemerintah daerah bisa lebih sigap dan berpihak pada kepentingan warga.
Kasus pembunuhan tersebut masih dalam penanganan aparat kepolisian, dan publik menantikan penegakan hukum yang tegas terhadap pelaku.
Peristiwa ini menjadi pengingat, bahwa di tengah duka masyarakat, kehadiran pemimpin bukan sekadar formalitas melainkan wujud nyata keberpihakan dan tanggung jawab.
Tinggalkan Balasan