Pemkot Surabaya Bagikan 25.000 Bibit Cabai Rawit untuk Mengatasi Kenaikan Harga
Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya mengambil langkah strategis untuk menghadapi kenaikan harga cabai rawit yang signifikan. Hal ini dilakukan sebagai upaya mengantisipasi dampak cuaca ekstrem dan gagal panen di daerah penghasil. Salah satu tindakan yang dilakukan adalah pembagian bibit cabai rawit kepada kelompok tani, komunitas, dan masyarakat di wilayah Kota Pahlawan.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Surabaya, Antiek Sugiharti, menjelaskan bahwa sebanyak 25.000 bibit cabai rawit telah disebarkan ke berbagai poktan dan warga. Pembagian tersebut dilakukan secara bertahap sejak bulan Agustus hingga awal September 2025. Proses penyebaran dilakukan melalui kelurahan dan kecamatan agar mencapai semua lapisan masyarakat.
“Kami sudah menyiapkan rencana jauh-jauh hari. Kami bersama dengan kelompok tani melakukan penanaman serentak di bulan Agustus. Sekarang sebagian besar sudah masuk masa panen,” ujarnya pada Senin (15/12/2025).
Antiek berharap, dengan adanya program ini, masyarakat dapat lebih mandiri dalam memenuhi kebutuhan akan cabai rawit. Terlebih, saat ini sedang mendekati momen perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026. Menurutnya, setiap individu cukup memiliki dua pohon cabai saja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Dari hasil pengawasan di lapangan, ada yang menanam dua pohon di polybag dan hasilnya mencapai satu kilo tiga ons. Meski hasilnya bervariasi, tetapi secara umum cukup menggembirakan,” tambahnya.
Selain itu, Pemkot Surabaya juga melakukan pemantauan intensif terhadap harga dan kualitas bahan pangan di pasar-pasar. Fokus utama pengawasan mencakup 12 komoditas utama, antara lain daging sapi, daging ayam ras, telur ayam ras, cabai rawit, cabai merah besar, bawang merah, bawang putih, kedelai, gula, dan minyak goreng. Pemantauan ini dilakukan untuk memastikan ketersediaan stok serta memastikan produk yang dijual layak konsumsi.
Antiek juga mengimbau masyarakat untuk berbelanja secara bijak. Ia menekankan pentingnya tidak melakukan pembelian berlebihan atau panic buying yang justru berpotensi menyebabkan food loss atau pemborosan.
“Belanja secukupnya saja. Selain menjaga ketersediaan pasokan, hal ini juga membantu menghindari pemborosan,” tutupnya.
Tinggalkan Balasan