Hari Tani Nasional 2025 Digegerkan Aksi Ekstrem, Aktivis Cor Tubuh dengan Semen di Depan Istana

Aksi Ekstrem untuk Peringatan Hari Tani Nasional

Pada peringatan Hari Tani Nasional yang jatuh pada hari Rabu (24/9), akan diwarnai dengan aksi yang tidak biasa. Muhammad Ridwan, seorang aktivis agraria dari Riau, rencananya akan melakukan aksi ekstrem dengan melapisi tubuhnya menggunakan semen di depan Istana Negara, Jakarta. Aksi ini dilakukan sebagai simbol perlawanan terhadap konflik agraria yang masih berlangsung tanpa penyelesaian, serta sebagai bentuk kritik terhadap lemahnya komitmen negara dalam menjalankan reforma agraria yang sebenarnya.

Ridwan menilai bahwa Indonesia saat ini sedang menghadapi kondisi darurat agraria. Ribuan petani, masyarakat adat, dan komunitas lokal masih terus berhadapan dengan berbagai masalah seperti kriminalisasi, perampasan lahan, hingga hilangnya ruang hidup mereka. Ia menilai bahwa pemerintah lebih sering memihak kepada korporasi besar daripada kepada petani kecil. Gugus Tugas Reforma Agraria (GTRA) yang dibentuk pemerintah dinilai tidak efektif, koordinasi antar kementerian lemah, dan konflik tanah semakin berlarut tanpa kepastian hukum.

Dengan aksinya ini, Ridwan berharap bisa bertemu langsung dengan Presiden Prabowo Subianto. Ia ingin menyampaikan aspirasi rakyat kecil sekaligus mendesak agar presiden mengambil langkah terobosan dalam menyelesaikan konflik agraria yang terjadi.

Ridwan mengusulkan pembentukan Badan Nasional Reforma Agraria (BNRA) di bawah kendali langsung Presiden. Badan ini harus memiliki kewenangan lintas sektor dan fokus pada lima agenda utama. Berikut adalah beberapa agenda utama yang diajukan:

  • Evaluasi dan pencabutan izin HGU/HTI yang bermasalah.
  • Redistribusi lahan telantar kepada petani.
  • Legalisasi tanah adat dan pemberian hak kelola ke komunitas lokal.
  • Penghentian kriminalisasi petani dan masyarakat adat.
  • Penegakan hukum terhadap pelanggaran agraria.

Menurut Ridwan, BNRA akan menjadi langkah nyata Presiden dalam menjalankan amanat Pasal 33 UUD 1945. Dengan membentuk BNRA, Presiden Prabowo menunjukkan keberpihakan sejati kepada petani, nelayan, dan masyarakat adat yang selama ini terpinggirkan.

Konflik Agraria Kian Meluas

Data dari organisasi masyarakat sipil menunjukkan bahwa konflik agraria terus meningkat dalam satu dekade terakhir. Masalah yang muncul meliputi perebutan lahan perkebunan, konsesi hutan tanaman industri, hingga proyek infrastruktur skala besar. Situasi ini memperburuk kondisi petani kecil dan komunitas adat yang sudah lama memperjuangkan hak atas tanah mereka.

Konflik agraria ini tidak hanya merugikan para petani dan masyarakat adat, tetapi juga berdampak pada stabilitas sosial dan ekonomi nasional. Mereka yang terkena dampak konflik ini sering kali kehilangan penghidupan, tempat tinggal, dan identitas budaya mereka.

Kondisi ini menunjukkan bahwa perlunya tindakan nyata dari pemerintah dalam menyelesaikan masalah agraria yang terus berkembang. Dengan adanya BNRA, diharapkan dapat menjadi solusi yang efektif dan berkelanjutan dalam menangani konflik agraria yang kompleks dan rumit.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *