Pentingnya Kontribusi Mahasiswa Baru dalam Membangun Lingkungan Kampus yang Aman
Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi, Beny Bandanadjaja, menekankan pentingnya peran aktif mahasiswa baru dalam Kampanye Nasional Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Lingkungan Perguruan Tinggi (PPKPT). Pernyataan ini disampaikan saat Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKMB) yang berlangsung di lapangan sepak bola kawasan kampus ITB Jatinangor, Senin 25 Agustus 2025.
PPKPT merupakan implementasi dari Permendikbudristek Nomor 55 Tahun 2024 yang bertujuan menciptakan lingkungan kampus yang aman dan inklusif. Salah satu bentuk penerapan adalah pembentukan Satgas PPKPT di setiap perguruan tinggi. Satgas ini memiliki tugas untuk mencegah, melaporkan, dan menangani kasus-kasus kekerasan.
“Kampus harus bersih dari semua bentuk kekerasan. Mahasiswa baru wajib menjadi bagian dari kampanye ini. Kita harus lawan semua bentuk kekerasan secara kolektif,” ujar Beny Bandanadjaja. Ia menekankan bahwa kampus adalah tempat seluruh harapan mengenai Indonesia Emas dirancang, diargumentasikan, dan dikritisi. “Karena itulah kampus wajib menjadi ruang akademis yang sehat, setara dan dewasa. Dari sini, kita meletakkan jalan Indonesia menuju masa keemasannya.”
Kampus bukanlah tempat yang mengizinkan praktik kekerasan. Upaya untuk menghilangkan praktik buruk tersebut akan lebih efektif jika dilakukan secara kolektif dan bersama-sama. Peran serta partisipasi aktif dari seluruh elemen kampus sangat penting dalam menjaga lingkungan yang aman dan nyaman bagi semua penghuninya.
Komitmen Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)
Di sisi lain, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) juga menegaskan komitmennya untuk tidak memberikan toleransi terhadap segala bentuk kekerasan dalam kegiatan orientasi kampus. Rektor UPI, Didi Sukyadi, menyatakan bahwa seluruh panitia telah menandatangani pakta integritas sebagai bentuk komitmen bersama untuk menciptakan kampus yang aman.
“Mereka sudah membuat kontrak kinerja, kesepakatan, pakta integritas bahwa mereka akan menghindari kegiatan yang menjurus kepada perpeloncoan dan kekerasan,” ujar Didi usai membuka kegiatan MOKA-KU (Masa Orientasi Kampus dan Kuliah Umum) UPI 2025.
Langkah-Langkah untuk Menciptakan Lingkungan Akademik yang Sehat
Beberapa langkah yang dapat dilakukan oleh universitas dan mahasiswa antara lain:
- Penguatan sistem pengawasan dan pelaporan kekerasan di lingkungan kampus.
- Pelatihan dan sosialisasi tentang hak dan tanggung jawab mahasiswa.
- Pembentukan forum diskusi dan dialog antar mahasiswa dan dosen.
- Peningkatan kesadaran dan pemahaman tentang isu kekerasan dan diskriminasi.
Dengan adanya komitmen dari berbagai pihak, diharapkan lingkungan kampus dapat menjadi tempat yang aman, nyaman, dan mendukung proses belajar mengajar yang optimal. Seluruh mahasiswa, baik lama maupun baru, harus memahami bahwa kampus adalah ruang yang harus bebas dari kekerasan dan diskriminasi.
Kesimpulan
Pengalaman dan peran mahasiswa baru sangat penting dalam upaya menciptakan lingkungan kampus yang sehat dan aman. Dengan partisipasi aktif dan kesadaran yang tinggi, mahasiswa dapat menjadi agen perubahan yang positif. Selain itu, dukungan dari pihak kampus dan lembaga pendidikan juga menjadi faktor penentu keberhasilan dalam menciptakan lingkungan akademik yang ideal. Dengan kolaborasi dan komitmen bersama, kampus dapat menjadi tempat yang layak untuk menumbuhkan generasi muda yang berkualitas dan berintegritas.
Tinggalkan Balasan