Inspiratif! Anak 3T Asal Nias Buktikan Bisa Koding dengan Seru

Pendidikan Digital di Pulau Nias: Kreativitas sebagai Jalan Menghadapi Tantangan

Di tengah gelombang digitalisasi yang semakin mengubah dunia pendidikan, keterampilan seperti koding dan kecerdasan artifisial (AI) kini mulai diajarkan di berbagai sekolah. Di kota besar, fasilitas yang memadai memungkinkan siswa untuk belajar dengan perangkat modern dan akses internet yang lancar. Namun, di Pulau Nias, situasinya jauh berbeda.

Infrastruktur internet yang belum merata, perangkat teknologi yang terbatas, serta guru yang masih dalam proses adaptasi terhadap kurikulum baru menjadi tantangan utama. Pertanyaannya adalah, apakah pelajar di daerah 3T seperti Pulau Nias bisa mempelajari koding dan AI sebagaimana teman-teman mereka di perkotaan?

Feberman Telaumbanua, seorang pendidik asal Nias, justru melihat keterbatasan ini sebagai kesempatan untuk berinovasi. Baginya, koding dan AI tidak selalu harus diajarkan melalui komputer atau laptop. Yang lebih penting adalah menanamkan pola pikir logis pada anak-anak sejak dini.

“Koding tidak selalu dimulai dari laptop atau komputer. Anak-anak bisa belajar berpikir logis lewat permainan, cerita, bahkan pengalaman sehari-hari,” ujar Feberman. Ia menyebut metode ini sebagai cara kreatif belajar digital.

Menurutnya, AI bukanlah sesuatu yang harus ditakuti. Teknologi ini justru membuka ruang baru dalam pendidikan jika digunakan dengan bijak dan diperkenalkan secara tepat kepada peserta didik. “Yang utama adalah bagaimana kita menggunakannya untuk melatih logika dan kreativitas anak. Itu yang harus diperkenalkan sejak dini.”

Di sekolah tempat ia mengajar, Feberman sering menggunakan kegiatan sederhana untuk menanamkan konsep koding. Misalnya, ia pernah meminta siswa menyusun langkah-langkah menyiapkan sarapan atau bermain engklek sebagai simulasi algoritma. Dengan demikian, anak-anak belajar bahwa setiap langkah harus urut dan logis agar tujuan tercapai—sebuah prinsip yang mirip dengan logika pemrograman komputer.

“Jika pola pikir logis sudah terbentuk, teknologi secanggih apa pun nanti akan lebih mudah dipelajari. Anak-anak di Pulau Nias punya potensi yang sama, tinggal bagaimana kita mengarahkan mereka dengan cara yang kreatif,” katanya penuh keyakinan.

Gagasan ini sejalan dengan semangat kesetaraan yang selalu ia dorong. Feberman percaya, anak-anak di daerah 3T seperti Pulau Nias berhak memiliki kesempatan yang sama untuk mengenal koding dan AI, meski tidak memiliki perangkat sebaik pelajar di kota. “Kesetaraan dalam pendidikan digital penting. Anak-anak di kota dan di pulau harus sama-sama bisa belajar koding dan AI. Bedanya hanya di fasilitas, tapi pola pikir bisa dibentuk di mana saja.”

Optimisme Feberman tidak datang begitu saja. Ia telah menunjukkan kiprahnya di berbagai ajang. Beberapa pencapaian yang ia raih antara lain nominasi Guru Kreatif Acer Smart School 2024, penulis buku pendamping siswa Koding dan KA, serta masuk dalam sepuluh besar Guru Inovatif Kategori SD Jambore GTK DKI Jakarta. Ia juga dikenal sebagai Sahabat Teknologi DKI Jakarta 2024, Scratcher Edukator, hingga peraih juara pertama Lomba Video Kreatif Pengajar Merdeka Gemilang.

Selain itu, Feberman sering diundang sebagai pembicara atau narasumber di berbagai forum, khususnya terkait topik koding dan AI. Ia juga aktif menulis di Surat Kabar Guru Belajar dan menjadi Peserta Favorit dalam ajang berbagi praktik baik di Guru Mengajar dan Diklatmandiri.id.

Semua pencapaian ini menunjukkan bahwa gagasan yang ia sampaikan berakar dari pengalaman nyata sebagai pendidik yang terus berinovasi. Bagi Feberman, masa depan pendidikan digital di Nias bukanlah hal yang mustahil. Selama guru dan pelajar mau membuka diri dengan cara kreatif, maka keterbatasan bukan lagi penghalang.

“Saya yakin, dari Nias juga bisa lahir anak-anak yang menguasai koding dan kecerdasan artifisial. Yang kita butuhkan adalah keberanian untuk mencoba dan kesediaan untuk berinovasi.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *