Pengungkapan Prostitusi Anak di Maai Mahiu, Kenya
Di kota Maai Mahiu yang terletak di Lembah Rift Kenya, transportasi utama menjadi jalur penting bagi pergerakan barang dan orang menuju berbagai negara seperti Uganda, Rwanda, Sudan Selatan, dan Republik Demokratik Kongo. Namun, di balik kehidupan kota ini, tersembunyi sebuah industri yang sangat gelap: prostitusi anak-anak.
Dalam investigasi yang dilakukan oleh jurnalis investigasi, ditemukan bahwa sejumlah perempuan, yang dikenal sebagai “madam”, melibatkan anak-anak berusia 13 tahun dalam perdagangan seks. Dua jurnalis menyamar sebagai pekerja seks untuk mempelajari lebih lanjut tentang aktivitas ini. Rekaman dari kamera tersembunyi menunjukkan dua perempuan yang mengakui tahu bahwa aktivitas mereka ilegal, namun tetap memperkenalkan para jurnalis kepada anak-anak di bawah umur.
Beberapa perempuan mengatakan bahwa mereka bisa mendapatkan penghasilan dari bisnis ini. Salah satu dari mereka, Nyambura, menjelaskan bahwa anak-anak mudah dimanipulasi dengan memberi mereka permen. Ia juga mengakui memiliki seorang gadis berusia 13 tahun yang bekerja selama enam bulan. Menurutnya, prostitusi sudah menjadi hal yang lumrah di Maai Mahiu.
Perdagangan anak di bawah umur dilarang oleh hukum nasional Kenya. Namun, di kota ini, tidak ada larangan khusus terhadap praktik tersebut. Hukum pidana menyebutkan bahwa hidup dari penghasilan prostitusi adalah ilegal, baik sebagai pekerja seks maupun pihak ketiga yang memfasilitasi atau mengambil untung darinya. Perdagangan atau penjualan anak di bawah umur dapat dihukum penjara antara 10 tahun hingga seumur hidup.
Ketika ditanya apakah kliennya menggunakan kondom, Nyambura mengatakan biasanya ia memastikan mereka memakainya, namun ada juga yang tidak. Ada anak-anak yang ingin mendapatkan penghasilan lebih, sehingga tidak menggunakan alat kontrasepsi. Ada pula yang terpaksa karena tekanan.
Dalam pertemuan lain, Nyambura membawa jurnalis investigasi ke sebuah rumah. Di sana, tiga gadis muda duduk meringkuk di atas sofa, sementara yang lain duduk di kursi keras. Mereka menggambarkan bahwa mereka sering dilecehkan untuk tujuan seks setiap hari. Salah satu dari mereka mengatakan bahwa klien memaksa mereka melakukan hal-hal yang tak terbayangkan.
Tidak ada data resmi mengenai jumlah anak yang dipaksa bekerja di industri seks Kenya. Pada 2012, laporan Departemen Luar Negeri AS menyebutkan sekitar 30.000 anak dipaksa dalam industri prostitusi. Angka itu didapatkan dari pemerintah Kenya dan LSM Eradicate Child Prostitution in Kenya yang sekarang tidak lagi beroperasi.
Selain itu, studi lain fokus pada wilayah-wilayah tertentu, terutama di sepanjang pesisir negara tersebut. Laporan dari LSM Global Fund to End Modern Slavery pada 2022 menemukan hampir 2.500 anak dipaksa menjadi pekerja seks di wilayah Kilifi dan Kwale.
Seorang perempuan bernama Cheptoo mengatakan bahwa menjual gadis-gadis muda memungkinkannya mencari nafkah dan hidup nyaman. Ia menjelaskan bahwa bisnis ini harus dilakukan secara rahasia karena ilegal. Ia juga memiliki pelanggan tetap yang selalu datang kembali.
Di sebuah klub, Cheptoo memperkenalkan empat gadis belia yang berada di bawah naungannya. Yang termuda mengaku berusia 13 tahun, sedangkan yang lain mengaku berusia 15 tahun. Ia berterus terang tentang keuntungan yang diperolehnya dari bisnis ini, yaitu 2.500 shilling Kenya dari setiap 3.000 shilling yang diperoleh dari pekerja seks.
Seorang mantan pekerja seks, yang dikenal sebagai “Baby Girl”, kini menyediakan tempat perlindungan di Maai Mahiu bagi para gadis yang lolos dari pelecehan seksual. Perempuan berusia 61 tahun ini bekerja di industri prostitusi selama 40 tahun. Ia kini membantu para korban dengan memberikan edukasi dan pelatihan keterampilan baru.
Beberapa korban menceritakan pengalaman mereka, mulai dari kekerasan dalam rumah tangga hingga pemerkosaan. Misalnya, Michelle mengatakan bahwa ia kehilangan kedua orang tuanya karena HIV dan kemudian diusir ke jalanan. Di sana, ia bertemu dengan seorang pria yang mulai melecehkan seksualnya.
Lilian, yang kini berusia 19 tahun, juga kehilangan orang tuanya pada usia yang sangat muda. Ia ditinggal bersama seorang paman yang merekamnya di kamar mandi dan menjual hasil rekamannya kepada teman-temannya. Tindakan voyeurisme itu segera berubah menjadi pemerkosaan.
Kini, di tempat tinggal Baby Girl, mereka mempelajari keterampilan baru—dua orang di studio fotografi dan dua lainnya di salon kecantikan. Mereka juga membantu Baby Girl dalam aktivitasnya memberi edukasi pada orang-orang sekitar.
Nakuru memiliki salah satu tingkat infeksi HIV tertinggi di Kenya, dan Baby Girl, yang didukung oleh USAID, memiliki misi untuk mendidik masyarakat tentang risiko hubungan seks tanpa pengaman. Namun, dengan keputusan Presiden AS Donald Trump untuk menarik pendanaan USAID, program ini akan segera dihentikan.
Untuk saat ini, Lilian fokus belajar fotografi dan memulihkan diri dari pelecehan. “Saya tidak takut lagi, karena Baby Girl ada untuk saya,” katanya. “Dia membantu kami mengubur masa lalu.”
Tinggalkan Balasan