Jakarta Berani Bertaruh pada Modifikasi Cuaca dengan Anggaran Rp 31 Miliar

Anggaran Rp 31 Miliar untuk Operasi Modifikasi Cuaca di Jakarta

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah menyiapkan anggaran sebesar Rp 31 miliar dari Dana Belanja Tidak Terduga (BTT) untuk pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Langkah ini diambil sebagai upaya mitigasi guna mengurangi risiko banjir yang semakin tinggi akibat intensitas hujan yang tinggi di Jakarta dan sekitarnya.

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menjelaskan bahwa OMC dilakukan dengan metode penyemaian awan hujan agar curah hujan dapat dialihkan ke wilayah laut atau area yang dinilai lebih aman. Dengan demikian, hujan tidak terkonsentrasi di kawasan Jakarta, sehingga mengurangi potensi banjir.

Operasi modifikasi cuaca ini melibatkan kerja sama antara berbagai lembaga, termasuk Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), serta TNI Angkatan Udara. Menurut Pramono, anggaran OMC kali ini tidak dibatasi hanya untuk beberapa kali pelaksanaan seperti tahun-tahun sebelumnya. Pemprov DKI memberikan fleksibilitas agar operasi tersebut dapat dilakukan secara berkelanjutan sesuai kebutuhan di lapangan.

“Anggarannya cukup besar. Karena sebelumnya anggaran hanya untuk modifikasi cuaca paling 3-4-5 kali. Tapi kali ini bisa sampai sebulan jika diperlukan,” ujar Pramono saat ditemui di Jakarta Pusat.

Antisipasi Hujan Ekstrem

Pramono menyatakan bahwa intensifikasi OMC dilakukan sebagai upaya mengantisipasi hujan ekstrem yang berpotensi memicu banjir. Hal ini dilakukan setelah terjadi hujan deras pada Sabtu dan Minggu lalu, yang mengguyur Jakarta sejak siang hingga malam hari. Pada saat itu, kondisi awan sangat pekat, sehingga OMC dilakukan hingga tiga kali dalam satu hari.

Operasi modifikasi cuaca telah dilaksanakan sejak tanggal 15 hingga 22 Januari 2026. Pramono mengaku khawatir jika hujan dengan intensitas serupa kembali terjadi. Ia menyebut curah hujan pada akhir pekan lalu merupakan yang tertinggi selama dirinya menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta.

Di wilayah Jakarta Utara, terdapat delapan titik pengukuran curah hujan dengan rata-rata mencapai 260 milimeter. Bahkan, di beberapa lokasi tercatat curah hujan hingga 280 milimeter.

Tanpa OMC, Banjir Bisa Lebih Parah

Pramono meyakini bahwa tanpa pelaksanaan OMC, banjir di Jakarta berpotensi lebih parah dan berlangsung lebih lama. Ia mencatat sebanyak 33 rukun warga (RW) sempat terdampak banjir akibat hujan ekstrem tersebut.

“Jika curah hujannya tinggi dan terjadi lagi pada hari Minggu, saya yakin banjir akan bertahan lebih lama di Jakarta,” ujarnya.

Ia bersyukur upaya modifikasi cuaca memberikan hasil positif. Setelah OMC dilakukan secara intensif, cuaca di Jakarta kembali cerah dan hujan tidak turun. Pramono juga membandingkan kondisi Jakarta dengan sejumlah wilayah di Pantai Utara Jawa. Menurut dia, saat ini hampir seluruh kawasan di sepanjang pantura masih dilanda banjir akibat curah hujan tinggi. Namun, kondisi Jakarta dinilai sudah kembali terkendali.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *