Jalan Menuju Wigan Pier: Penderitaan Penambang dan Penganggur yang Masih Relevan

Pengalaman Membaca Buku The Road to Wigan Pier

Buku berjudul The Road to Wigan Pier adalah buku keempat George Orwell yang pernah saya baca. Saya sudah selesai membaca Animal Farm dan seringkali mengulanginya. Namun, dua buku lainnya, Burmese Days dan 1984, masih belum selesai. Syukur, akhirnya saya bisa menyelesaikan The Road to Wigan Pier karena buku ini harus dikembalikan ke Perpustakaan Berjalan.

Berbeda dengan tiga buku sebelumnya, The Road to Wigan Pier merupakan karya nonfiksi. Ini adalah catatan perjalanan Orwell ke kota Wigan dan sekitarnya untuk menelusuri dan melihat langsung situasi para pekerja, terutama penambang batubara dan pengangguran di kota-kota industri Inggris Utara. Melalui buku ini, pembaca diajak memahami kondisi masyarakat yang hidup dalam kemiskinan dan kesengsaraan.

Deskripsi Pemondokan yang Menyedihkan

Pada bab pertama, Orwell mengajak pembaca menyimak situasi di sebuah pemondokan yang kumuh dan padat di Wuhan. Deskripsi yang diberikan sangat detail, hingga membuat pembaca merasa mual saat membacanya. Dari deskripsi itu, pembaca bisa membayangkan aroma yang pengap dan tidak sedap serta kondisi interior yang semrawut dan tidak nyaman. Para penghuni merasa tidak nyaman, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa karena jumlah hunian yang sangat terbatas dan uang yang mereka miliki juga pas-pasan. Di sisi lain, pemilik rumah merasa bahwa para pemondok seperti parasit meski mereka mendapat keuntungan dari menyewakan rumah tak layak huni tersebut.

Kehidupan Penambang Batubara

Pada beberapa bab berikutnya, Orwell mengajak pembaca untuk bersimpati kepada para penambang batubara. Pekerjaan ini sangat berat dan sengsara, terutama pada tahun 1930-an. Meskipun begitu, pekerjaan ini banyak ditawarkan di kota-kota industri Inggris Utara karena batubara menjadi sumber daya utama. Selain digunakan untuk perapian, batubara juga digunakan untuk menghadapi musim dingin yang keras.

Orwell mencoba menelusuri tambang selama beberapa jam dan setelahnya merasa pegal-pegal selama beberapa hari. Hal ini membuatnya memuji ketangguhan fisik para penambang. Tidak mudah bekerja berjam-jam dalam posisi membungkuk dan menghadapi ancaman atap yang bisa runtuh kapan saja. Setiap hari, para penambang seolah-olah menggadaikan nyawa mereka. Ledakan dan bencana bisa terjadi sewaktu-waktu, sementara keamanan dan jaminan kecelakaan kerja pada masa itu kurang diperhatikan.

Kemampuan Jurnalistik Orwell

Buku ini menunjukkan kemampuan Orwell sebagai jurnalis yang detail. Ia tidak ragu untuk tinggal di pemondokan kumuh dan mencoba masuk ke tambang batubara untuk mendapatkan gambaran riil tentang penderitaan para penambang. Dalam bab pertama, ia banyak membahas kemiskinan dan fenomena pengangguran yang terjadi setelah Perang Dunia Pertama. Depresi ekonomi terjadi di mana-mana, termasuk di Inggris. Banyak pengangguran yang hanya mendapatkan tunjangan dengan nominal kecil, sementara yang lain bekerja sebagai pekerja kasar dengan gaji minim.

Pembaca bisa melihat kepedulian Orwell terhadap nasib para pengangguran, gelandangan, dan buruh miskin. Baginya, kemiskinan bukanlah hasil dari kebodohan atau malas, melainkan sistem yang tidak adil. Mereka dibiasakan hidup dalam kondisi yang jauh dari kenyamanan. Tempat tinggal sempit, kumuh, dan berbagi ruang dengan banyak orang. Pakaian dan makanan mereka juga seadanya.

Kehidupan Buruh Kasar dan Pandangan Masyarakat

Bab-bab lainnya membahas kondisi kesejahteraan buruh kasar dan bagaimana masyarakat lain menganggap rendah mereka yang menganggur, menggelandang, dan bekerja kasar. Mereka dianggap bau, kotor, dan malas. Padahal, kenyataannya mereka terus berjuang untuk bertahan hidup. Ketika menganggur, mereka merasa putus asa dan tidak berdaya. Kondisi ini sangat menyiksa dan berbahaya bagi mereka.

Isi bab pertama membuat saya resah dan masygul. Kondisi ini masih relevan hingga saat ini. Banyak pengangguran di sekitar kita, bukan karena malas, tapi karena kondisi ekonomi yang sulit. Gaji UMR saat ini tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan pokok. Bahkan rumah pun sulit dijangkau oleh mereka yang berpenghasilan UMR.

Pandangan Orwell tentang Sosialisme

Pada bab kedua, Orwell lebih fokus pada sosialisme. Ia tampak tertarik dengan paham ini. Dengan jelas, ia menjelaskan alasan mengapa sosialisme tidak berhasil diterapkan. Utamanya karena banyak orang yang tidak menyukai pengusung ideologi ini, bukan isi dari ideologinya sendiri.

Bahasa dan Struktur Buku

Bahasa yang digunakan dalam buku ini lugas dan apa adanya, seperti jurnal dan laporan reportase. Ada rekap pengeluaran belanja para pengangguran serta detail upah mingguan penambang batubara. Ukuran huruf di buku ini relatif kecil dan rapat, sehingga membuat aktivitas membaca menjadi melelahkan. Perlu jeda setiap kali usai membaca satu bab karena nuansa dan isi bukunya suram.

Rekomendasi Buku

Bagi pecinta karya George Orwell, buku ini direkomendasikan. Pembaca bisa mendapatkan gambaran utuh tentang pandangan Orwell tentang kehidupan dan visinya setelah 1984 dan Animal Farm. Buku ini masih relevan dibaca saat ini, terutama karena kondisi yang dikisahkan di Wigan masih ada di sekitar kita.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *