Target Swasembada Pangan Jawa Tengah 2026
Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah memiliki rencana strategis untuk mencapai swasembada pangan pada tahun 2026. Rencana ini melibatkan tiga komoditas utama, yaitu padi, jagung, dan tebu. Target produksi yang ditetapkan adalah sebesar 10,5 juta ton gabah kering giling (GKG) untuk padi, 3,7 juta ton untuk jagung, serta 4,4 juta ton untuk tebu.
Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, menjelaskan bahwa penentuan target ini dilakukan bersamaan dengan penyusunan roadmap yang akan menjadi pedoman dalam mewujudkan swasembada pangan. Ia menekankan pentingnya kontribusi dari para bupati dan wali kota dalam menjaga luasan lahan, produk unggulan, pendistribusian barang, serta pemasaran. Selain itu, ia juga mengajak lembaga seperti Kodam dan Polda untuk berperan dalam upaya ini.
Daerah Prioritas Intervensi
Dalam upaya mencapai target tersebut, beberapa daerah di Jawa Tengah telah ditetapkan sebagai prioritas intervensi. Untuk sektor padi, terdapat 12 kabupaten yang menjadi fokus, antara lain Cilacap, Kebumen, Tegal, Brebes, Pemalang, Demak, Grobogan, Sragen, Sukoharjo, Blora, Rembang, dan Pati.
Untuk produksi jagung, daerah prioritas mencakup delapan kabupaten dengan total luas lahan sekitar 3.200 hektare, yaitu Blora, Boyolali, Brebes, Cilacap, Karanganyar, Kendal, Pemalang, dan Rembang. Sementara itu, untuk tebu, intervensi akan dilakukan di Kabupaten Blora.
Selain itu, Pemprov Jateng juga akan memaksimalkan 75 balai pertanian dan perkebunan yang tersebar di 35 kabupaten/kota. Langkah-langkah ini bertujuan untuk meningkatkan produktivitas sekaligus memastikan distribusi hasil panen yang lebih efisien.
Larangan Perubahan Lahan Pertanian
Luthfi juga memberikan instruksi keras terkait larangan perubahan lahan pertanian atau lahan hijau menjadi kawasan permukiman. Ia menyampaikan pesan ini secara berkala kepada para bupati dan wali kota serta telah berkoordinasi dengan Menteri ATR/BPN. “Jangan main-main soal ini. Kalau terbukti melanggar akan saya tindak,” tegasnya.
Selain itu, pihaknya juga sedang menyiapkan Peraturan Gubernur (Pergub) yang bertujuan untuk mengatur penjualan hasil panen padi di Jateng. Dengan adanya Pergub ini, diharapkan dapat memudahkan konsolidasi terkait penjualan hasil panen. “Intinya daerah Jawa Tengah harus terpenuhi dulu untuk kebutuhan pangan, sebelum dijual ke daerah lain,” tambahnya.
Pengembangan Sektor Peternakan dan Perikanan
Selain sektor pertanian dan perkebunan, Pemprov Jateng juga fokus pada pengembangan sektor peternakan. Target produksi susu mencapai 942.497 ton, daging sebesar 76.570 ton, dan telur sebanyak 917.863 ton. Di sisi lain, sektor perikanan dan kelautan juga mendapat perhatian khusus. Target produksi perikanan tangkap mencapai 354.029 ton, perikanan budidaya 600.000 ton, serta garam 541.775 ton.
“Kami ingin meningkatkan sentra garam rakyat di Rembang, Pati, Demak, Jepara, Brebes, Cilacap, dan Purworejo,” ujarnya.
Penekanan pada Sumber Pangan Lokal
Meski fokus pada beras dan jagung, Koordinator Nasional Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP), Said Abdullah, menyarankan agar Pemprov Jateng tidak hanya fokus pada dua komoditas tersebut. Menurutnya, Jawa Tengah memiliki sumber pangan lokal alternatif yang cukup beragam, seperti umbi-umbian dan kacang-kacangan seperti singkong, ubi jalar, kentang, talas, serta buah-buahan seperti pisang dan pepaya.
Ia menekankan pentingnya mengadopsi pendekatan pangan yang beragam dan lokal. “Jateng harus bertumpu pada sumber daya pangan yang bisa tumbuh di tingkat lokal dan beragam sehingga tidak tergantung pada karbohidrat seperti beras dan gandum saja,” katanya.
Menurutnya, jika masyarakat terbiasa mengonsumsi pangan lokal, maka adaptasi pangannya akan semakin kuat. Hal ini akan membantu mengurangi dampak gagal panen beras dan mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap beras. “Eksploitasi lahan pertanian akan berkurang jika masyarakat tidak hanya bergantung pada satu jenis pangan,” pungkasnya.
Tinggalkan Balasan