Ilustrasi gambar Ai
Forumnusantaranews.com- Pepatah lama “tangan kanan memberi, tangan kiri tidak boleh tahu” dulu menjadi fondasi moral dalam berbagi. Nilai itu menekankan keikhlasan memberi tanpa sorotan, tanpa eksposur, tanpa kepentingan lain di baliknya.
Namun, di era digital hari ini, makna tersebut kian tergerus. Aksi sosial tak lagi sekadar soal membantu, melainkan juga tentang bagaimana momen itu dikemas, direkam, dan dipertontonkan.
Kamera menyala sebelum bantuan diberikan, dan unggahan sudah disiapkan bahkan sebelum empati benar-benar dituntaskan.
Fenomena ini semakin menguat dengan maraknya konten kreator yang menjadikan kegiatan berbagi sebagai komoditas digital.
Memberi tak lagi sunyi, melainkan hadir dengan angle kamera, musik latar, dan narasi dramatis. Ironisnya, nilai bantuan yang diberikan kerap tak sebanding dengan keuntungan yang diraup dari monetisasi konten mulai dari adsense, endorse, hingga peningkatan popularitas.
Yang lebih mengkhawatirkan, pola ini tidak hanya berhenti pada kreator independen. Sejumlah pejabat publik kini ikut mengadopsi gaya serupa.
Dengan kekuasaan, akses, dan sumber daya yang dimiliki, aksi sosial yang semestinya menjadi bagian dari tugas dan tanggung jawab justru dikemas layaknya konten personal.
Publik pun mulai mempertanyakan, apakah ini bentuk transparansi, atau sekadar pencitraan yang dibungkus empati?. Kritik menguat ketika bantuan yang diberikan terlihat minimal, namun diproduksi menjadi konten yang maksimal.
Dengan modal relatif kecil, konten tersebut mampu menghasilkan keuntungan digital yang jauh lebih besar. Di titik ini, batas antara kepedulian dan eksploitasi menjadi kabur.
Yang terjadi saat ini adalah komersialisasi empati. Rasa kemanusiaan dijadikan bahan baku konten, sementara penderitaan orang lain berpotensi menjadi alat untuk mendulang keuntungan.
Lebih jauh, ketika pejabat publik ikut terlibat dalam pola ini, muncul persoalan etika yang lebih serius.
Jabatan yang seharusnya mengedepankan pelayanan justru berisiko berubah menjadi panggung personal branding. Hal ini dapat mengikis kepercayaan publik jika tidak disikapi dengan bijak.
Di tengah arus digitalisasi yang tak terhindarkan, masyarakat kini dihadapkan pada realitas baru, kebaikan yang ditampilkan belum tentu sepenuhnya tulus, dan ketulusan yang sejati justru sering kali tak terlihat.
Pertanyaannya sederhana namun mendasar, apakah kita masih memberi untuk membantu, atau mulai memberi untuk dilihat?.
Tinggalkan Balasan