Fokus pada Tugas Organisasi, PBNU Minta Jangan Terlibat dalam Polemik
Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Amin Said Husni, menegaskan bahwa seluruh jajaran PBNU sebaiknya tetap fokus pada penyelesaian tugas organisasi dan tidak terjebak dalam tuduhan atau polemik yang sedang berkembang. Pernyataan ini diambil sebagai bentuk respons terhadap isu-isu yang muncul belakangan ini.
Amin menyampaikan pernyataannya berdasarkan arahan langsung dari Ketua Umum PBNU, Yahya Cholil Staquf. Ia menekankan bahwa energi organisasi harus digunakan untuk kepentingan program dan pengembangan NU, bukan untuk merespons isu yang justru memperburuk suasana.
Mandat Kepemimpinan PBNU Tidak Bisa Dicabut oleh Forum Lain
Menurut Amin, baik Ketua Umum maupun Rais Aam memiliki mandat yang diberikan melalui Muktamar. Oleh karena itu, tidak ada forum lain di luar Muktamar Luar Biasa (MLB) yang memiliki kewenangan untuk mencabut mandat mereka.
“Rapat atau permusyawaratan apa pun selain muktamar tidak bisa memberhentikan rais aam maupun ketua umum,” ujarnya dalam keterangan tertulis.
Ia juga menjelaskan bahwa Rais Aam tidak dapat menyelenggarakan MLB secara sepihak. MLB hanya dapat dilaksanakan bersama dengan Ketua Umum PBNU dengan mekanisme yang sangat ketat dan diatur dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART).
Waktu Tersisa Hanya Satu Tahun
Masa jabatan kepengurusan PBNU saat ini akan berakhir pada Januari 2027. Dengan waktu tersisa sekitar satu tahun, Amin menilai bahwa energi organisasi sebaiknya difokuskan pada penyelesaian program dan persiapan menuju muktamar berikutnya.
Menurutnya, menghabiskan waktu untuk memelihara konflik hanya akan merugikan NU. “Untuk itu, jalan satu-satunya adalah islah sebagaimana nasihat ulama. Percuma memelihara perbedaan dan konflik, malah hanya mendatangkan mudarat,” katanya.
Menjaga Muruah dan Keberlanjutan Program
Amin berharap agar seluruh pihak dapat menahan diri dan menenangkan situasi demi menjaga muruah organisasi serta keberlanjutan program strategis NU menjelang akhir masa kepengurusan. Ia bahkan mengingatkan bahwa dalam tradisi para kiai, konflik yang dipelihara hanya akan membawa kesialan bagi siapa pun yang mengobarkannya.
“Bisa-bisa kena kualat,” katanya.
Penyerahan Problem kepada Para Kiai
Sebelumnya, Sekretaris Jenderal PBNU, Saifullah Yusuf atau Gus Ipul, juga menyerahkan sepenuhnya problematika pemakzulan terhadap Yahya Cholil Staquf kepada para kiai NU. Ia menyatakan bahwa NU adalah organisasi yang pimpinannya adalah para ulama, sehingga pihaknya hanya mengikuti keputusan para ulama.
PBNU menggelar rapat bersama alim ulama dan menyepakati bahwa tidak ada pemakzulan terhadap Yahya Cholil Staquf dari posisi ketua umum. Rapat tersebut dihadiri sekitar 50 ulama NU.
Isu Pemakzulan Mulai Berkembang
Isu pemakzulan bermula dari surat yang ditandatangani Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar pada 20 November 2025, berdasarkan musyawarah antara Rais Aam dan dua Wakil Rais Aam.
Gus Yahya sebelumnya didesak mundur karena mengundang akademisi yang disebut pro-Zionis, Peter Berkowitz dalam kegiatan Akademi Kepemimpinan NU (AKN) pada Agustus lalu, serta adanya dugaan persoalan tata kelola keuangan organisasi.
Tinggalkan Balasan