Larry Ellison dan Strategi Agresif Oracle dalam Dunia Kecerdasan Buatan
Di tengah dominasi tokoh-tokoh besar Silicon Valley seperti Elon Musk, Jeff Bezos, dan Mark Zuckerberg dalam wacana kecerdasan buatan (AI), seorang figur veteran kembali mengambil peran penting: Larry Ellison. Pemimpin sekaligus pendiri Oracle Corp., yang kini berusia 81 tahun, menempatkan perusahaan basis data raksasa itu pada taruhan terbesar dalam sejarahnya—membangun infrastruktur AI skala global.
Dalam era di mana permintaan komputasi untuk AI generatif sedang meledak, Oracle memilih jalur yang agresif. Perusahaan ini mengalokasikan belanja besar-besaran untuk pusat data, dengan tujuan utama melayani klien-klien seperti OpenAI. Pendekatan ini berbeda dari pesaing-pesaing lama yang lebih hati-hati, sehingga menjadikan Ellison kembali sebagai penentu arah di masa teknologi baru yang penuh risiko.
Oracle telah menandatangani kontrak sewa senilai sekitar 150 miliar dolar AS dalam periode tiga bulan hingga November. Sebagian besar dana tersebut dialokasikan untuk pengembangan pusat data. Jika rencana ini berjalan sesuai target, pendapatan Oracle diproyeksikan melonjak lebih dari dua kali lipat dalam beberapa tahun ke depan. Namun, arus kas perusahaan akan menghadapi tekanan dalam jangka menengah.
Keberanian Ellison tidak lahir begitu saja. Dikenal sebagai sosok yang sangat kompetitif sejak awal kariernya, ia sering diingat oleh mantan eksekutif Oracle, Craig Conway, yang menyebutnya sebagai orang paling kompetitif yang pernah ia temui. Reputasi ini dibangun melalui ekspansi agresif perangkat lunak basis data, termasuk beberapa kontroversi dengan regulator dan pesaing.
Pada tahap awal, pasar saham merespons langkah Oracle dengan antusias. Saham perusahaan melonjak tajam pada September setelah lonjakan pemesanan unit komputasi awan. Bahkan, Ellison sempat melampaui sahabatnya, Elon Musk, dalam indeks Bloomberg Billionaires Index sebagai orang terkaya di dunia, sebuah tanda kebangkitan kembali pengaruhnya.
Namun, kekhawatiran mulai muncul. Investor mempertanyakan tingginya utang dan kelayakan ekonomi pusat data berskala besar. Keraguan ini diperkuat oleh fakta bahwa OpenAI—klien terbesar Oracle—juga memiliki komitmen besar dengan Amazon Inc. dan CoreWeave Inc., sehingga memunculkan risiko penumpukan kapasitas.
Tekanan pasar terlihat jelas dari kinerja saham. Sejak mencapai rekor pada 10 September, saham Oracle telah turun sekitar 44 persen. Harga credit-default swaps perusahaan—indikator perlindungan gagal bayar—juga meningkat, menunjukkan meningkatnya kehati-hatian pelaku pasar terhadap kesehatan keuangan Oracle.
Di tengah gejolak ini, Ellison justru semakin memperkuat cengkeramannya. Ia meningkatkan porsi saham yang dikendalikan langsung dan mengawasi belanja perusahaan secara lebih ketat. Bahkan, eksekutif keuangan tertinggi kini melapor langsung kepadanya, melewati dua co-CEO yang dipersiapkan menggantikan Safra Catz.
Oracle sebenarnya telah mengantongi kontrak jangka panjang yang besar. Perusahaan melaporkan nilai pesanan tertunda mencapai 523 miliar dolar AS, sebuah modal penting untuk transformasi di era AI. Namun, eksekusi menjadi ujian sesungguhnya.
Jackson Ader, analis KeyBanc, menulis bahwa Oracle telah menandatangani cukup banyak bisnis untuk memuaskan investor, tetapi kemampuan atau probabilitas untuk mengeksekusi perjanjian tersebut telah menurun.
Karena itu, tahun 2026 akan menjadi titik penting bagi strategi agresif Larry Ellison. Apakah langkahnya mampu mengembalikan Oracle ke jajaran pemain utama teknologi global, atau justru memperlihatkan batas ketahanan model bisnis infrastruktur AI berbiaya sangat besar, akan menjadi pertanyaan besar yang harus dijawab.
Tinggalkan Balasan