Lebih dari 107 ribu hektare sawah Sumatera rusak akibat bencana

Kerusakan Sawah di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat Akibat Bencana Hidrometeorologi

Kementerian Pertanian (Kementan) mencatat bahwa lebih dari 107 ribu hektare sawah di wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat mengalami kerusakan akibat bencana hidrometeorologi yang terjadi pada akhir November 2025. Kerusakan tersebut menyebar dari kategori ringan hingga berat dan berdampak langsung terhadap produksi padi dan jagung di wilayah sentra pangan Pulau Andalas.

Data Kerusakan Sawah dan Dampaknya

Berdasarkan pendataan per 13 Januari 2026, luas sawah yang terdampak mencapai 107.324 hektare. Dari jumlah tersebut, sebanyak 56.077 hektare tergolong rusak ringan, 22.152 hektare rusak sedang, dan 29.095 hektare rusak berat. Kerusakan ini menyebabkan lahan padi dan jagung yang mengalami puso atau gagal panen mencapai sekitar 44,6 ribu hektare.

Kementan menyiapkan anggaran sebesar Rp 1,49 triliun untuk rehabilitasi lahan sawah yang rusak ringan dan sedang, perbaikan jaringan irigasi, bantuan benih tanaman pangan, serta penyediaan alat dan mesin pertanian (alsintan), pupuk, dan pestisida. Wilayah dengan tingkat kerusakan tertinggi menjadi prioritas penanganan.

Anggaran Pemulihan dan Usulan Tambahan

Selain anggaran yang telah tersedia, Kementan juga mengusulkan tambahan anggaran sebesar Rp 5,1 triliun agar pemulihan pertanian dapat berjalan menyeluruh di seluruh lokasi terdampak. Usulan tersebut mencakup beberapa bidang, antara lain:

  • Rehabilitasi tambahan lahan sawah senilai Rp 3,4 triliun
  • Rehabilitasi kawasan perkebunan sebesar Rp 456,4 miliar
  • Bantuan benih hortikultura sebesar Rp 19,1 miliar
  • Penyediaan pakan ternak sebesar Rp 262,8 miliar
  • Sarana dan prasarana pertanian sebesar Rp 674,7 miliar
  • Rehabilitasi bangunan dan sarana penunjang lainnya sebesar Rp 291 miliar

Pemulihan sektor pertanian membutuhkan sinergi dengan lembaga terkait, seperti Kementerian ATR/BPN untuk penataan ruang dan Kementerian PUPR untuk perbaikan jaringan irigasi, terutama untuk sawah yang mengalami kerusakan berat.

Dampak Bencana pada Sektor Pertanian Lainnya

Kerusakan akibat bencana tidak hanya terjadi pada sawah, tetapi juga menjalar ke sektor pertanian lainnya. Lahan perkebunan non-sawit seperti kopi, kakao, dan kelapa terdampak seluas 29.310 hektare. Lahan hortikultura rusak sebesar 1.803 hektare, dan lebih dari 820 ribu ekor ternak tercatat mati atau hilang.

Selain itu, Kementan juga mencatat kerusakan infrastruktur pertanian, meliputi:

  • 58 unit rumah potong hewan
  • Sekitar 2.300 unit alat dan mesin pertanian hilang
  • 74 Balai Penyuluhan Pertanian rusak
  • Tiga bendungan terdampak
  • Jaringan irigasi rusak sepanjang 152 kilometer
  • 820 unit jalan produksi terganggu

Dengan data yang telah dikumpulkan, Kementan terus berupaya untuk membantu memulihkan sektor pertanian di tiga provinsi terdampak. Langkah-langkah yang dilakukan meliputi optimasi anggaran APBN 2026 dan pengajuan anggaran tambahan agar pemulihan dapat berjalan secara efektif dan merata.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *