Ledakan di SMAN 72 Jakarta, Refleksi Pendidikan Karakter : Ketika Sekolah Tidak Memberi Rasa Aman, Mencintai dan Menghargai

Ilustrasi gambar

Forumnusantaranews.com- Ledakan yang mengguncang SMA Negeri 72 Jakarta bukan sekedar peristiwa kriminal atau pelanggaran disiplin melainkan alaram moral bagi dunia pendidikan kita.

Dibalik dentuman itu, mungkin ada jeritan sunyi seorang anak yang lama tak terdengar mungkin ada amarah yang tak terkelola. Mungkin juga ada rasa sakit karena perundungan yang diabaikan. Sekolah yang seharusnya menjadi ruang tumbuh, justru menjadi tempat luka batin yang tak tertangani.

Sekolah seringkali selalu sibuk dengan angka, nilai ujian, rengking, akreditasi dan capaian administratif lainnya. Sehingga lupa mendengar bisikan kecil dari anak yang terluka secara emosional.
Mereka berjalan di koridor sekolah, tersenyum didepan guru, tapi di dalam hatinya menyimpan kecewa, rasa terasing dan amarah yang tak tertuntaskan, dan ketikan ledakan itu terjadi, itu bukan sekedar reaksi spontan melainkan simbol dari sistem pendidikan yang kehilangan kepekaan nurani.

Berikut 5 poin kritis berdasarkan perspektif pendidikan karakter.

1. Sekolah butuh lebih dari sekedar cctv.

Sekolah memasang kamera disetiap sudut untuk memantau keamanan fisik tapi lupa bahwa pengawasan terbaik bukan pada alat melainkan pada hati yang peka. Guru, wali kelas dan teman sebaya adalah detektor manusiawi yang seharusnya mampu membaca perubahan perilaku keheningan yang tak biasa atau tatapan mata yang menyimpan kesedihan.

2. Guru bukan hanya pengajar tapi penjaga jiwa.

Guru sejati bukan hanya yang pandai mengajar tapi yang mendengar lebih banyak daripada berbicara, ia peka ketika seorang siswa tampak menjauh dari kelompok atau sering duduk sendiri di pojok kelas. Pendidikan karakter bukan sekedar slogan di spanduk tetapi wujud nyata dalam perhatian dan kasih sayang diruang kelas dalam kasus ini kita perlu bertanya jujur apakah guru BK, wali kelas dan pimpinan sekolah telah menjalankan peran pembinaan sosial dan emosional dengan sepenuh hati atau hanya sebatas formalitas jadwal administrasi.

3. Orang tua dan Sekolah dua sisi tanggung jawab yang tak terpisahkan.

Banyak kasus di sekolah berawal dari miskomunikasi antara rumah dan lembaga pendidikan, anak menjadi korban dari dua dunia yang tak sinkron, rumah yang sibuk dan sekolah yang kaku. Maka kolaborasi antara guru dan orang tua bukanlah pilihan melainkan kebutuhan. Ketika komunikasi ini lemah anak kehilangan dua hal sekaligus, tempat pulang dan tempat berkembang.

4. Pendidikan yang menyembuhkan.

Setiap krisis dalam dunia pendidikan mestinya menjadi pintu untuk intropeksi, bukan untuk mencari kambing hitam. Ledakan di SMAN 72 Jakarta harus menyadarkan sekolah bahwa pendidikan yang menyembuhkan (healing education) adalah kebutuhan mendesak, sekolah harus menjadi ruang aman bagi setiap anak untuk merasa diterima bukan dihakimi. Program pembinaan karakter, konseling dan spiritualitas perlu dihidupkan kembali, bukan sebagai kegiatan seremonial, melainkan sebagai jantung kehidupan sekolah.

5. Menata kembali sekolah sebagai rumah ke dua.

Peristiwa yang terjadi di SMAN 72 Jakarta bukan akhir, tetapi peringkat keras agar sekolah kembali ke fitrah nya tempat tumbuhnya manusia bukan sekedar lulusan. Disana harus ada cinta, keadilan, pengawas yang manusiawi dan solidaritas sosial yang kuat, setiap guru harus menyalakan kembali api empati didalam dirinya. Sebab, tanpa itu seluruh sistem pendidikan akan kehilangan makna. Anak-anak tidak hanya belajar dari apa yang diajarkan tetapi anak-anak belajar dari bagaimana mereka diperlakukan.

Sebagai kesimpulan refleksinya, peristiwa ledakan di SMAN 72 Jakarta hanyalah satu titik dari sekian banyak tanda bahwa kita sedang kehilangan arah kemanusiaan dalam pendidikan. Kini saatnya sekolah tidak hanya berlomba dalam presentasi akademik tetapi juga dalam membangun budaya peduli, komunikasi, empatik dan kehangatan sosial. Karena sejatinya pendidikan yang hebat adalah pendidikan yang membuat anak merasa aman, dicintai dan dihargai.

 

Sumber : Engran Silalahi guru peradaban Indonesia dari Sumatera Utara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *