Inovasi Mahasiswa Telkom University dalam Berbagai Bidang
Di pusat inkubasi Bandung Techno Park, mahasiswa Telkom University (Tel-U) terus mengembangkan beragam inovasi yang menawarkan solusi untuk berbagai masalah di masyarakat. Salah satu proyek yang sedang dikembangkan adalah regulator gas elpiji canggih yang dirancang untuk mengurangi risiko kebocoran gas tabung.
Regulator Gas Elpiji Canggih dengan Teknologi Terkini
Arillian Dylan Nugraha, mahasiswa S1 Teknik Elektro, menjelaskan bahwa timnya yang terdiri dari delapan orang dari berbagai program studi telah bekerja selama 10 bulan untuk menciptakan purwarupa regulator ini. Alat tersebut dilengkapi sensor yang mampu mendeteksi kebocoran gas dan terhubung dengan jaringan Wi-Fi.
“Sistem akan memberikan notifikasi melalui aplikasi mobile kepada pengguna jika terjadi kebocoran,” ujarnya. Selain itu, regulator ini juga memiliki fitur otomatis yang memungkinkan alat terlepas secara otomatis ketika gas terdeteksi bocor.
Dalam proses desain, tim harus memastikan bahwa regulator tetap kompak dan mudah digunakan agar tidak membuat pengguna merasa kewalahan dengan teknologi yang canggih. Selain itu, komponen yang digunakan harus teruji keamanannya. Untuk strategi pemasaran, mereka menargetkan kalangan menengah ke atas dengan harga sekitar Rp 450-500 ribu.
Aplikasi Pendidikan Berbasis AI
Selain itu, Annisa Fauziah, mahasiswi S2 Cyber Security dan Digital Forensik, bersama timnya mengembangkan inovasi teknologi pendidikan dengan integrasi artificial intelligence (AI) dan pesan instan. Aplikasi yang diberi nama Akses Belajar dirancang untuk mengatasi kesenjangan pendidikan, terutama bagi siswa di daerah yang sering menghadapi kendala spesifikasi perangkat.
“Aplikasi ini memungkinkan siswa untuk menanyakan materi atau soal kepada AI,” kata Annisa. Pada tahap awal, fokus layanan ini adalah pada bidang sains, teknologi, engineering, dan matematika (STEM) untuk pelajaran sekolah maupun persiapan ujian masuk perguruan tinggi.
Aplikasi ini akan memberikan jawaban lengkap beserta langkah-langkah penjelasan, serta mengubah catatan siswa menjadi soal latihan. Selain itu, aplikasi ini juga akan memberikan analisis personal mengenai kekuatan dan kelemahan siswa, yang menjadi dasar latihan harian berbasis kemampuan.
Tim berharap platform Akses Belajar dapat digunakan secara luas pada April 2026.
Aplikasi Lumif untuk Pemulihan Kebiasaan Digital
Wisnu Adi Sanjaya dan tim lainnya mengembangkan aplikasi bernama Lumif yang menggabungkan AI dengan pendekatan psikologi. Tujuan dari aplikasi ini adalah untuk membantu individu dalam proses pemulihan kebiasaan digital secara lebih terstruktur, privat, dan konsisten.
Lumif tidak dimaksudkan untuk menggantikan peran psikolog atau tenaga profesional kesehatan mental, tetapi sebagai sistem pendamping yang membantu individu meningkatkan kesadaran diri dan konsistensi dalam perubahan perilaku.
Fokus utama aplikasi ini adalah isu pornografi karena melihat adanya kesenjangan antara kebutuhan pemulihan dan ketersediaan solusi yang tepat. Di era digital, akses terhadap konten pornografi semakin mudah, sehingga kebiasaan tersebut bisa berkembang menjadi pola perilaku yang sulit dikendalikan.
Namun, banyak individu mengalami kesulitan untuk mencari bantuan karena stigma sosial, rasa malu, dan kekhawatiran akan penilaian negatif dari lingkungan sekitar. Hal ini menyebabkan permasalahan tersebut sering dipendam dan jarang dibicarakan secara terbuka.
Tinggalkan Balasan