Mengenal Observatorium Mini di Kampus Unisba

Observatorium Kampus di Indonesia: Wadah Pembelajaran dan Pengamatan Benda Langit

Beberapa perguruan tinggi di Indonesia memiliki observatorium yang digunakan sebagai tempat pengamatan benda langit. Selain menjadi wahana pembelajaran astronomi bagi mahasiswa dan pelajar, observatorium kampus juga sering dimanfaatkan untuk pengamatan hilal atau bulan baru dalam kalender Islam. Salah satu contohnya adalah Observatorium Mini Albiruni yang berada di Universitas Islam Bandung (Unisba).

Pada tanggal 17 Februari 2026, Observatorium Mini Albiruni digunakan untuk pengamatan bersama terhadap hilal 1 Ramadan. Tim pengamat terdiri dari berbagai instansi seperti Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Bandung, Fakultas Syariah Islam Unisba, Kementerian Agama, serta undangan lainnya. Tiga teleskop portabel dipasang mengarah ke barat, sementara satu teleskop statis ditempatkan di dalam kubah dengan diameter 3 meter.

Observatorium mini tersebut berada di atap gedung Fakultas Kedokteran Unisba yang berada di Jalan Taman Sari 22, setinggi 9 lantai atau sekitar 750 meter dari permukaan laut. Menurut pengelola observatorium, Fahmi Fatwa Rosyadi Satria Hamdani, observatorium ini dibangun pada tahun 2022 sebagai wadah pembelajaran dan laboratorium ilmu falak. Nama Albiruni diambil dari nama seorang tokoh astronom muslim terkenal.

Biasanya, pengamatan hilal dilakukan di lokasi seperti Cirebon atau Pelabuhan Ratu. Namun, observasi tidak dilakukan setiap bulan, melainkan hanya pada waktu tertentu seperti awal Ramadan, Syawal, dan Zulhijah. “Selain itu, kami juga mengumpulkan data untuk keperluan pembelajaran,” kata Fahmi.

Observatorium Albiruni dilengkapi dengan teleskop yang mampu secara otomatis mengikuti pergerakan Bulan (auto tracking), sehingga memudahkan pengamatan permukaan Bulan. Namun, untuk pengamatan benda langit lainnya, observatorium ini menghadapi tantangan seperti polusi cahaya dan udara dari Kota Bandung.

Menurut Profesor riset astronomi dan astrofisika dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Thomas Djamaluddin, tren pendirian observatorium di perguruan tinggi mulai meningkat sejak 2010-an. “Khususnya di kampus-kampus yang memiliki program studi terkait ilmu falak,” katanya.

Thomas menyebutkan beberapa observatorium mini yang ada di berbagai kampus, seperti di Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang, Unisba, Universitas Ahmad Dahlan, Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara, dan Universitas Muhammadiyah Makassar. Selain itu, terdapat pula observatorium astronomi Institut Teknologi Sumatera di Lampung.

Penggunaan observatorium kampus umumnya untuk edukasi dan pelatihan astronomi serta pengamatan hilal. Thomas menilai bahwa pembuatan observatorium ini merupakan upaya untuk meningkatkan pemahaman tentang ilmu falak dan astronomi bagi mahasiswa maupun masyarakat luas. “Observatorium universitas juga seharusnya bisa dimanfaatkan untuk edukasi fakultas sains,” ujarnya.

Selain Observatorium Albiruni, terdapat juga observatorium lainnya seperti yang dimiliki oleh Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta. Observatorium berbentuk kubah setengah bola ini diresmikan penggunaannya pada tahun 2023. Aktivitas pengelolaannya mencakup pendidikan dan pelatihan, penelitian benda-benda langit oleh dosen dan tugas akhir mahasiswa bidang astronomi, pengembangan sistem kendali piranti astronomi menggunakan Internet of Things (IoT), serta pengamatan hilal untuk menentukan awal bulan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *