Perusahaan Modal Ventura dan Private Equity Indonesia Pilih Singapura sebagai Basis Operasional
Sejumlah perusahaan modal ventura dan private equity asal Indonesia memilih Singapura sebagai basis operasional. Di sisi lain, pemerintah sedang menyiapkan insentif untuk menarik dana Warga Negara Indonesia (WNI) yang berada di luar negeri kembali ke Tanah Air.
Salah satu contoh adalah Sriwijaya Capital, sebuah perusahaan private equity yang didirikan oleh Arsjad Rasjid, mantan Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia. Perusahaan ini memilih Negeri Singa sebagai markas utamanya. Kehadiran Sriwijaya Capital di Singapura semakin memperkuat tren perusahaan lokal yang memilih Singapura sebagai pusat operasional.
Sebelumnya, menantu konglomerat TP Rachmat, Patrick Walujo, bersama rekan kerjanya Glenn Sugita mendirikan Northstar Group. Selain itu, nama-nama seperti Provident Capital Partners, East Ventures yang didirikan oleh Wilson Cuaca, hingga Kejora Capital juga memilih Singapura sebagai basis operasionalnya.
Kenapa Singapura Jadi Pilihan?
Singapura telah memiliki reputasi sebagai pusat keuangan baik secara regional maupun global. Investor atau keluarga konglomerat merasa aman menyimpan atau menginvestasikan uang mereka di negara tersebut. Reputasi ini didapatkan seiring dengan sejumlah keunggulan kompetitif yang dimiliki.
Menurut laporan Asean Briefing, salah satu keunggulan Singapura adalah regulasi yang kokoh. Negara ini secara konsisten menempati peringkat atas dalam yurisdiksi keuangan global. Dalam Global Financial Centres Index (GFCI) terbaru, Singapura berada di peringkat ke-4, unggul dari sejumlah pesaing di Asia, termasuk Hong Kong yang menempati posisi ke-5.
Selain itu, tarif pajak korporasi Singapura sebesar 17% lebih kompetitif dibandingkan Malaysia (24%) maupun Indonesia (22%). Berbagai skema insentif, seperti Financial Sector Incentive (FSI) dan pembebasan pajak untuk manajemen kekayaan, semakin memperkuat daya tariknya.
Singapura juga memiliki keunggulan dari sisi sumber daya manusia dan pendidikan terkait. Sektor keuangan Singapura mempekerjakan sekitar 190.000 profesional. Dukungan institusi pendidikan ternama seperti National University of Singapore (NUS), Nanyang Technological University (NTU), dan INSEAD menyediakan program pelatihan finansial kelas dunia.
Lebih lanjut, infrastruktur modern Singapura, seperti Bandara Changi yang termasuk salah satu tersibuk di dunia, serta kecepatan internet tercepat secara global, memudahkan transaksi keuangan dan konektivitas lintas negara.
Insentif Repatriasi Dana WNI
Di sisi lain, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan bahwa pemerintah tengah menyiapkan insentif khusus untuk menarik dana milik WNI dari luar negeri. Meski demikian, Purbaya hingga kini belum memerinci lebih lanjut terkait dengan rencana tersebut meski optimistis realisasinya bisa dilakukan dalam waktu satu bulan ke depan.
“Bagaimana menarik uang-uang dolar yang orang suka taruh di luar balik ke sini. Tapi masih belum matang, masih kita matangkan lagi. Tapi kalau saya lihat rencananya cukup bagus sekali, jadi kemungkinan bisa dijalankan dalam waktu mungkin satu bulan ke depan, itu utamanya,” jelas Purbaya pada pertengahan September 2025 lalu.
Purbaya juga memastikan bahwa hal tersebut akan ditempuh dengan mekanisme pasar. Dia menegaskan cara yang ditempuh pemerintah untuk menarik investor itu bukan dengan paksaan. Purbaya menyebut pemerintah akan memikirkan insentif yang bisa membuat orang Indonesia lebih suka menaruh dolarnya di dalam negeri, dibandingkan di luar.
Dia mengaku baru tahu bahwa setiap bulannya banyak investor domestik yang mengirimkan dolarnya ke luar negeri, termasuk ke kawasan ASEAN. “Uang-uangnya utamanya ke beberapa negara di kawasan sini. Jadi kita akan menjaga itu dengan memberikan insentif yang menarik, sehingga mereka nggak usah capek-capek kirim dolarnya ke luar, itu utamanya,” ungkap Purbaya.
Tinggalkan Balasan