Peristiwa Mengerikan di Sekolah Negeri 2 Pandan Nauli
Pada peringatan hari guru yang jatuh pada 25 November lalu, 600 siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 2 Pandan Nauli, Kecamatan Pandan, Kabupaten Tapanuli Tengah mengalami momen tak terlupakan. Tidak hanya para siswa, tetapi juga guru dan kepala sekolah merasakan pengalaman yang sangat mendalam.
Pagi itu, suasana begitu meriah. Sebagian pelajar sudah memakai pakaian adat menjelang upacara. Mereka juga menyiapkan hadiah sederhana untuk guru-guru mereka. Namun, tiba-tiba suasana berubah menjadi mencekam. Suara dari pengeras suara seorang guru perempuan meminta siswa yang berada di ruang kelas di bawah bukit segera turun ke bawah.
Air hujan yang turun dari bukit membawa lumpur ke lapangan upacara. Para guru langsung mengambil tindakan dengan mengevakuasi seluruh siswa ke lapangan futsal. Tak lama kemudian, tanah mulai menghantam ruangan laboratorium sekolah hingga hancur. Longsor juga merusak enam kelas yang berada di dekat bukit serta di bawahnya.
Kepala Sekolah SMP Negeri 2 Pandan Nauli, Nur Ikfan Santoso, mengatakan bahwa kejadian ini terjadi pada Selasa 25 November lalu, sekitar pukul 08.00 WIB. Ia telah memperkirakan hal ini karena ada tanda-tanda sebelumnya. “Beberapa guru memberi tahu saya bahwa lumpur masuk ke halaman sekolah, artinya di atas akan longsor,” katanya.
Para guru langsung bertindak cepat dengan mengeluarkan siswa dari kelas di atas ke bawah. Tidak ada korban jiwa maupun luka dalam peristiwa ini, namun trauma masih terasa di hati siswa dan guru. Banyak siswa harus menunggu hingga empat hari sebelum dijemput orang tua akibat banjir yang melanda wilayah tersebut.
Minggu tanggal 30 November, Nur Ikfan menghubungi Basarnas untuk memastikan tidak ada siswa yang hilang. Setelah diberitahu bahwa tidak ada laporan kehilangan anak, ia sedikit lega. “Bahkan ada siswa yang baru dijemput pada hari Sabtu,” ujarnya.
Di lokasi kejadian, sebagian ruangan laboratorium Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) hancur akibat longsor. Atapnya terlepas dan mengenai ruangan di bawahnya. Enam kelas lainnya juga mengalami kerusakan parah, dengan dinding retak dan hampir roboh.
Proses belajar mengajar dihentikan selama dua minggu karena kondisi sekolah tidak memungkinkan dan hampir semua rumah siswa terendam banjir. Saat ini, proses belajar dilakukan secara online hingga akhir Desember. Namun, banyak handphone orang tua siswa rusak akibat bencana.
Nur Ikfan berharap bantuan dari pemerintah untuk membangun kembali ruangan yang rusak. Ia juga membuka donasi melalui akun Facebooknya. Hasil donasi akan digunakan untuk membeli perlengkapan sekolah yang hilang akibat bencana.
“Kami berharap melalui Tribun Medan, harapan kami didengar langsung oleh bapak menteri pendidikan dasar dan menengah. Semoga beliau segera meninjau kondisi sekolah kami dan kami berharap anggaran 2026 sekolah ini dibangun kembali agar anak-anak bisa belajar nyaman seperti sedia kala,” harapnya.
Tinggalkan Balasan