Pengukuhan Imam Besar Masjid Raya Baiturrahman: Persatuan di Tengah Perbedaan
Pada Rabu sore, 13 Agustus 2025, suasana di dalam Masjid Raya Baiturrahman terasa khusyuk dan penuh antusiasme. Jamaah yang hadir memenuhi shaf-shaf masjid menyaksikan pengukuhan Tgk H Muhammad Ali atau lebih dikenal dengan sebutan Abu Paya Pasi sebagai Imam Besar Masjid Raya Baiturrahman. Acara ini dilakukan oleh Gubernur Aceh Muzakir Manaf alias Mualem.
Peristiwa ini tidak hanya menjadi momen penting bagi masyarakat Aceh, tetapi juga menjadi pertemuan dua tokoh yang memiliki latar belakang politik berbeda. Mereka adalah Gubernur Aceh Muzakir Manaf alias Mualem, yang saat ini menjabat sebagai Ketua DPP Partai Aceh, serta Tgk H Tu Bulqaini Tanjongan, Ketua Umum Majelis Partai Adil Sejahtera (MPP-PAS Aceh).
Dalam pidatonya, Gubernur Mualem menggunakan bahasa Aceh yang kental sambil membawakan guyonan. Ia memanggil nama Tu Bulqaini dengan penuh hormat. “Yang kita hormati Tu Bulqaini. Tu, ini cita-cita kita waktu Pilkada 2017,” katanya, merujuk pada komitmen mereka untuk memperkuat Ahlusunnah wal Jama’ah di Aceh.
Mualem mengakui bahwa perjuangan tersebut belum berhasil pada masa itu. “Tapi tidak berhasil saat itu. Kali ini harus berhasil Tu. Tu berdiri di depan,” ujarnya sambil tersenyum, disambut pekikan takbir dari jamaah yang hadir.
Pernyataan ini menjadi tanda kuat bahwa perbedaan pilihan politik di masa lalu tidak menghalangi semangat persatuan demi tujuan bersama. Mualem melanjutkan dengan filosofi hidup sederhana yang ia ungkapkan dalam bahasa Aceh yang kental: “Itulah sejarah, berganti dan bertukar. Seperti kata Abu Paya Pasi tadi. Hidup kita ini seperti ban sepeda. Ada saatnya di atas dan adakalanya di bawah.”
Persahabatan dan kerja sama antara Mualem dan Tu Bulqaini bukanlah hal baru. Pada Pilkada 2017, Tu Bulqaini yang saat itu dikenal sebagai ulama muda dan pimpinan Dayah Markaz Ishlah Al Aziziyah Banda Aceh, menjadi bagian dari tim inti pemenangan Mualem sebagai calon gubernur Aceh yang berpasangan dengan TA Khalid.
Namun, pasangan yang mereka usung kalah dari pasangan Irwandi Yusuf-Nova Iriansyah. Pada Pilkada 2024, arah politik keduanya berseberangan. Mualem kembali maju sebagai calon gubernur Aceh berpasangan dengan Fadhlullah (Dek Fadh). Sementara itu, Tu Bulqaini, yang sudah menjabat Ketua Umum PAS Aceh—partai berbasis santri—memilih mendukung pasangan Bustami Hamzah-Tgk H Muhammad Yusuf A Wahab atau Tu Sop Jeunieb yang kemudian diganti dengan Syech M Fadhil Rahmi karena Tu Sop meninggal dunia.
Pilihan ini tidak lepas dari amanah gurunya agar mendukung Tu Sop Jeunieb yang merupakan Ketua Pengurus Besar Himpunan Ulama Dayah Aceh (PB HUDA). Perbedaan pandangan ini sempat memanaskan suasana politik Aceh, tetapi tidak menghilangkan rasa saling menghormati di antara keduanya.
Singa Aceh: Dari Perang ke Dakwah
Keduanya sering disebut sebagai “singa Aceh”. Mualem adalah mantan Panglima Gerakan Aceh Merdeka (GAM) sekaligus Ketua Umum DPP Partai Aceh. Sementara, Tu Bulqaini adalah mantan Panglima Rabithah Taliban Aceh (RTA) yang menempuh jalur dakwah dan pendidikan.
Pada masa kepemimpinan Tu Bulqaini, RTA aktif menuntut pemerintah pusat untuk melaksanakan Referendum sesuai tuntutan masyarakat Aceh. Perjalanan mereka seolah menggambarkan makna surah At-Taubah ayat 122: bahwa tidak semua orang harus turun ke medan perang, tetapi sebagian harus mendalami ilmu agama untuk memberi peringatan kepada kaumnya.
Tinggalkan Balasan