Mukesh Ambani: AI akan dorong ekonomi global 3x dalam 30 tahun ke depan

Kecerdasan Buatan sebagai Pendorong Transformasi Ekonomi Global

Ketua Reliance Industries Limited, Mukesh Ambani, menyatakan bahwa kecerdasan buatan (AI) akan menjadi kekuatan utama dalam mengubah perekonomian dunia dalam tiga dekade mendatang. Ia menilai AI memiliki potensi untuk melipatgandakan ukuran total perekonomian global dari sekitar 110 triliun dolar AS saat ini menjadi hampir 300 triliun dolar AS.

Dalam diskusi intens bersama Larry Fink, Chairman dan Direktur Utama BlackRock, perusahaan pengelola aset terbesar di dunia, Ambani menjelaskan keyakinannya bahwa revolusi AI bukan hanya sekadar inovasi teknologi, tetapi juga fondasi struktural untuk pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Ia menegaskan bahwa tanpa adopsi teknologi ini secara luas, tantangan besar seperti kesehatan, pendidikan, dan stabilitas sistem pajak tidak akan dapat diselesaikan secara efektif.

Ambani menekankan pentingnya bagi India untuk menerima perubahan teknologi dan tidak takut pada AI. Menurutnya, sejarah revolusi industri menunjukkan bahwa adaptasi teknologi merupakan kunci percepatan produktivitas. “Kita tidak boleh takut pada AI. Teknologi ini nyata dan bagi India, hal ini sangat menguntungkan,” ujarnya dalam sesi diskusi tersebut.

Ia menjelaskan bahwa PDB global saat ini mencapai sekitar 110 triliun dolar AS, dan dengan peningkatan produktivitas melalui AI, angka ini bisa berkembang menjadi hampir 300 triliun dolar AS dalam tiga dekade mendatang. “Dengan produktivitas yang didorong AI, kita dapat melihat dunia dengan ekonomi bernilai sekitar 300 triliun dolar AS dalam tiga dekade mendatang,” tegasnya.

Selain itu, Ambani menyoroti peluang besar yang terbuka bagi India dalam peta ekonomi global ini. Ia memperkirakan bahwa India dapat mengambil bagian signifikan dari pertumbuhan tersebut dengan berpotensi menciptakan nilai ekonomi baru sekitar 30–35 triliun dolar AS melalui pengembangan sektor teknologi dan peningkatan kapasitas produksi.

Dalam pandangannya, ekosistem startup India memainkan peran kunci dalam memanfaatkan peluang ini. Ambani menyatakan bahwa sektor startup memberikan energi baru terhadap inovasi dan kemampuan bersaing global. “Industri startup adalah aspek cerita pertumbuhan India yang paling membuat saya bersemangat. Saya bisa melihat dengan jelas akan munculnya 100 Reliance baru,” ujarnya.

Respons dari Larry Fink terhadap komentar Ambani menunjukkan bahwa risiko yang lebih besar bukanlah gelembung investasi AI, melainkan kurangnya investasi dalam teknologi ini. Fink secara tegas mengatakan bahwa jika investasi dalam AI tidak dilakukan secara serius sekarang, negara-negara yang lambat beradaptasi akan tertinggal dalam persaingan global, termasuk menghadapi kekuatan teknologi yang berkembang pesat di Tiongkok.

“Saya tidak percaya ada gelembung AI. Risiko terbesar adalah jika kita tidak berinvestasi dalam teknologi ini, Tiongkok yang akan menang,” ujar Fink dalam diskusi tersebut.

Fink menambahkan bahwa AI berpotensi menjadi mesin penemuan dan inovasi yang meluas di seluruh dunia, memperluas peluang ekonomi daripada sekadar menghasilkan terobosan teknologi. Menurutnya, teknologi tersebut dapat memperkuat produktivitas bahkan di negara-negara dengan tantangan demografis, sekaligus mendukung pertumbuhan PDB global.

Pernyataan Ambani dan Fink ini muncul di tengah persaingan global yang semakin intensif dalam bidang teknologi maju. AI telah menjadi faktor strategis dalam menentukan struktur kekuatan ekonomi baru, dan para pemimpin dunia kini menilai kesiapan adopsi teknologi ini sebagai indikator utama untuk mempertahankan daya saing global.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *