Dwi Hartono, Mahasiswa UGM yang Terlibat dalam Pembunuhan Kepala Cabang Bank BUMN
Dwi Hartono, salah satu pelaku utama dalam kasus penculikan dan pembunuhan Kepala Cabang Pembantu (KCP) salah satu bank BUMN, Mohamad Ilham Pradipta (37), ternyata memiliki latar belakang sebagai mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM). Hal ini terungkap setelah pihak kampus mengonfirmasi bahwa Dwi Hartono adalah seorang mahasiswa S2 di Program Studi Magister Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UGM dengan kampus Jakarta.
Status Mahasiswa Dinonaktifkan
Pihak UGM telah mengambil langkah tegas terhadap Dwi Hartono. Statusnya sebagai mahasiswa saat ini telah dinonaktifkan dari seluruh kegiatan akademik pada Semester Gasal 2025/2026. Langkah ini dilakukan sebagai bentuk dukungan terhadap proses hukum yang sedang berjalan.
Surat resmi yang dikeluarkan oleh Dekan FEB UGM, Prof. Dr. Didi Achjari, S.E., M.Com., Ak., CA, menetapkan keputusan tersebut. Pihak kampus menyatakan bahwa mereka menghormati proses hukum yang sedang berlangsung, menjunjung asas praduga tak bersalah, serta berkomitmen untuk menjaga integritas dan profesionalisme.
UGM juga menyampaikan belasungkawa mendalam atas wafatnya Muhammad Ilham Pradipta, Kepala Cabang Bank BRI Cempaka Putih. Pihak kampus mengecam keras segala bentuk kekerasan yang berakibat pada kematian almarhum dan mendukung penegakan proses hukum yang transparan dan berkeadilan.
Penetapan Tersangka oleh Polda Metro Jaya
Terkini, Polda Metro Jaya telah menetapkan 15 tersangka dalam kasus ini, termasuk Dwi Hartono yang merupakan pengusaha asal Jambi. Mantan kepala Badan Reserse dan Kriminal (Bareskrim) Mabes Polri, Komjen (Purn) Susno Duadji, menduga bahwa motif Dwi Hartono melakukan pembunuhan Ilham Pradipta adalah dendam pribadi.
Sebelumnya sempat muncul dugaan bahwa motif penculikan dan pembunuhan Ilham Pradipta disebabkan oleh adanya kredit fiktif. Kredit Fiktif adalah tindak pidana perbankan yang melibatkan peminjaman uang dari lembaga keuangan dengan menggunakan data, dokumen, atau identitas palsu.
Namun, hingga kini pihak kepolisian belum mengungkap motif sebenarnya dari kasus ini. Susno Duadji meyakini ada sosok orang dekat dari korban yang selama ini menjadi mata-mata pelaku. Atau bisa saja orang dekat korban itulah yang menjadi dalang di balik pembunuhan.
Pendapat Susno Duadji tentang Motif Pembunuhan
Susno Duadji mengungkap pendapatnya soal isu kematian Ilham Pradipta karena adanya dugaan penggelapan kredit bank. Menurutnya, isu tersebut sangat tidak mungkin dilakukan oleh korban. “Bagaimana mau gitu karena kan tidak bisa hilang, semuanya kan catatan elektronik, jadi tidak bisa dihilangkan,” kata Susno.
Lebih lanjut, ia mengungkap bahwa pembunuhan terhadap Ilham bukan karena utang piutang. “Apakah yang punya utang adalah korban? Kalau yang punya utang orang lain kepada bank, kan tidak bisa menghapus utangnya dengan membunuh korban, itu kan bodoh sekali,” akui Susno.
Perihal sosok dalang pembunuhan Ilham, Susno mengungkap analisanya. Ia menyebut keempat penculik yang sudah ditangkap itu kemungkinan besar bukanlah otak pembunuhan. Hal tersebut berkaitan dengan motif. “Para penculik ini saya yakin, kecil sekali kemungkinan, bukan mereka dalangnya. Pasti ada dalangnya. Motivasinya apa sih? Ini yang harus diungkap, jangan dibelokkan ke utang piutang, kecil kalau utang piutang,” kata Susno.
Isu Keterlibatan Jaringan Khusus
Susno juga menyatakan bahwa ia tidak meyakini kematian Ilham ada kaitannya dengan dugaan korban terlibat jaringan khusus. “Jaringan khusus jaringan apa? Yang harus diselidiki ungkap dulu motivasinya apa. Kecuali kalau korban punya jaringan kejahatan, tapi tidak mungkin, kalau dia punya jaringan kejahatan, tidak mungkin dia dapat posisi bagus di bank pemerintah.”
Susno lebih yakin bahwa pembunuhan terhadap Ilham adalah karena adanya dendam atau sakit hati orang lain. “Ada orang yang diculik, dibunuh, penyebabnya karena dendam pribadi, persaingan, sakit hati, ada juga masalah utang piutang bukan pada negara,” imbuh Susno.
Latar Belakang Dwi Hartono
Sebelumnya diberitakan informasi dari berbagai sumber menyebutkan bahwa Dwi Hartono diduga sakit hati lantaran upayanya melakukan pinjaman atau kredit fiktif sebesar Rp13 miliar diketahui oleh Ilham Pradipta. Ilham Pradipta pun mencoret klausul peminjaman tersebut. Dwi Hartono kemudian menyusun rencana untuk menghabisi nyawa mantan penyiar radio tersebut.
Sang dalang membayar jasa debt collector untuk menculik Ilham Pradipta. Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Ade Ary Syam Indradi menyampaikan bahwa polisi belum dapat memastikan motif pembunuhan Ilham Pradipta. Begitu pun terkait kredit senilai Rp13 miliar yang diketahui pria yang mempunyai hobi solo touring dengan mengendarai Kawasaki Z900.
Tinggalkan Balasan