Pasien Konsultasi Kesehatan ke AI? Ini Penjelasan Dokter

Peran AI dalam Kesehatan dan Bahaya Ketergantungan Berlebihan

Di era digital saat ini, kecerdasan buatan (AI) semakin menjadi alat yang digunakan masyarakat untuk mencari informasi dan bahkan mengambil keputusan kesehatan. Namun, penggunaan AI sebagai sumber utama konsultasi kesehatan memiliki risiko yang perlu diperhatikan. Menurut Hilman Tadjoedin, kepala kelompok staf medik hematologi onkologi medik di RS Kanker Dharmais, pasien sebaiknya tidak sepenuhnya mengandalkan AI dalam menentukan diagnosis penyakit.

AI bisa memberikan informasi awal tentang kondisi kesehatan, tetapi tidak dapat menggantikan peran dokter. “AI bisa saja menyatakan bahwa seseorang mengalami anemia parah, padahal setelah diperiksa ternyata hasilnya berbeda,” ujarnya dalam acara ROICAM 2025. Ia menekankan bahwa informasi dari AI harus diperkuat dan diperjelas oleh tenaga medis yang ahli.

Pentingnya Konsultasi dengan Dokter

Ketergantungan pada AI bisa membuat pasien menunda kunjungan ke dokter. Hal ini terutama berdampak serius pada penyakit kanker, di mana penundaan diagnosis dapat memperparah kondisi pasien. Sel kanker berkembang sangat cepat dan jika tidak segera ditangani, bisa menyebabkan kerusakan yang lebih besar pada tubuh. “Yang diobati itu manusia, bukan mesin. Jadi, selalu butuh intervensi dari orang yang ahli,” tambah Hilman.

Data Kanker di Indonesia dan Tantangan Masa Depan

Data dari Kementerian Kesehatan dan Global Cancer Observatory (Globocan) menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Pada tahun 2022, tercatat 408.661 kasus baru kanker dengan 242.099 kematian di Indonesia. Proyeksi menunjukkan peningkatan hingga 63 persen kasus baru pada periode 2025–2040 jika tidak ada intervensi signifikan. Bahkan, jumlah kasus diprediksi meningkat lebih dari 70 persen pada 2050 tanpa penguatan pencegahan dan deteksi dini.

Rencana Kanker Nasional 2024–2034 menunjukkan komitmen pemerintah dalam menghadapi tantangan pengendalian kanker. Pendekatan yang digunakan mencakup promosi kesehatan, pencegahan, pengobatan, hingga paliatif. Strategi ini juga menekankan integrasi riset dan tata kelola sistem kesehatan, sesuai dengan rekomendasi organisasi kesehatan dunia.

Tantangan dalam Pengendalian Kanker

Beberapa tantangan yang dihadapi masyarakat dalam menangani kanker antara lain kesenjangan implementasi di berbagai daerah. Masalah seperti keterlambatan diagnosis akibat fasilitas pelayanan dan akses yang tidak merata menyebabkan tingginya penemuan kanker stadium lanjut. Hal ini diperparah oleh kurangnya kesadaran dan pengetahuan masyarakat tentang pentingnya deteksi dini.

Selain itu, pembiayaan kanker yang mahal dan belum semua lini terapi dapat ditanggung oleh skema pembayaran yang ada saat ini juga menjadi kendala. Jumlah tenaga kesehatan di bidang onkologi, seperti konsultan hematologi onkologi medik (KHOM), masih terbatas. Hingga September 2025, hanya ada 188 dokter KHOM, dengan prediksi penambahan 150–250 orang dalam lima tahun ke depan.

Kesimpulan

Meskipun AI bisa menjadi alat bantu yang berguna, penggunaannya harus dibatasi dan selalu didampingi oleh tenaga medis yang profesional. Penundaan konsultasi dengan dokter dapat berdampak buruk, terutama pada penyakit kanker yang berkembang pesat. Untuk menghadapi tantangan ini, diperlukan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan institusi kesehatan dalam upaya pencegahan dan pengobatan yang lebih efektif.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *