Pameran Lukisan “Resurrection” dalam Toraja Highland Festival 2025
Toraja Highland Festival (THF) 2025 tidak hanya menjadi ajang pameran seni dan budaya, tetapi juga menjadi wadah untuk menyampaikan pesan sosial dan budaya yang penting. Salah satu acara menarik dalam festival ini adalah pameran lukisan bertema “Resurrection” atau kebangkitan, yang menampilkan karya-karya dari sejumlah seniman.
Pameran ini digelar di Lantai 3 Perpustakaan Daerah Toraja Utara, mulai tanggal 11 hingga 17 Desember 2025. Selain sebagai bagian dari rangkaian acara THF 2025, pameran ini juga menjadi sarana untuk mengangkat isu-isu penting seperti perlindungan alam dan budaya Toraja.
Karya Etoo Linggiallo: “Surviving Humans”
Salah satu seniman muda asal Toraja Utara, Etoo Linggiallo (24 tahun), turut serta memamerkan karyanya yang berjudul “Surviving Humans”. Karya ini menggambarkan perjuangan manusia dalam menjaga nilai-nilai leluhur di tengah tantangan modernisasi.
Dalam karya tersebut, sosok manusia duduk bersila dalam posisi meditasi atau perenungan. Kedua lengannya disilangkan di dada, melambangkan perlindungan diri, ketenangan batin, serta keteguhan dalam memegang prinsip hidup. Etoo menjelaskan bahwa lukisan ini bercerita tentang seseorang yang menjaga alam dan budaya Toraja.
Sosok manusia dalam karya ini juga memeluk ukiran Pa’bare Allo, yang merupakan simbol pancaran sinar matahari. Simbol ini melambangkan sumber kehidupan, kebesaran, keagungan, serta kebanggaan masyarakat Toraja. Selain itu, ukiran ini juga menjadi amanat leluhur agar generasi penerus senantiasa membawa cahaya berupa kebaikan, harapan, kecerdasan, dan kebijaksanaan bagi sesama.
Selain itu, sosok manusia dalam karya ini juga mengenakan masker gas berwarna gelap dengan tanduk kerbau (tedong). Tanduk ini menjadi simbol kekuatan, ketahanan, dan perlawanan terhadap ancaman yang merusak alam dan nilai budaya Toraja.
Proses Pembuatan dan Inspirasi
Etoo mengungkapkan bahwa proses pengerjaan karya “Surviving Humans” memakan waktu sekitar satu minggu sebelum pameran digelar. Menurutnya, karya ini juga merupakan bentuk solidaritas dan refleksi atas perjuangan masyarakat Toraja dalam menjaga warisan budaya mereka.
Ia mengaku terinspirasi oleh seniman jalanan sekaligus aktivis politik Banksy, yang dikenal melalui karya-karya bernuansa perlawanan dan kritik terhadap ketidakadilan sosial. Etoo mengatakan, karya-karya Banksy menyuarakan perlawanan, ketidakadilan, dan membangkitkan kesadaran untuk membangun solidaritas.
Karya-karyanya cenderung mengangkat kritik sosial, khususnya tentang isu lingkungan dan pelestarian budaya. Melalui seni lukis, ia berupaya menyuarakan pentingnya menjaga alam dan budaya Toraja di tengah perubahan zaman.
Pesan Sosial dan Budaya dalam Pameran
Melalui pameran ini, THF 2025 tidak hanya menjadi ruang apresiasi seni, tetapi juga menjadi wadah penyampaian pesan sosial dan budaya. Para pengunjung terlihat antusias mengabadikan karya-karya yang dipamerkan dari berbagai sudut ruangan.
Pameran ini memberikan wawasan baru tentang bagaimana seni dapat menjadi alat untuk menyampaikan pesan-pesan penting. Dengan tema “Resurrection”, pameran ini mengajak masyarakat untuk mempertanyakan kembali makna kebangkitan, baik dalam konteks spiritual maupun sosial.
Pameran ini juga menjadi bukti bahwa seni bisa menjadi jembatan antara masa lalu dan masa depan, antara tradisi dan inovasi. Dengan begitu, masyarakat Toraja dapat terus menjaga identitas dan warisan budaya mereka, meskipun menghadapi berbagai tantangan di era modern saat ini.
Tinggalkan Balasan