Kritik terhadap Program Retreat Gubernur NTT
Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Imanuel Melkiades Laka Lena, kembali menjadi sorotan setelah menggelar acara retreat yang melibatkan sekitar 300 pejabat struktural di provinsi tersebut. Acara ini digelar di Universitas Pertahanan (UNHAN) Ben Mboi Atambua dan memakan anggaran sebesar satu miliar rupiah. Berbagai pihak menilai bahwa kegiatan ini tidak sesuai dengan kondisi ekonomi dan sosial masyarakat NTT yang sedang menghadapi berbagai tantangan.
Kritik dari Akademisi
Ferdinandus Jehalut, dosen di Universitas Nusa Cendana Kupang, menyampaikan kritik terhadap program retreat ini. Menurutnya, acara tersebut tidak memiliki kejelasan orientasi dan tujuan yang jelas. Ia menilai bahwa program ini tidak berbeda dengan kegiatan retreat yang dilakukan oleh Presiden Prabowo Subianto untuk para kepala daerah di Magelang, Jawa Tengah pada Februari lalu.
“Sampai sekarang output-nya tidak jelas, dampaknya pada publik sama sekali kosong. Malah yang terjadi itu protes publik terhadap kinerja mereka semakin massif,” ujar Ferdinandus.
Ia juga menyayangkan penggunaan anggaran yang besar untuk kegiatan seperti ini di tengah situasi fiskal NTT yang sangat terbatas. NTT sendiri sebagian besar bergantung pada dana transfer dari pemerintah pusat. Selain itu, masalah kemiskinan dan stunting masih menjadi isu utama yang harus segera ditangani.
Keberatan Terhadap Penggunaan Anggaran
Ferdinandus menilai bahwa alasan pelaksanaan retreat untuk meningkatkan konsolidasi antarpejabat tidak masuk akal. Menurutnya, sistem pemerintahan di NTT bersifat komando, sehingga apa yang diinstruksikan dari atas akan langsung diikuti oleh bawahan.
Ia juga mencurigai adanya agenda lain di balik acara ini, seperti praktik tukar tambah politik. Beberapa kelompok mungkin membiayai ongkos politik dalam pemilihan kepala daerah yang dimenangkan Laka Lena tahun lalu.
Kritik terhadap Pendekatan Religius
Selain itu, Ferdinandus juga mengkritik aksi Gubernur Laka Lena dan jajarannya yang menggelar doa pada 31 Agustus di tengah protes luas di berbagai daerah di Indonesia. Menurutnya, masalah struktural harus diselesaikan dengan pendekatan struktural, bukan religius.
“Kalau pemerintah ajak berdoa, jangan ikut-ikut saja, karena itu bagian dari upaya mematikan nalar kritis,” ujarnya.
Tujuan Retret yang Diklaim Gubernur
Menurut Gubernur Laka Lena, program retreat bertujuan untuk memperdalam pemahaman mengenai arah pembangunan NTT sekaligus memperkuat sinergi dan kebersamaan antarpejabat. Ia juga menyatakan bahwa acara ini bertujuan untuk mengajak para pejabat merefleksikan segala keterbatasan yang dimiliki NTT agar lahir semangat kerja sama yang nyata.
Pada 23 September, Gubernur Laka Lena melepas 330 peserta retreat dari halaman kantornya. Peserta-peserta ini menuju kampus Universitas Pertahanan di Kabupaten Belu yang berjarak 286 kilometer dari Kupang.
Harapan Masyarakat
Ferdinandus berharap polemik ini bisa membuka mata masyarakat agar lebih aktif mengkritisi berbagai kebijakan pemerintah. Ia menilai bahwa partisipasi masyarakat dalam mengawasi kebijakan pemerintah sangat penting untuk menjaga transparansi dan akuntabilitas.
Dengan adanya kritik-kritik ini, diharapkan pemerintah dapat lebih responsif terhadap kebutuhan masyarakat dan mengalokasikan anggaran secara lebih efektif.
Tinggalkan Balasan