Sumenep FN: Sabtu malam, (7/3), di sebelah barat Balai Desa Lenteng Barat, Kec. Lenteng, Kab. Sumenep, Pemuda Lenteng Barat (PLB) bersama Badan Amil Zakat Nasional ( Baznas), menggelar pengajian akbar sekaligus santunan anak yatim.
Kian anak yatim diundang oleh panitia untuk diberi santunan dan bingkisan Hari Raya Idul Fitri 1447 H. Tentu dari kian anak yatim sangat bahagia menerima santunan tersebut. Dari hal itu, pihak Baznas. dan PLB, merupakan salah satu organisasi independen di Desa Lenteng Barat, langsung mendapat support sangat baik dari masyarakat, terutama para masyarakat yang hadir kepengajian akbar.
Affan Afandi, selaku Kades. Lenteng Barat turut bahagia terhadap para pemuda di desanya. Dirinya serasa punya pemuda yang tangguh, pemuda yang bisa memapah diri dan desanya kedepan lebih baik.
Turut hadir di acara tersebut, Camat Lenteng, Ir. Supardi, Kades. Lenteng Barat, Affan Affandi, salah satu Anggota DPRD. Sumenep, ketua dan anggota Baznas. Sumenep, Danramil. Lenteng, Kapolsek. Lenteng, segenap tokoh masyarakat Lenteng Barat dan ribuan pengunjung dari berbagai desa di Kec. Lenteng dan Ganding turut memeriahkan acara.
KH. Mushleh Adnan, S. Ag. juru retorika kondang asal Kab. Pamekasan mengungkap dalam pengajian akbar tersebut tentang arti Nuzulul Qur’an.
Nuzulul Qur’an bukan sekedar ingin mengetahui kapan sejarah turunNya, namun Al Qur’an diturunkan oleh Allah di tanggal 17 Ramadhan kala itu, justeru bertujuan hendak mengajak semua bangsa muslim senang dan istiqomah membaca Al Qur’an.
Al-Qur’an bukan sebagai bahan pajangan dan azimat saja di setiap rumah. Akan tetapi bagaimana Al Qur’an jadi bahan bacaan secara terus menerus sehingga selalu membangun rasa cinta dan setia setiap hari dan malam untuk selalu melantunkan Ayat SuciNya.
Dengan istiqomah membaca Al Qur’an sangat mungkin seluruh cita cita dan seluruh yang jadi bahan kebutuhan masyarakat cepat dikabulkan oleh Allah SWT.
Selanjutnya, beliau menganjurkan agar di puasa Ramadhan dibarengi dengan istiqomah menjalankan sholat wajib lima waktu serta sholat sunnah tarawikh, bangun malam untuk sholat tahajjud dan tidak melupakan sholat duha.
Lampau satu jam lebih berpidato, setelah membahas dari berbagai seruan dan arahan menuju kebajikan untuk kehidupan masyarakat muslim, beliau lantas mengakhiri dakwahnya dengan pembacaan doa. (Sim)
Tinggalkan Balasan