Peristiwa Tragis di Sungai Citanduy
Warga sekitar Bendung Manganti, Desa Sidarahayu, Kecamatan Purwadadi, Kabupaten Ciamis, digemparkan oleh sebuah peristiwa memilukan. Seorang perempuan berinisial SP (29), warga Dusun Tanjungsari, Desa Purwasari, Kecamatan Wanareja, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, diduga nekat mengakhiri hidupnya dengan melompat ke Sungai Citanduy pada Rabu, 1 Oktober 2025.
Berdasarkan informasi yang berhasil dikumpulkan, rekaman CCTV di lokasi menunjukkan bahwa SP tiba menggunakan sepeda motor Honda Beat berwarna biru putih dengan nomor polisi R 4052 BN. Ia memarkir kendaraannya di dekat bendungan, lalu berjalan menuju area sungai. Namun setelah itu, korban tidak terlihat kembali. Motor miliknya masih terparkir di lokasi dengan kunci menempel.
Karena tidak ada saksi mata yang menyaksikan langsung, rekaman CCTV menjadi dasar kuat dugaan bahwa SP terjun ke sungai. Laporan warga pun segera diteruskan ke aparat berwenang.
Menindaklanjuti laporan tersebut, tim gabungan dari Basarnas Pangandaran, BPBD Ciamis, Tagana, dan para relawan dikerahkan untuk melakukan pencarian sejak Kamis, 2 Oktober 2025.
Kapolsek Lakbok, Iptu Tri Widyanto, membenarkan adanya operasi pencarian ini. “Korban memang warga Jawa Tengah, tetapi karena lokasi kejadiannya di wilayah Ciamis, pencarian dilakukan oleh tim gabungan di sini,” katanya.
“Rekaman CCTV menunjukkan jelas korban menuju sungai, sehingga dugaan mengarah pada aksi bunuh diri,” terangnya.
Pencarian pun dilakukan dengan menyusuri aliran Sungai Citanduy menggunakan perahu karet milik Basarnas dan BPBD.
“Sejak pagi tim sudah berada di lokasi, fokus pencarian diarahkan di sekitar Bendung Manganti hingga aliran sungai ke arah hilir,” tambah Iptu Tri.
Dari keterangan keluarga, SP meninggalkan rumah Rabu dini hari sekitar pukul 00.30 WIB tanpa berpamitan. Ia pergi dengan mengendarai sepeda motor Beat biru putih.
Keesokan harinya, sekitar pukul 08.00 WIB, warga menemukan motor tersebut terparkir di tanggul Sungai Citanduy, tepat di area belakang Bendung Manganti, dengan kondisi kunci masih tergantung.
Keluarga Cemas
Penemuan itu membuat keluarga semakin cemas hingga akhirnya melapor ke pihak berwenang.
Hasil penyelidikan sementara mengarah pada dugaan bahwa SP mengalami tekanan psikologis berat. Berdasarkan keterangan keluarga, korban sempat mengalami depresi setelah kehilangan anak kandungnya yang masih kecil.
“Korban juga belum lama ini hamil kembali, namun bayi dalam kandungannya meninggal dunia sehingga harus menjalani operasi caesar. Diduga kondisi itu menambah beban mental korban hingga akhirnya nekat,” jelas Iptu Tri.
Hingga Kamis siang, pencarian masih terus dilakukan tim gabungan dengan menggunakan perahu karet dan peralatan penyisiran sungai.
Polisi juga tetap berkoordinasi dengan pihak keluarga untuk memastikan identitas korban dan menggali lebih dalam motif di balik tindakannya.
Peristiwa ini menjadi pengingat pentingnya dukungan keluarga, lingkungan, serta pendampingan psikologis bagi mereka yang tengah menghadapi beban mental.
Masyarakat diimbau untuk mencari bantuan, baik dari keluarga, tokoh masyarakat, maupun tenaga profesional, agar tidak mengambil keputusan tragis yang merugikan diri sendiri maupun orang lain.
Tinggalkan Balasan