Peran Kemenperin dan YBI dalam Mengembangkan Industri Batik Nasional
Peringatan Hari Batik Nasional (HBN) 2025 yang jatuh pada hari Kamis (2/10) menjadi momen penting untuk memperkuat posisi batik di panggung budaya dan ekonomi. Kementerian Perindustrian (Kemenperin) bersama Yayasan Batik Indonesia (YBI) berupaya mengembangkan industri batik nasional dengan berbagai strategi dan inovasi.
UNESCO telah menetapkan batik sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Non-bendawi pada 2 Oktober 2009. Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyatakan bahwa batik adalah contoh bagaimana warisan budaya dapat menjadi kekuatan ekonomi. Menurutnya, memperkuat ekosistem batik nasional bukan hanya sekadar menjaga peninggalan leluhur, tetapi juga membangun fondasi ekonomi kreatif berbasis budaya yang mampu bersaing di tingkat global.
Kontribusi Ekonomi dari Industri Batik
Industri batik memiliki kontribusi signifikan terhadap perekonomian negara. Data Kemenperin mencatat sebanyak 5.946 industri batik yang tersebar di lebih dari 200 sentra produksi di 11 provinsi. Industri ini mampu menyerap sekitar 200.000 tenaga kerja melalui 47.000 unit usaha.
Nilai ekspor batik pada triwulan I-2025 mencapai US$ 7,63 juta atau meningkat sebesar 76,2% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pada triwulan II-2025, ekspor batik masih tumbuh sebesar 27,2% secara tahunan menjadi US$ 5,09 juta. Meski demikian, industri batik menghadapi beberapa tantangan, salah satunya adalah regenerasi perajin.
Berdasarkan data Asosiasi Perajin dan Pengusaha Batik Indonesia (APPBI), jumlah perajin batik mengalami penurunan, dari sekitar 151.000 orang pada 2020 menjadi sekitar 101.000 perajin pada tahun 2024. Untuk mengatasi hal ini, Kemenperin terus mendorong inovasi dan transformasi dalam industri batik.
Inovasi dan Teknologi dalam Produksi Batik
Kemenperin berupaya mendorong inovasi dan transformasi industri batik melalui pemanfaatan teknologi. Beberapa teknologi yang digunakan antara lain kompor listrik batik, katalog digital pewarna alami, mesin Computer Numerical Control (CNC) motif digital, serta pengolahan limbah ramah lingkungan.
Melalui Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (Ditjen IKMA), Kemenperin memiliki berbagai program pelatihan Sumber Daya Manusia (SDM), fasilitasi Indikasi Geografis, penumbuhan wirausaha batik, hingga penerapan teknologi industri 4.0 untuk produksi batik.
Keselarasan dengan Asta Cita Presiden
Menurut Agus, upaya penguatan industri batik sejalan dengan Asta Cita yang diusung oleh Presiden Prabowo Subianto. Khususnya Asta Cita ke-5 yaitu “Mewujudkan kedaulatan ekonomi berbasis keunggulan sumber daya nasional”, serta Asta Cita ke-6 yaitu “Memperkuat budaya bangsa”.
Agenda Perayaan HBN 2025
Perayaan HBN 2025 berlangsung dari tanggal 2 Oktober hingga 30 November 2025 dengan tema “Bangga Berbatik”. Tahun ini, Batik Tulis Merawit Cirebon diangkat sebagai ikon HBN setelah memperoleh sertifikat Indikasi Geografis pada 2024.
Agenda HBN 2025 mengusung berbagai program, seperti pameran “Merawit Rasa” di Museum Tekstil Jakarta, bimbingan teknis, penumbuhan wirausaha batik, pameran Gelar Batik Nusantara, serta webinar dan talkshow. Kemenperin dan YBI juga bekerja sama dengan PT Rumah Mebel Nusantara (IKEA Indonesia) untuk menampilkan IKM batik binaan Ditjen IKMA di pameran di IKEA Alam Sutera dan Mal Taman Anggrek pada 1 – 16 Oktober 2025.
Tinggalkan Balasan