Perubahan Paradigma, Ilmuwan Tak Lagi di Menara Gading, Sains Dekat ke Masyarakat

Perubahan Paradigma dalam Riset Akademik



Riset akademik tidak boleh lagi dipandang sebagai ruang eksklusif yang terpisah dari kehidupan sosial, melainkan harus menjadi bagian dari proses bersama dengan masyarakat. Perubahan paradigma dalam memandang hubungan antara sains dengan publik dinilai sangat diperlukan.

Sejarawan dari Monash University, Luthfi Adam, menyampaikan hal tersebut dalam diskusi media bertema Membangun Ruang Hidup dan Teknologi untuk Masyarakat di Jakarta, Jumat, 3 Oktober 2025. Menurutnya, saat ini masih ada kesan kuat bahwa sains adalah milik sekelompok peneliti yang dianggap memiliki legitimasi penuh atas kebenaran ilmiah.

“Pertanyaannya, mengapa bisa ada sekelompok orang yang dianggap berhak menyatakan kebenaran ilmiah, sementara masyarakat seolah hanya menjadi objek?” kata Luthfi. Ia menilai, kondisi ini justru melahirkan jarak antara pengetahuan ilmiah dengan kebutuhan nyata masyarakat.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Luthfi mendorong dibukanya ruang interaksi yang lebih luas antara ilmuwan dan masyarakat. Konsep co-creation atau ko-kreasi, menurutnya, menjadi pendekatan baru yang relevan.

“Pengetahuan tidak lahir dari satu pihak saja, melainkan hasil dialog dan kerja kolektif,” ujarnya. Menurutnya, studi sejarah sains selama ini cenderung berfokus pada biografi ilmuwan besar, seakan-akan teori dan penemuan lahir secara tunggal dari individu.

Padahal, dalam perspektif ko-kreasi, setiap pengetahuan sesungguhnya lahir dari jaringan sosial yang melibatkan banyak pihak, termasuk masyarakat lokal. Sebagai contoh, Luthfi mengangkat karya naturalis era kolonial, Georgius Everhardus Rumphius. Sang penulis Ambonese Herbal itu sering digambarkan sebagai penemu pengetahuan tentang flora Maluku.

Namun, menurut Luthfi, sejatinya karya tersebut lahir dari interaksi Rumphius dengan masyarakat setempat yang sudah lama memahami tanaman, khasiat, dan nama-nama lokalnya. “Kalau kita memakai kacamata lama, seolah-olah Rumphius sendiri yang menemukan dan menamakan semua itu. Padahal pengetahuannya adalah hasil apropriasi dari masyarakat lokal,” katanya.

Ia menambahkan, kontribusi masyarakat sangat besar, tetapi kerap tidak diakui dalam catatan sejarah. Oleh karena itu, Luthfi menilai inisiatif seperti Living Lab penting dikembangkan. Model ini memungkinkan masyarakat tidak hanya menjadi objek penelitian, tetapi juga ikut merumuskan pertanyaan, menentukan metode, hingga memanfaatkan hasil riset. Dengan begitu, persoalan lokal dapat diselesaikan secara lebih tepat sasaran.

“Lebih dari sekadar menyelesaikan masalah dengan analisis saintifik, yang terpenting adalah memberi agensi kepada masyarakat. Mereka harus menjadi bagian dari produksi pengetahuan itu sendiri,” kata Luthfi.

Libatkan Masyarakat

Senada, Dosen Universitas Negeri Malang, Evi Eliyana, menekankan perlunya melibatkan masyarakat sejak awal proses penelitian. Menurutnya, saintis sering kali mendefinisikan masalah dan solusi tanpa melibatkan masyarakat sebagai pihak yang mengalaminya.

“Seharusnya dari pangkalnya masyarakat sudah ikut serta mendefinisikan problem apa yang ingin diselesaikan,” ujarnya. Evi menambahkan, keterlibatan publik sejak tahap perumusan masalah hingga evaluasi hasil riset akan memastikan keberlanjutan dan relevansi penelitian.

“Ada imbal balik, ada umpan-balik dari masyarakat dan industri dalam menentukan peta jalan keilmuan,” kata Evi. Ia menegaskan, masyarakat seharusnya tidak hanya penerima produk jadi, melainkan juga subjek penting dalam proses ilmiah.

Koneksikan Riset dengan Kehidupan Sehari-hari

Sementara itu, Direktur Diseminasi dan Pemanfaatan Sains dan Teknologi, Ditjen Sains dan Teknologi, Kemendiktisaintek, Yudi Darma, menyoroti perlunya menghubungkan riset dengan kehidupan sehari-hari. Menurutnya, riset yang hanya berlangsung di laboratorium membuat hasilnya jauh dari kebutuhan nyata masyarakat.

Untuk itu, Yudi menekankan pentingnya pengembangan program Living Lab sebagai wadah partisipasi masyarakat. “Dalam keseharian, masyarakat punya kebutuhan dan harapan. Itu bisa menjadi masukan penting bagi riset agar lebih relevan,” katanya. Ia menambahkan, dengan kokreasi, siklus riset bisa lebih singkat karena produk diuji dan disempurnakan langsung bersama masyarakat.

“Dengan pendekatan ini, tidak hanya ada transfer pengetahuan, tapi juga perbaikan berkelanjutan dari karya saintek bersama masyarakat,” kata Yudi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *