Presiden Prabowo Lakukan Revisi Kabinet: Respons Publik atau Konsolidasi Politik?
Presiden Prabowo Subianto baru saja melakukan reshuffle kabinet pada 8 September dan 17 September 2025. Dalam proses tersebut, terdapat perubahan terhadap enam menteri dan tiga wakil menteri. Selain itu, ada pelantikan Menteri dan Wakil Menteri Haji dan Umrah serta pengisian sejumlah jabatan pembantu presiden lainnya. Menariknya, reshuffle ini dilakukan setelah gelombang aksi demonstrasi di berbagai daerah yang menuntut evaluasi dan perbaikan tata kelola pemerintahan. Eskalasi aksi sempat meningkat cukup tinggi hingga menimbulkan efek negatif. Presiden kemudian menyatakan akan merespons tuntutan publik tersebut. Pertanyaan yang muncul adalah, apakah reshuffle kabinet dilakukan semata-mata sebagai respons dalam mengakomodasi tuntutan publik, atau juga membawa agenda konsolidasi politik?
Evaluasi Kabinet Berdasarkan Tuntutan Publik
Presiden tampaknya merespons sebagian tuntutan publik dengan melakukan evaluasi terhadap anggota kabinet, terutama yang berlatar belakang nonparpol. Evaluasi kabinet oleh Presiden terlihat dalam pergantian Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, yang sering mendapatkan kritik terkait kebijakan dan pernyataannya—meskipun terdapat informasi bahwa Sri Mulyani telah lebih dulu mengajukan pengunduran diri. Selain itu, Erick Thohir yang sebelumnya menjabat sebagai Menteri BUMN kini dialihkan menjadi Menteri Pariwisata. Hal ini tidak lepas dari kritik publik terhadap tata kelola BUMN.
Selain itu, Presiden juga melakukan evaluasi berdasarkan persepsi publik terhadap kredibilitas kabinet, terutama masalah integritas anggota kabinet. Pergantian Menteri Koperasi Budi Arie Setiadi dan Menteri Pemuda dan Olahraga Dito Aritedjo—yang disinyalir terkait beberapa persoalan hukum—kemungkinan dilakukan untuk mencegah akumulasinya sentimen negatif terhadap integritas anggota kabinet yang dapat menurunkan kepercayaan publik secara keseluruhan.
Evaluasi Jabatan di Luar Kabinet
Evaluasi juga dilakukan terhadap beberapa jabatan di luar kabinet. Pergantian Kepala Staf Presiden kepada Muhammad Qodari dapat dilihat sebagai upaya mengoptimalkan fungsi Kantor Staf Presiden sebagai delivery unit untuk memastikan berjalannya program-program prioritas pemerintah. Pengangkatan Angga Raka sebagai Kepala Badan Komunikasi Pemerintah merupakan upaya memperbaiki dan mengefektifkan komunikasi pemerintah terhadap publik. Presiden juga tampaknya merespons tuntutan terhadap reformasi Polri, dengan menunjuk mantan Wakapolri Ahmad Dofiri sebagai Penasihat Khusus Presiden Bidang Kamtibmas dan Reformasi Polri.
Konsolidasi Politik di Balik Reshuffle
Selain mengakomodasi sebagian tuntutan publik, reshuffle juga menjadi pintu masuk bagi Presiden untuk melakukan konsolidasi politik. Hal ini dilakukan melalui dua aspek utama:
Pertama, menjaga soliditas dukungan dari partai-partai anggota koalisi dengan mempertahankan koalisi besar. Berdasarkan pertimbangan tersebut, maka Presiden tidak banyak melakukan evaluasi terhadap menteri-menteri yang berasal dari partai. Presiden juga tidak mengurangi jatah perwakilan partai di Kabinet. Golkar kehilangan posisi Menteri Pemuda, tetapi mendapatkan posisi Menteri P2MI. Demikian pula dengan PKB yang kehilangan posisi Menteri P2MI, tetapi mendapatkan posisi Wakil Menteri Koperasi. Bahkan PKB sejatinya mendapatkan tambahan kursi Kabinet apabila diasumsikan Abdul Kadir Karding bukan representasi PKB di kabinet. Demokrat juga mendapatkan tambahan kursi kabinet dengan penunjukan Afriansyah Noor sebagai Wakil Menteri Tenaga Kerja.
Kedua, penguatan posisi di kabinet melalui reposisi dan penambahan loyalis Presiden. Dalam formasi awal anggota kabinet yang berasal dari partai, Gerindra mendapatkan 12 kursi (5 menteri dan 7 wamen), Golkar mendapatkan 11 kursi (8 menteri dan 3 wamen), Demokrat mendapatkan 4 kursi (3 menteri dan 1 wamen), PAN mendapatkan 4 kursi (2 menteri dan 2 wamen), PKB mendapatkan 3 kursi (2 menteri dan 1 wamen), PSI mendapatkan 3 kursi (1 menteri dan 2 wamen), Gelora mendapatkan 2 kursi (2 wamen), serta PKPI dan Prima masing-masing mendapatkan satu kursi (wamen).
Dalam perjalanan kabinet sebelum reshuffle, komposisi anggota kabinet yang berasal dari partai berubah karena beberapa menteri nonpartai bergabung dengan partai. Menko Marves Budi Santoso, Menhub Dudy Purwagandhi, Menteri Kelautan dan Perikanan Wahyu Trenggono dan Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq menjadi kader PAN, sementara Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo menjadi kader Demokrat. Perubahan ini menyebabkan kursi PAN bertambah menjadi 8 (6 menteri dan 2 wamen), dan kursi Demokrat menjadi 5 (4 menteri dan 1 wamen).
Bertambahnya kursi kabinet bagi beberapa partai di luar Gerindra tampaknya direspons Presiden dengan memanfaatkan reshuffle untuk menambah kekuatan loyalisnya di kabinet. Presiden mereposisi dan menambah jumlah kader Gerindra di dalam kabinet dengan menempatkan Fery Juliantono sebagai Menteri Koperasi, Mochammad Irvan Yusuf sebagai Menteri Haji dan Umrah, Dahnil Simanjuntak sebagai Wakil Menteri Haji dan Umrah, serta Rohmat Marzuki sebagai Wakil Menteri Kehutanan. Komposisi wakil Gerindra seusai reshuffle bertambah menjadi sebanyak 15 kursi kabinet (7 menteri dan 8 wamen). Perubahan komposisi ini mengembalikan dominasi loyalis Presiden di kabinet.
Dua Wajah Reshuffle Kabinet
Reshuffle yang dilakukan Presiden memperlihatkan dua wajah. Pertama, mengakomodasi sebagian tuntutan publik terkait performa kabinet, dengan fokus evaluasi pada anggota kabinet yang bukan berasal dari partai. Kedua, melakukan konsolidasi politik dengan mempertahankan soliditas koalisi partai pendukung pemerintah dan memperkuat posisi loyalis Presiden di kabinet. Hal inilah yang membuat Presiden tidak melakukan evaluasi secara menyeluruh terhadap anggota kabinet terutama yang berasal dari partai.
Meski upaya mempertahankan soliditas koalisi dan memperkuat posisi loyalis berpotensi memperkuat stabilitas pemerintahan, tetapi akibat evaluasi terhadap kabinet dilakukan secara terbatas, maka tidak ada jaminan performa kabinet setelah reshuffle akan menunjukkan perbaikan signifikan.
Tinggalkan Balasan