Kementerian Agama (Kemenag) berkomitmen untuk mencegah terulangnya kejadian bangunan roboh di Pesantren Al Khoziny Sidoarjo. Untuk itu, mereka segera mengajak ahli bangunan guna melakukan pemeriksaan terhadap struktur bangunan di pesantren-pesantren lainnya. Hal ini dilakukan karena banyak pesantren tradisional yang dibangun secara swadaya tanpa melalui prosedur formal.
Informasi ini disampaikan oleh Kepala Biro Humas dan Komunikasi Publik (HKP) Kemenag, Thobib Al Asyhar. Ia menyampaikan belasungkawa mendalam atas korban jiwa dalam musibah tersebut. “Kita mendoakan para korban yang wafat agar mendapat tempat terbaik di sisi Allah, mudah-mudahan syahid, dan yang luka-luka segera diberi kesembuhan,” ujarnya pada 3 Oktober.
Thobib mengakui bahwa masih ada beberapa pesantren tradisional yang dibangun tanpa adanya prosedur formal. Oleh karena itu, Kemenag berkomitmen untuk memperkuat mitigasi dengan melakukan identifikasi dan asesmen terhadap bangunan-bangunan pesantren yang memiliki potensi masalah. Kemenag juga melibatkan ahli bangunan serta Kementerian Pekerjaan Umum untuk mengecek struktur atau kondisi bangunan pesantren di seluruh Indonesia.
Dia menjelaskan bahwa Kemenag tidak memiliki kewenangan teknis dalam menilai kelayakan bangunan. Untuk itu, Kemenag siap bekerja sama dengan kementerian lain, termasuk Kementerian Pekerjaan Umum. Tujuannya adalah untuk mendorong penerapan regulasi dalam pembangunan sarana pesantren.
“Ada kelemahan dari sisi bangunan yang harus dievaluasi,” jelas Thobib. Kemenag akan berkoordinasi dengan pihak terkait untuk sosialisasi dan pendampingan kepada pimpinan pesantren. Tujuannya adalah agar pimpinan pesantren memahami pentingnya mengikuti prosedur pembangunan sesuai regulasi.
Di tengah duka, Thobib meminta masyarakat tetap percaya pada pesantren. Khususnya kepercayaan bahwa pesantren adalah lembaga pendidikan Islam yang sudah lama menjadi bagian dari tradisi Indonesia.
“Pesantren adalah pusat pengembangan ilmu, budaya, dan pembentukan karakter,” kata dia. Thobib meminta masyarakat tidak perlu khawatir menitipkan anak-anaknya di pesantren. Karena Kemenag akan terus mengawal agar masalah ini tidak terulang.
Thobib menambahkan bahwa pesantren Al Khoziny memiliki sejarah panjang dan telah melahirkan banyak ulama besar. Pesantren ini sudah lebih dari satu abad berdiri. Para ulama besar, termasuk KH Hasyim Asy’ari, pernah belajar di sana. “Jadi musibah ini harus jadi pelajaran bersama, bukan alasan untuk mengurangi kepercayaan pada pesantren,” paparnya.
Tinggalkan Balasan