Sumenep FN:
Petik laut bukan sebatas kebudayaan, petik laut bukan sebatas karya, karsa dan cipta manusia sebagaimana kenampakan asumsi masyarakat pengunjung dari pegunungan.
Petik laut adalah ritual permata hati bagi masyarakat pesisir yang harus digelar oleh mereka setiap tahun sekali.
Masyarakat pesisir mempercayai pada laut bahwa ia adalah tumpuan kehidupan, tempat menempuh jalan hidup, bekal hidup sekeluarga.
Laut dikenal mereka ada penjaga, ada penghuni laut yang dapat mengamankan para nelayan dan para pelaut untuk menyeberangi dan menangkap ikan serta menikmati kekayaan lainnya.
Dalam konteks keagamaan dan sejarah, laut dijaga oleh Nabi Allah Hidir dan sebagian masyarakat juga menyatakan laut dijaga oleh Nyi Roro Kidul sebagai penjaga penyelamat bagi para kaum pelaut.
Dengan tafsiran tersebut, masyarakat pesisir menggelar petik laut, seperti di Desa Gaduara Timur, Kec. Pragaan, Kab. Sumenep, Sabtu, (28/6) menggelar petik laut besar besaran.
Acara bermula di pagi hari. Masyarakat pelaut di desa tersebut berkumpul dengan membawa perahu hias. Unik terpandang mata.
Ratusan perahu dan bahkan seribu perahu …red, berderet di pantai untuk berangkat ke laut untuk mempersembahkan ritual sesajen ke pertengahan laut.
Mereka bersafari di atas air dengan perahu hias amat menakjubkan, deru mesin mesin menyeruak harapan kemenangan bagi sang pelaut, sebab di laut menyimpan berjuta kekayaan.
Sesajen setelah dipersembahkan oleh masyarakat Gaduara Timur di tengah laut tentu diawaali dengan doa doa khusus, kemudian mereka kembali ke pantai sembari bertasyakuran.
Nyanyian dan tayup, kecung Madura melantun syahdu. Para sinden berjejer sambil lenggak lenggok. Memang rata rata para sinden cantik memukau, tak hayal kalau kian pemuda desa tersebut nyawer berulang kali.
Selain keseharian digelar karawitan atau klenengan gending Madura dengan kecantikan para sindennya dan malam hari digelar Ketoprak Lodruk Madura. (SIM)
Tinggalkan Balasan