Jokowi dan Peran Baru dalam PSI
Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR), Iwan Setiawan, mengungkapkan bahwa Presiden Joko Widodo (Jokowi) memainkan strategi politik yang disebut sebagai gimmick dengan menjadi Ketua Dewan Pembina Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Hal ini terjadi setelah Ketua Umum PSI, Kaesang Pangarep, melantik pengurus DPP PSI periode 2025-2030 dan menunjuk sosok ‘Bapak J’ sebagai Ketua Dewan Pembina.
Menurut Iwan, sosok “Bapak J” yang dimaksud adalah Jokowi sendiri, yang merupakan ayah kandung dari Kaesang. Menurutnya, hal ini menjadi sebuah tindakan yang dianggap sebagai strategi politik yang sengaja dibuat untuk menarik perhatian publik.
“Saya yakin, yang dimaksud sebagai sosok Mister āJā yang menjabat sebagai Ketua Dewan Pembina PSI adalah Mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi),” ujar Iwan dalam pernyataannya pada Sabtu, 27 September 2025.
Iwan menilai bahwa tidak perlu adanya gimmick lagi dalam hal ini. Menurutnya, masyarakat sudah bisa menebak siapa sebenarnya sosok “Bapak J” tersebut. Sebelumnya, Jokowi telah menunjukkan tanda-tanda keikutsertaannya dalam PSI, sehingga publik sudah mengetahui hal ini.
Beberapa waktu lalu, Jokowi juga telah mendeklarasikan dirinya akan bekerja keras untuk membantu PSI mencapai tujuan mereka, yaitu masuk menjadi anggota parlemen di Senayan. Hal ini menunjukkan bahwa Jokowi tidak berniat kembali ke Solo untuk beristirahat setelah pensiun dari jabatan presiden.
Peran Jokowi dalam Mendampingi Kaesang
Iwan menilai bahwa Jokowi harus secara langsung mendukung Kaesang sebagai Ketua Umum PSI. Menurutnya, Kaesang masih muda dan belum memiliki kapasitas serta pengalaman politik yang cukup. Untuk itu, Jokowi harus memainkan peran penting dalam memandu dan membimbing putranya.
“Target PSI sangat berat, yaitu masuk parlemen 2029 nanti,” ujarnya. Iwan menilai bahwa tanpa bantuan Jokowi, sulit bagi PSI untuk mencapai target tersebut.
Selain itu, Jokowi juga harus menjaga dua orang anaknya, yaitu Gibran Rakabuming Raka, yang saat ini menjabat sebagai Wakil Presiden, dan Bobby Nasution, yang menjadi Gubernur Sumatera Utara. Meskipun Gibran dan Bobby pernah menjadi Wali Kota, namun keduanya masih belum sepenuhnya diberi kebebasan oleh Jokowi untuk berkembang sendiri dalam dunia politik Indonesia.
“Mereka jadi Gubernur dan Wapres juga tidak terlepas dari peran Jokowi sebagai Presiden waktu itu,” tambah Iwan. Ia menilai bahwa meski kedua anaknya telah memiliki posisi penting, Jokowi masih merasa perlu untuk tetap memperhatikan dan membimbing mereka dalam perjalanan karier politiknya.
Dengan demikian, peran Jokowi dalam PSI tidak hanya sekadar simbolis, tetapi juga memiliki makna penting dalam membantu partai baru tersebut mencapai ambisi besar mereka.
Tinggalkan Balasan