forumnusantaranews.com.CO.ID – JAKARTA.
Ekonom dari Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin memperingatkan bahwa defisit perdagangan antara Indonesia dan China dapat meningkat menjadi Rp 185 triliun di tahun 2025, akibat peningkatan produk China di dalam negeri.
Wijayanto menjelaskan, peningkatan produk China di Indonesia merupakan fenomena yang perlu diantisipasi. Menurutnya, Indonesia menjadi sasaran empuk produk China yang terhambat ke Amerika akibat perang tarif.
“Jika ini terus terjadi, maka surplus perdagangan kita akan menurun, current account deficit kita akan meningkat, dan Rupiah akan mendapatkan tekanan,” jelasnya kepada forumnusantaranews.com, Senin (16/6).
Wijayanto memperkirakan, defisit perdagangan Indonesia – China bisa membengkak, pasalnya di tahun 2024 saja defisit perdagangan kita dengan China sudah mencapai Rp 163 triliun.
“Tahun 2024 saja, defisit perdagangan kita dengan China mencapai US$ 10,29 miliar, atau Rp 163 triliun. Jika naik sekitar 15% saja, akan mencapai Rp 185 triliun,” terangnya.
Selain itu, Wijayanto menyatakan, sektor manufaktur di Indonesia juga menjadi yang paling mengkhawatirkan dampak dari kondisi ini. Menurutnya, industri otomotif, elektronik, tekstil dan produk tekstil, serta sepatu adalah yang paling terpengaruh.
Dia menyarankan bahwa pemerintah harus mengambil langkah negosiasi perdagangan dengan China yang selama ini dianggap diam membisu.
” Ini adalah situasi yang serius bagi ekonomi kita. Kami meminta China tidak hanya menjual produk ke Indonesia, tetapi juga meningkatkan nilai investasi, termasuk dengan memindahkan industri manufakturnya ke Indonesia,” demikian katanya.
Berikut ini informasi yang perlu diketahui, laporan Citigroup Inc yang dikutip dari Bloomberg mencatat, ekspor China ke negara-negara ASEAN pada Mei 2025 mencapai US$ 51,3 miliar, meningkat 13% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Data tersebut bersumber dari Lembaga Bea Cukai China (China General Administration of Customs/GACC). Indonesia mencatat lonjakan tertinggi, di mana nilai impor dari China pada Mei 2025 mencapai US$ 6,8 miliar, naik 21,43% secara tahunan.
Tinggalkan Balasan