Inisiatif Mak Comblang Project untuk Memperkuat Program Makan Bergizi Gratis
Badan Gizi Nasional (BGN) mengambil langkah strategis dalam memperkuat pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Salah satu inisiatif utama yang dijalankan adalah Mak Comblang Project, sebuah program yang bertujuan untuk menyatukan petani langsung dengan dapur MBG. Tujuan utamanya adalah mengatasi masalah rantai pasok pangan, khususnya ketimpangan antara kapasitas produksi petani dan kebutuhan bahan pangan di wilayah Jakarta dan Bogor.
Langkah awal dari Mak Comblang Project ditandai dengan pertemuan koordinasi antara petani dan gabungan kelompok tani (Gapoktan) di wilayah Cipanas, Kabupaten Cianjur, pada Senin (19/1). Pertemuan ini menjadi forum pemetaan awal untuk memahami kondisi produksi petani serta kebutuhan bahan pangan dari dapur MBG.
Juru Bicara BGN, Dian Fatwa, menjelaskan bahwa selama ini, petani dan dapur MBG berjalan secara terpisah. Di satu sisi, petani di Cipanas sering kali menghadapi kelebihan pasokan hasil panen, sedangkan di sisi lain, dapur MBG di Jakarta dan Bogor kesulitan mendapatkan bahan baku dengan harga stabil.
“Mak Comblang Project hadir untuk menyambungkan dua sisi ini secara langsung. Dengan demikian, kelebihan produksi petani dapat diserap, dan dapur MBG memperoleh pasokan yang lebih pasti,” ujar Dian.
Berdasarkan hasil pemetaan awal, BGN menemukan adanya kesenjangan volume produksi dan kebutuhan yang signifikan. Contohnya, pada komoditas jagung, kapasitas produksi petani di Cipanas mencapai sekitar 30 ton per bulan, sedangkan kebutuhan dapur MBG di Jakarta diperkirakan mencapai 240 ton per bulan. Hal ini menunjukkan perlunya perencanaan produksi yang lebih selaras dengan kebutuhan pasar.
Selain persoalan volume, pertemuan tersebut juga mengungkap adanya disparitas harga di tingkat petani dan dapur. Dian mencontohkan komoditas wortel yang di tingkat dapur MBG dibeli dengan harga Rp15.000 hingga Rp25.000 per kilogram, sementara petani hanya menerima sekitar Rp1.500 hingga Rp3.000 per kilogram di tingkat kebun.
Menurutnya, perbedaan harga tersebut bukan disebabkan oleh satu pihak, melainkan akibat rantai pasok yang panjang dan tidak terhubung secara langsung. Melalui Mak Comblang Project, BGN mulai memetakan komoditas unggulan, volume produksi, serta kebutuhan dapur MBG secara terbuka. Data tersebut akan menjadi dasar penyusunan kalender tanam dan kalender panen agar produksi dapat dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan.
Pola ini diharapkan mampu memberikan kepastian pasar dan harga yang lebih layak bagi petani, sekaligus menjamin ketersediaan bahan baku yang stabil bagi dapur MBG. Ke depan, penyusunan menu Program Makan Bergizi Gratis juga akan diselaraskan dengan ketersediaan produksi petani lokal. Proses ini akan melibatkan ahli gizi untuk memastikan kualitas dan kecukupan gizi tetap terjaga.
Dengan mempertemukan petani dan dapur secara langsung, Mak Comblang Project diharapkan dapat menciptakan kolaborasi yang saling menguntungkan serta memperkuat ketahanan pangan berbasis masyarakat.
Tinggalkan Balasan