Resiko konflik Israel-Iran bisa meluas



KORAN – PIKIRAN RAKYAT –

Situasi di wilayah Timur Tengah kian rumit. Ketegangan antara Iran dan Israel dinilai kian meningkat dengan risiko konflik yang meluas ke kawasan. Kedua negara saling serang dan kini saling memperingatkan negara lain untuk tidak ikut campur.


Pengamat Hubungan Internasional dari Universitas Padjadjaran, Teuku Rezasyah, menilai Iran tidak tinggal diam terhadap provokasi Israel, terutama bila pelurunya dihadang oleh negara lain, seperti Yordania dan Mesir. Dalam konteks ini, Iran memberikan pesan agar negara-negara tersebut tidak mengintervensi. “Iran mencoba yakinin, ‘Kalian semua jangan ikutan lah’,” kata Teuku, Minggu, 15 Juni 2025.


Iran juga mempersoalkan kehadiran pangkalan militer Amerika Serikat di negara-negara Timur Tengah, seperti Qatar, Oman, Yordania, dan Mesir. Keberadaan pangkalan ini dianggap mengganggu stabilitas kawasan. “Pangkalan militer itu harusnya segera ditutup,” ujar Teuku.


Jika diperlukan, kata Teuku, Iran telah menyiapkan rudal jelajah jarak pendek hingga jauh untuk menghadapi ancaman dari pangkalan-pangkalan militer tersebut. “Iran sudah siap dengan berbagai versi rudal jelajahnya, untuk jarak 300-2.000 kilometer,” katanya.


Mengutip pernyataan seorang jenderal Amerika Serikat di senat, Teuku menyebut Iran memiliki sekitar 3.000 rudal dan baru menggunakan 100–200 dalam serangan ke Israel. Teknologi rudal yang digunakan pun sebagian besar adalah hasil pengembangan dalam negeri.


“Iran memiliki teknologi asli yang mereka miliki sendiri dari hasil rekayasa dalam negeri, kemudian juga hasil peningkatan dari kerjasama yang sudah ada dengan negara-negara lain. Mereka sudah memiliki teknologi itu dan mereka tidak dibatasi oleh negara manapun,” katanya.


Teuku mengatakan, Iran sudah siap secara militer, baik dari segi teknologi, peralatan, hingga dukungan masyarakat. Namun ia mengingatkan potensi bahaya dari penggunaan senjata nuklir oleh Israel. “Yang kita khawatirkan adalah Israel melakukan peledakan nuklir skala kecil, yang disebut termonuklir. Dan inilah yang menjadi kekhawatiran karena jika hal ini terjadi, memang tidak mustahil Iran juga memiliki senjata tersebut. Jadi eskalasinya bisa makin tinggi,” ujarnya.


Tentang peran Amerika Serikat dalam konflik Iran-Israel, Teuku mengatakan, negara tersebut terus mendukung Israel, termasuk melalui pasokan senjata dan dukungan dari negara-negara Teluk. “Amerika terus berdiri bersama Israel meskipun mereka tidak pernah mengakuinya,” ujar Teuku.


Terkait sikap Indonesia, menurut Teuku, Presiden Prabowo masih bersikap normatif sembari menghimpun dukungan dari berbagai poros internasional. Namun demikian, jawaban Prabowo dinilainya akan berganti gigi dalam beberapa hari ke depan, merujuk kepada rencana kunjungan Prabowo ke Rusia atas undangan Presiden Vladimir Putin.


Terkait posisi Indonesia di tengah kekuatan-kekuatan besar dunia, Teuku menyebut Indonesia berusaha menjaga hubungan dengan semua pihak. Dalam bidang ekonomi, Indonesia lebih dekat dengan Cina, sementara dalam pertahanan, lebih erat dengan Amerika Serikat. “Kita membagi-baginya begitu,” tuturnya.


Dia juga menyoroti dampak eskalasi konflik terhadap Indonesia, terutama dalam aspek energi dan keselamatan warga negara di luar negeri. “Suplai energi akan semakin mahal, keselamatan WNI juga terancam,” katanya.


Potensi ketakutan dan gangguan psikologis pun dinilai akan meningkat di kalangan pekerja migran di kawasan konflik.


Teuku mengingatkan bahwa Indonesia harus bertindak sesuai amanah konstitusi dan keputusan KTT internasional sebelumnya. Ia mendorong Presiden Prabowo untuk menggalang solidaritas global demi perdamaian. “Saya sangat berharap Prabowo mencoba menggalang solidaritas sehingga adanya resolusi di Dewan Keamanan PBB,” katanya.


Sementara itu, pengamat Timur Tengah sekaligus dosen Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Padjadjaran Dr Dina Yulianti menjelaskan, Israel merasa sangat berkuasa, karena telah melakukan kejahatan kemanusiaan, tetapi tidak dapat dihukum. Meskipun dunia mengecam apa yang dilakukan Israel, namun ada bantuan dan dukungan dari negara Barat yaitu Amerika Serikat dan sejumlah negara Eropa.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *