Pengadilan Prancis Menolak Klaim Kompensasi dari Petani Nikaragua yang Terpapar Pestisida Nemagon
Para pekerja pertanian di wilayah Chinandega, Nikaragua, harus menerima kekalahan dalam upaya mereka untuk mendapatkan kompensasi dari perusahaan multinasional AS yang menggunakan pestisida Nemagon. Pengadilan Prancis menolak klaim mereka pada hari Selasa (17/02), mengakibatkan para petani terus menghadapi dampak jangka panjang dari paparan bahan kimia berbahaya.
Kasus ini melibatkan ribuan pekerja yang terpapar Nemagon antara dekade 1960 hingga 1980-an. Bahan kimia tersebut mengandung dibromokloropropana (DBCP), senyawa yang dirancang untuk membasmi hama tanah tetapi ternyata juga menyebabkan kemandulan, gagal ginjal kronis, gangguan kulit, dan kanker. Meskipun pengadilan Nikaragua pada tahun 2006 memerintahkan perusahaan seperti Shell, Dow Chemical, dan Occidental Chemical untuk membayar kompensasi sebesar 805 juta dolar AS, upaya penagihan di Amerika Serikat gagal.
Pengadilan Prancis menilai jumlah ganti rugi tidak proporsional, meski para korban merasa bahwa keputusan ini tidak adil. Pengacara mereka, Raphael Kaminsky, menyatakan bahwa kasus ini akan dibawa ke mahkamah tertinggi Prancis. Ia menekankan bahwa kesedihan yang dialami para korban tidak bisa diukur hanya dengan angka finansial.
Dampak Jangka Panjang dari Penggunaan Pestisida
Profesor Grettel Navas dari Universitas Chile, yang telah melakukan penelitian terhadap polusi beracun dan kesehatan publik, menjelaskan bahwa sulit untuk mengukur kerusakan yang terjadi. Dalam wawancara pada 2017–2018, ia menyaksikan bagaimana para korban menunggu lama untuk mendapatkan pengakuan dan keadilan. “Luka terdalam adalah kelelahan fisik dan batin,” ujarnya. “Lebih dari 30 tahun memperjuangkan pengakuan dan keadilan—dan keadilan itu seperti menanti datangnya kereta yang tak kunjung tiba.”
Navas juga menyatakan bahwa pemerintah setempat tidak memberikan dukungan signifikan kepada para korban. Lembaga publik dinilai rapuh dalam menangani kasus ini serta melindungi warga dari paparan pestisida dan kerusakan ekologis.
Pestisida Terlarang di Eropa Tapi Masih Digunakan di Negara Lain
Meskipun Nemagon sudah dilarang di AS pada 1977 karena menyebabkan kemandulan pada pekerja pria, bahan kimia ini masih digunakan di negara-negara lain hingga 1980-an. Ironisnya, racun yang dikeluarkan dari rumah sendiri masih laku di pasar luar negeri.
Saat ini, banyak pestisida beracun masih digunakan di Asia, Afrika, dan Amerika Latin meskipun dilarang di Eropa. Residu bahan kimia ini mencemari udara, air, dan tanah; membunuh satwa yang tidak dituju; serta menggerus keanekaragaman hayati. Paparan jangka panjang meningkatkan risiko kemandulan, keguguran, gangguan pernapasan dan saraf, hingga berbagai jenis kanker.
Angeliki Lysimachou dari Pesticide Action Network Europe menyatakan bahwa Eropa berjanji pada 2020 untuk menghentikan praktik ini. Namun, investigasi Unearthed dan Public Eye pada September 2025 menunjukkan bahwa perdagangan ekspor pestisida terlarang justru meluas. Frances Verkamp dari Friends of the Earth Europe menilai kebijakan ekspor Uni Eropa sebagai bentuk neokolonialisme yang menjijikkan.
Ketergantungan pada Racun dalam Pertanian Ekspor
Di Kosta Rika, yang sering dipuji sebagai pelopor perlindungan lingkungan, Soledad Castro Vargas dari Universitas Zurich mendokumentasikan jejak panjang penggunaan pestisida. Dari ibu kota San Jose, ia menjelaskan tentang komunitas yang dulu bergantung pada herbisida bromacil untuk nanas dan fungisida chlorothalonil untuk sayuran kecil. Residu bahan itu masih ditemukan di tanah dan air minum hingga kini.
Chlorothalonil dilarang di Uni Eropa pada 2019, namun baru empat tahun kemudian di Kosta Rika. Bromacil dikeluarkan dari pasar Eropa sejak 2009, namun masih digunakan di Kosta Rika hingga 2017. Racun rupanya punya umur simpan yang panjang—terutama bila keuntungan ikut menjaganya.
Castro menyebut apa yang ia lihat “menghancurkan.” Komunitas kecil tak punya sumber daya untuk memantau pencemaran atau mencari sumber air baru. Sementara iklim tropis yang hangat dan lembap—surga bagi produksi pangan sepanjang tahun—juga surga bagi hama dan patogen.
Solusi dan Tantangan dalam Pertanian Berkelanjutan
Monokultur—menanam satu komoditas bernilai tinggi untuk ekspor—mempercepat penyebaran hama. “Monokrop memperkuat hama dan patogen,” ujarnya, yang pada akhirnya makin mengikat petani pada pestisida sintetis. Sebuah studi Oktober 2025 menunjukkan penggunaan pestisida sintetis lazim di pertanian industri maupun skala kecil, dan terus meningkat—terutama di negara berpendapatan rendah dan menengah bawah.
Laporan terbaru Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) menyebut penggunaan global pestisida telah dua kali lipat sejak 1990. Antara 2013–2023 naik 14%, meski turun 2% di akhir periode. Namun data nyata bisa jadi lebih tinggi, karena pelaporan terbatas. Diperkirakan dua pertiga lahan pertanian dunia berisiko tercemar pestisida.
“Pertanian industri, pasar global, struktur utang, dan sistem input korporasi telah menciptakan ketergantungan struktural,” kata Navas—lingkaran yang sulit diputus.
Alternatif dalam Pertanian Berkelanjutan
Laporan khusus PBB tentang pangan pada 2017 menyoroti alternatif: Praktik pertanian yang menyesuaikan kondisi lokal, rotasi tanaman untuk menjaga kesehatan tanah, serta memupuk keanekaragaman hayati untuk pengendalian hama alami—bahkan menggunakan bebek untuk memangsa serangga pengganggu.
Pendekatan ini dikenal sebagai agroekologi, dan dinilai mampu menyediakan pangan cukup bagi dunia. Namun untuk turun dari “treadmill” pestisida kimia, petani butuh dukungan—pemerintah, sistem penyuluhan independen, serikat tani—agar berani merancang ulang sistem tanam yang bersahabat dengan alam, tidak semata mengejar laba jangka pendek.
“Petani yang sudah melakukannya senang dengan hasilnya,” ujar Lysimachou. “Biaya kerap turun, keuntungan bisa naik. Tapi mereka beralih dengan risiko sendiri, tanpa dukungan finansial. Tidak semua orang punya kemewahan itu.”
Menurut Navas, dukungan itu juga berarti regulasi yang tegas dan setara di seluruh dunia. “Jika suatu pestisida terbukti berbahaya di Uni Eropa, besar kemungkinan risikonya sama di Amerika Latin. Biologi manusia tidak berubah karena melintasi perbatasan—jadi mengapa perlindungan hukumnya berbeda?”
Tinggalkan Balasan