Perubahan Strategi PT Berkah Inti Daya dalam Pengembangan Sorgum
PT Berkah Inti Daya, produsen sorgum, kini mengubah strategi pengembangannya. Dulu, fokus utamanya adalah menggantikan beras sebagai bahan pangan. Kini, perusahaan lebih memprioritaskan pemanfaatan sorgum sebagai biomassa energi. Hal ini dilakukan karena komersialisasi beras sorgum belum mendapat respon pasar yang baik.
Direktur Utama PT Berkah Inti Daya, Eri Prabowo, menjelaskan bahwa sekitar lima tahun lalu perusahaan pernah mencoba mengembangkan sorgum menjadi beras di Blora. Namun, minat konsumen yang rendah membuat program tersebut dihentikan. Ia menyatakan bahwa masyarakat tidak terbiasa dengan rasa beras sorgum.
“Karena memang tidak disukai oleh masyarakat, akhirnya kami tutup. Kami bangkit lagi, tapi dengan strategi baru dari bencana ke strategi yaitu biomassa,” ujarnya dalam acara Core Outlook Sektoral 2026.
Keunggulan Sorgum sebagai Tanaman Adaptif
Sorgum termasuk tanaman serealia yang adaptif dan memiliki ketahanan tinggi. Setelah pengalaman kurang berhasil di sektor pangan, perusahaan melihat peluang biomassa karena memiliki pembeli yang jelas dari sisi volume hingga jangka waktu kebutuhannya.
Pemanfaatan biomassa ini dinilai menjadi bantalan bisnis perusahaan. Strategi tersebut memungkinkan perusahaan menjaga keberlanjutan usaha sambil menyiapkan pengembangan sorgum ke tahap berikutnya.
“Ini menjadi bantalan perusahaan kami sebelum nanti kembali ke sorgum sebagai bahan pangan,” katanya.
Tantangan dalam Penerimaan Konsumen
Tantangan utama sorgum sebagai pangan bukan pada proses budidaya, melainkan pada penerimaan konsumen. Masyarakat Indonesia dinilai belum terbiasa dengan rasa beras sorgum. Kualitas beras sorgum sangat ditentukan oleh proses pengupasan kulit ari.
Dari sisi agronomis, sorgum memiliki keunggulan karena dapat tumbuh di lahan kering dan marginal. Tanaman ini dapat berkembang di tanah kapur, tanah berbatu, hingga tanah berpasir.
Relevansi Sorgum dalam Diversifikasi Pangan
Eri juga menilai sorgum relevan sebagai bagian dari strategi diversifikasi pangan, terutama di tengah tantangan perubahan iklim. Contohnya, pengembangan sorgum di Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur, berhasil membantu mengurangi isu kekurangan pangan pokok.
Selain adaptif, sorgum juga memiliki masa panen relatif singkat. Untuk kebutuhan biomassa, panen dapat dilakukan sekitar 70 hari setelah tanam, sedangkan untuk menghasilkan bulir dibutuhkan waktu sekitar 100 hari. Saat ini, perusahaan masih memprioritaskan pemanfaatan biomassa.
Proses Produksi dan Potensi Ekonomi
PT Berkah Inti Daya telah menanam sorgum di sejumlah lahan di wilayah Pelabuhan Ratu untuk memasok biomassa ke pembangkit listrik tenaga uap (PLTU). Langkah ini menjadi bagian dari strategi menjaga stabilitas usaha.
“Kami sudah menanam beberapa hektare untuk suplai ke PLTU,” ujarnya.
Dari sisi produksi, hasil biomassa sorgum dapat mencapai sekitar 30 ton per hektare kering. Dengan nilai kalor sekitar 3.000 kkal per kilogram, biomassa tersebut dihargai sekitar Rp500.000 per ton.
“Kalau dikalikan, nilainya sekitar Rp15 juta per hektare,” imbuhnya.
Sementara itu, produksi beras sorgum dapat mencapai sekitar 4 ton per hektare. Biaya produksinya dinilai lebih rendah dibandingkan padi.
“Kalau padi sekitar Rp18 juta per hektare, sorgum itu setengahnya atau sedikit lebih rendah,” terangnya.
Potensi Sorgum sebagai Komoditas Strategis
Ke depan, perusahaan menilai sorgum berpotensi menjadi komoditas strategis dengan berbagai sumber pendapatan, mulai dari biomassa, pangan, pakan ternak, hingga benih.
“Sorgum ini bisa menjadi game changer, baik di sektor pangan maupun energi,” pungkasnya.
Tinggalkan Balasan