Tagana Banten Ajarkan Kesiapsiagaan Bencana kepada Siswa SRMA 34

Edukasi Siaga Bencana untuk Siswa SRMA 34

Dalam upaya meningkatkan kesadaran dan kesiapan masyarakat terhadap potensi bencana, Dinas Sosial Provinsi Banten melalui Taruna Siaga Bencana (Tagana) melakukan edukasi siaga bencana kepada para siswa Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 34. Kegiatan ini dilaksanakan di Kabupaten Lebak, Provinsi Banten pada Rabu, 27 Agustus 2025.

Kepala Bidang Perlindungan Sosial Dinas Sosial Banten, Zainal Abidin menjelaskan bahwa pelatihan ini diikuti oleh sebanyak 100 siswa SRMA 34. Pelatihan ini melibatkan pelatih dari Tagana Provinsi Banten dan Tagana Kabupaten Lebak. Tujuan utamanya adalah untuk memberikan pemahaman yang menyeluruh tentang cara menghadapi berbagai jenis bencana.

“Para peserta dilatih dalam beberapa aspek seperti simulasi gempa bumi, teknik vertical rescue, serta antisipasi kebakaran,” ujar Zainal. Ia menekankan bahwa pelatihan ini tidak hanya berupa teori, tetapi juga melibatkan praktik langsung agar siswa dapat lebih memahami dan siap menghadapi situasi darurat.

Menurut Zainal, penting bagi anak-anak untuk terbiasa berpikir cepat, tangguh, dan percaya diri saat menghadapi bencana. Oleh karena itu, pelatihan ini dirancang agar siswa tidak hanya mendapatkan pengetahuan teoritis, tetapi juga pengalaman langsung dalam simulasi penanganan bencana.

Plt. Kepala Dinas Sosial Banten, Dicky Hardiana menambahkan bahwa edukasi seperti ini sangat penting bukan hanya untuk melindungi diri mereka sendiri, tetapi juga orang-orang di sekitar. Ia berharap kegiatan serupa dapat terus digelar agar sekolah-sekolah lain di Banten juga lebih siap menghadapi potensi bencana.

“Dengan pembekalan ini, siswa SRMA 34 diharapkan menjadi pelopor budaya siaga bencana di lingkungannya. Mereka tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu bertindak cepat saat darurat,” tegasnya.

Manfaat Pelatihan Siaga Bencana

Pelatihan siaga bencana memiliki berbagai manfaat yang signifikan, antara lain:

  • Meningkatkan kesadaran akan bahaya bencana: Siswa lebih memahami ancaman yang bisa terjadi dan bagaimana menghadapinya.
  • Membentuk sikap tangguh dan percaya diri: Melalui simulasi, siswa belajar untuk tetap tenang dan berpikir jernih dalam situasi kritis.
  • Mendorong partisipasi aktif dalam masyarakat: Siswa yang terlatih dapat menjadi contoh dan membantu masyarakat sekitarnya dalam menghadapi bencana.
  • Memperkuat kesiapan komunitas: Dengan adanya siswa-siswa yang siap, komunitas di sekitar sekolah akan lebih siap menghadapi bencana.

Langkah-Langkah yang Dilakukan dalam Pelatihan

Dalam pelatihan tersebut, beberapa langkah penting dilakukan untuk memastikan peserta memahami seluruh proses:

  • Simulasi gempa bumi: Peserta diajarkan cara berlindung dan evakuasi saat terjadi gempa.
  • Teknik vertical rescue: Peserta diberi pemahaman tentang cara menyelamatkan korban dari bangunan yang roboh.
  • Antisipasi kebakaran: Peserta diajarkan cara mengenali tanda-tanda kebakaran dan langkah-langkah pencegahan serta penyelamatan.
  • Pemahaman tentang peralatan darurat: Peserta diperkenalkan dengan alat-alat yang digunakan dalam penanganan bencana.

Dengan pendekatan yang holistik dan praktis, pelatihan ini diharapkan mampu menciptakan generasi muda yang lebih siap dan tangguh dalam menghadapi ancaman bencana. Selain itu, keberlanjutan dari program ini menjadi prioritas utama agar lebih banyak lagi siswa dan masyarakat yang teredukasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *