Ringkasan Berita:Heboh kasus pembunuhan Faizah Soraya di Medan
- Pembunuhan Seorang Ibu di Dwikora Medan mencurigakan
- Faizah Soraya Ditikam hingga korban meninggal
- Anak wanita masuh SD disebut membunuh ibunya di Jalan Dwikor
- Polrestabes Medan melakukan prarekonstruksi 43 adegan pembunuhan ibu tersebut
forumnusantaranews.com, MEDAN –Heboh kasus pembunuhan Faizah Soraya alias Ayu (42), seorang ibu di Jalan Dwikora, Kelurahan Tanjung Rejo, Kecamatan Medan Sunggal pada Rabu (10/11/2025
Namun hingga kini polisi belum menetapkan siapa tersangka dalam kasus tersebut.
Meski demikian, polisi mengamankan SAS (12), seorang anak wanita yang masih duduk disekolah dasar (SD) kelas 6.
Belum diketahui apakah SAS pelaku menikam ibunya Faizah Soraya hingga menyebabkan korban meninggal
Polrestabes Medan melakukan prarekonstruksi kasus anak disebut membunuh ibunya di Jalan Dwikora, Kelurahan Tanjung Rejo, Kecamatan Medan Sunggal, Minggu (14/12/2025)
Ada 43 adegan dalam rekonstruksi tersebut.
Kapolrestabes Medan, Kombes Pol Dr Jean Calvijn Simanjuntak mengungkap, bahwa pra rekon itu dilakukan untuk menyempurnakan proses penyidikan yang dilakukan oleh pihaknya.
“Pra rekonstruksi ini yang ke dua. Pra rekon pertama dilakukan di polres dengan pemeran pengganti. Kali ini dilakukan sesuai dengan fakta aslinya,” ujar Kombes Pol Dr Jean Calvijn saat ditemui di lokasi TKP.
Tak hanya itu, pihaknya juga melakukan penggeledahan kembali. dan beberapa barang diamankan pihaknya juga didalami.
“Ada beberapa barang kami bawa untuk didalami,” ungkapnya.
Terkait penetapan tersangka, Kombes Pol Calvijn enggan membeberkan secara rinci.
Hingga kini pihaknya, masih menunggu hasil pemeriksaan assessment psikologi anak berhadapan dengan hukum yang dilakukan Dinas perlindungan anak dan Pihak terkait lainnya.
“Mudah-mudahan di minggu ini, apabila hasil tersebut yang dilakukan oleh pendamping baik itu dari psikolog, dinas perlindungan anak, bapas dan tim terkait lainnya, termasuk KPAI, biar secara terang benderang ini bisa kompilir. Semua hal-hal penyidik perlukan supaya membuat peristiwa ini terang benderang,” katanya.
Perwira menengah tiga bunga melati emas ini mengimbau untuk masyarakat untuk bersabar.
Ia juga berharap seluruh elemen menjaga kasus tersebut karena melibatkan anak yang berhadapan dengan hukum.
Pihaknya mengaku sangat berhati-hati dalam menangani perkara tersebut.
“Perlu diingat, tolong bersabar, tolong kita jaga bersama kasus ini karena kami menangani kasus anak berumur 12 tahun 37 hari saat kejadian. Kami mohon, apabila kasus ini sudah layak kami informasikan, maka akan kami sampaikan,” pungkasnya.
Polrestabes Medan masih terus mendalami kasus pembunuhan seorang ibu oleh yang diduga dilakukan oleh anak kandungnya sendiri di Jalan Dwikora, Kelurahan Tanjung Rejo, Kecamatan Medan Sunggal, Kota Medan, Sumatera Utara, pada Rabu (10/12/2025) sekitar pukul 05.00 WIB.
Terduga pelaku yang diamankan saat ini berinisial SAS (12), perempuan berstatus pelajar SD menuju SMP.
SAS diduga menikam ibunya, hingga tewas di tempat tidur.
Kasatreskrim Polrestabes Medan, AKBP Bayu Putro Wijayanto, mengonfirmasi bahwa pelaku telah diamankan dan sedang menjalani pemeriksaan intensif.
“Pelaku sudah dibawa ke Polrestabes Medan, hingga kini masih proses pendalaman dan pemeriksaan dengan pendampingan,” ucapnya.
Bayu menjelaskan bahwa proses pemeriksaan terhadap SAS dilakukan dengan hati-hati mengingat usianya yang masih di bawah umur dan kondisi psikologisnya.
“Masih kita periksa, karena masih kecil dan trauma, dan harus ada pendamping nih,” kata AKBP Bayu saat dikonfirmasi awak media.
Sementara itu, motif di balik perbuatan keji tersebut masih menjadi fokus penyelidikan. Saat ini polisi masih mendalami kasus tersebut, termasuk jumlah dan luka tusukan pada korban. “Untuk tusukan terhadap korban kita masih mendalami. Masih di dalami,” lanjutnya.
Anak SD Pendiam dan Berprestasi
Dalam pemberitaan sebelumnya, SAS disebut siswi SMP. Ternyata masih kelas VI SD.
Warga mengaku terkejut, sebab SAS dikenal sebagai anak yang baik, pendiam, ramah, dan juga berprestasi di sekolahnya.
“Kami tidak menyangka anaknya bisa melakukan itu. Ia adalah anak yang paling ramah, baik saat bertemu dengan orang. Tak hanya itu, ia juga berprestasi dalam mengikuti lomba di sekolahnya,” ujar warga tersebut.
Warga juga mengungkapkan bahwa keluarga korban termasuk tertutup dan jarang berinteraksi dengan lingkungan sekitar.
Korban hampir tidak pernah bergaul dengan tetangga dan sangat jarang keluar rumah.
“Mereka itu orangnya tertutup, jadi satu keluarga itu jarang keluar rumah. Hanya saja, ketika berpapasan barulah mereka menegur kami. Korban memang tidak pernah bergaul dengan tetangga dan tidak pernah keluar,” lanjutnya.
Jarangnya interaksi ini membuat warga tidak mengetahui masalah internal di dalam rumah tangga tersebut, hingga akhirnya warga dikejutkan dengan adanya pembunuhan di dalam rumah.
“Kita tidak tahu permasalahan keluarganya. Yang kami tahu itu saat kejadian lah ada pembunuhan,” ucapnya.
Namun, warga menduga kuat bahwa motif pembunuhan berawal dari masalah rumah tangga.
“Mungkin karena emaknya itu cerewet, jadi mungkin sakit hati. Padahal, sudah mau tamat sekolah (SD) pelaku ini. Dalam agama, keluarga mereka kuat,” katanya.
Terduga pelaku SAS, meski masih duduk di bangku kelas VI SD, memang fisiknya berbadan tinggi.
Bahkan, tingginya badannya, sama dengan sang ibu.
Sebelumya diberitakan, cekcok antara anak dan ibu kandung hingga berujung maut di Jalan Dwikora, Kelurahan Tanjung Rejo, Kecamatan Medan Sunggal.
Peristiwa insiden maut ini terjadi pada Rabu (10/12/2025) sekitar pukul 05.00 WIB, di mana ibu rumah tangga bernama Faizah Soraya (42) bersimbah darah di sekujur tubuhnya di dalam kamar tidur.
Pengakuan Keluarga hingga Isu Baru Beredar di Medsos
Salah satu akun yang belum terkonfirmasi, mengaku dari keluarga korban, membuat klarifikasi di kolom komentar Instagram.
Pengakuan dari keluarga korban, menyebut sang suami selingkuh dan minta cerai sebelum kejadian.
Sehingga menaruh kecurigaan terhadap suami korban yang diduga mengatur pembunuhan.
Melalui akun @pakdebrewok2122 membuat klarifikasi di kolom komentar Instagram @lambe_turah.
Berikut klarifikasi
Izin klarifikasi karena ini keluarga saya,
Kejadian subuh pagi, diduga si adek bunuh mamanya. Kami sekeluarga gak percaya karna alasan yang gak masuk logika bahwa adeknya dendam karna kakaknya di marahin mama nya.
Dan yang buat kami gak percaya adalah sebelum kejadian si jantan ini selingkuh dan udah minta cerai tapi si istri gak mau dan udah pisah ranjang dan ntah kenapa bisa balik lagi ke rumah itu.
Dan semua adalah alibi si ayah nya bilang adeknya di kamar megang pisau bunuh mama nya dan dia katanya tidur di atas jadi gak dengar katanya tolong pak polisi selidiki ini jantan dan sekarang si jantan ini bisa keluar kemana2
logika ini adek masih kelas 6 SD bukan SMP ya kawan2 dan luka tusuk ada 20 tusukan logika aja gak teriak mamaknya klok gak di bekap.
Bagaimana Bisa Anak SD Lakukan 20 Tusukan?
Praktisi hukum dan Ketua Peradi Kota Medan, Dwi Ngai Sinaga menekankan agar penyidikan kasus ini dilakukan dengan ekstrak kehati-hatian dan ketelitian yang tinggi.
Dalam pernyataannya, Dwi Ngai Sinaga meminta agar Tim Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polrestabes Medan yang menangani kasus ini harus melibatkan secara penuh polisi wanita (Polwan) dan didampingi oleh tim psikolog.
“Kita turut prihatin atas peristiwa ini. Kita minta agar dalam proses pemeriksaan hanya ditangani oleh Polwan dengan didampingi tim psikolog. Kasus ini harus ditangani secara jeli, teliti, dan ekstra hati-hati karena masih rawan dan dapat mengguncang jiwa si anak,” ucap Dwi Ngai Sinaga saat ditemui awak media, Jumat (12/12/2025).
Ia juga menyoroti fakta bahwa korban dilaporkan menerima 20 luka tusukan.
Hal ini memunculkan pertanyaan mendasar tentang kemampuan fisik seorang anak untuk melakukan serangan sebanyak itu dengan kekuatan layaknya orang dewasa.
“Kami sangat meragukan bagaimana kemampuan seorang anak bisa melakukan hal ini dengan kekuatan tenaga orang dewasa. Maka, diperlukan ketelitian dan kejelian tim penyidik,” tegasnya.
Lebih lanjut, Dwi Ngai Sinaga menyampaikan kepercayaannya kepada pimpinan Polrestabes Medan untuk mengungkap tuntas kasus ini.
“Di bawah kepemimpinan Kapolrestabes Medan Kombes Pol. Calvijn Simanjuntak, proses penyelidikan kasus pasti akan tuntas dilakukan,” lanjutnya.
Dwi Ngai Sinaga mengimbau kepada media massa dan masyarakat luas untuk menjaga etika dalam menyikapi kasus ini.
“Kami minta kepada teman-teman media agar kaidah jurnalistik untuk anak dijunjung, dengan tidak menampilkan foto atau identitas sang anak. Kami juga imbau masyarakat dan netizen untuk tidak menyebarkan konten serupa dan melakukan penghakiman sepihak,” tuturnya.
(Cr9/forumnusantaranews.com)
Baca berita TRIBUN MEDAN lainnya di Google News
Ikuti juga informasi lainnya di Facebook, Instagram dan Twitter dan WA Channel
Berita viral lainnya di Tribun Medan
Tinggalkan Balasan