Perjalanan Politik dan Kehidupan Wahyudin Moridu
Wahyudin Moridu, anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Gorontalo, resmi diberhentikan dari jabatannya. Keputusan ini diambil oleh Badan Kehormatan DPRD pada 22 September 2025. Alasan pemberhentian tersebut terkait dengan pelanggaran sumpah janji dan kode etik sebagai wakil rakyat.
Peristiwa ini bermula dari sebuah video yang menampilkan Wahyudin dalam situasi tidak pantas. Video tersebut direkam pada Juli 2025 dan berisi pernyataan yang dinilai menghina masyarakat. Dalam video itu, ia menyampaikan ucapan yang dianggap tidak sopan terhadap uang negara dan mempermalukan kewajibannya sebagai pejabat publik.
“Hari ini menuju Makassar menggunakan uang negara. Kita rampok ajah uang negara ini kan. Kita habiskan ajah, biar negara ini makin miskin,” ucap Wahyudin sambil tertawa. Ia juga menyebut wanita di sampingnya sebagai “hugel” atau kekasih gelap yang dibawa dalam perjalanan dinas. Pernyataan tersebut memicu kemarahan publik dan dianggap melanggar etika pejabat.
Akibat video yang viral di media sosial dan ramai diberitakan oleh sejumlah media pers, Wahyudin akhirnya dipecat dari partainya. Karier politik putra dari mantan Bupati Boalemo, Darwis Moridu, itu pun berakhir. Ia kini telah menerima takdirnya dan memilih kembali ke pekerjaan lamanya, yaitu menjadi sopir truk.
Sebelum terjun ke dunia politik, Wahyudin sempat bekerja sebagai sopir truk. Setelah dipecat dari partai dan di-PAW dari DPRD Provinsi Gorontalo, Wahyu kembali menjadi sopir truk. Hal ini disampaikan langsung oleh Wahyu melalui akun TikTok istrinya, Mega Nusi, pada Sabtu (20/9/2025) malam.
Di hadapan ribuan penonton, Wahyu mengakui kesalahannya dan menyatakan menerima semua konsekuensi tanpa pembenaran. “Apa yang saya sampaikan saya akui salah, teman-teman. Tidak ada yang membenarkan bahwa saya benar, tidak, tidak,” ucap Wahyu yang saat itu didampingi sang istri. Ia mengaku akan kembali menjalani kehidupan awalnya sebagai sopir truk.
Perbandingan dengan Ahmad Sahroni
Kisah Wahyudin Moridu ini mengingatkan kita pada Ahmad Sahroni, seorang tokoh politik yang juga pernah menjadi sopir truk. Berbeda dengan Wahyudin, Sahroni lahir dari keluarga sederhana. Kesamaan antara keduanya adalah keduanya pernah menjadi sopir truk sebelum bergelut dalam dunia politik.
Setelah lulus SMA, Sahroni bekerja sebagai sopir di PT Niaga Gemilang Samudera dan PT Millenium Inti Samudra. Selain itu, ia juga pernah bekerja di kapal pesiar di Miami, Florida. Dari posisi sebagai sopir, karier Sahroni perlahan tapi pasti merangkak naik. Di PT Millenium Inti Samudra, ia naik jabatan dari staf operasional hingga menjadi Direktur Operasional hanya dalam beberapa tahun.
Setelah mengumpulkan modal, ia mendirikan beberapa perusahaan di bidang transportasi dan maritim, seperti PT Ekasamudera Lima dan PT Ruwanda Satya Abadi. Ia dikenal sebagai “Crazy Rich Tanjung Priok” karena kesuksesannya di dunia bisnis.
Karier Politik Ahmad Sahroni
Karier politik Ahmad Sahroni dimulai saat ia bergabung dengan Partai NasDem pada tahun 2013. Sejak saat itu, ia terus dipercaya memegang jabatan penting, termasuk Bendahara Umum DPP Partai NasDem. Sahroni kemudian terpilih sebagai anggota DPR RI dari daerah pemilihan DKI Jakarta III.
Karier terakhirnya saat ini adalah Wakil Ketua Komisi III DPR RI, sebelum dinonaktifkan oleh NasDem. Nasib Sahroni terbilang masih lebih baik daripada Wahyudin Moridu. Meskipun sama-sama pernah melukai hati rakyat karena ucapan, Sahroni tidak dipecat oleh partainya.
Pada 31 Agustus 2025, Partai NasDem secara resmi menonaktifkan Ahmad Sahroni dari posisinya sebagai Anggota DPR RI dari Fraksi Partai NasDem. Status nonaktif berarti pemberhentian sementara dari DPR, tetapi kursi parlemennya masih sah milik dirinya sampai ada proses “recall” (pergantian antarwaktu) yang diatur dalam undang-undang. Selain dinonaktifkan dari DPR, Sahroni juga sebelumnya telah dicopot dari jabatannya sebagai Wakil Ketua Komisi III DPR dan dipindahkan menjadi anggota Komisi I DPR.
Tinggalkan Balasan