Warga Aceh Masih Bertahan di Pengungsian, DPR Mendorong Percepatan Relokasi
Ribuan korban banjir yang terjadi di Aceh masih tinggal di pengungsian sementara. Mereka menantikan kehadiran hunian tetap yang layak dan aman. Dalam upaya pemulihan pasca-bencana, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) mengajukan permintaan percepatan relokasi lahan hunian tetap (huntap) sebagai langkah strategis agar warga segera memiliki rumah yang bisa menjadi tempat tinggal permanen.
Wakil Ketua Komisi V DPR RI, Andi Iwan Darmawan Aras, menyampaikan bahwa percepatan relokasi huntap memerlukan koordinasi lintas kementerian dan lembaga. Selain itu, perlu dilakukan optimalisasi aset negara agar lahan siap bangun dapat segera tersedia. Menurutnya, penyediaan lahan untuk hunian tetap bisa berasal dari tanah pemerintah, BUMN, atau PTPN. Pelaksanaannya akan dilakukan oleh Kementerian Perumahan melalui pembangunan rumah-rumah tetap.
Selain itu, untuk warga yang rumahnya mengalami kerusakan ringan hingga sedang, pemerintah dapat memanfaatkan program Bedah Rumah, Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS), serta bantuan rehabilitasi dari Kementerian Sosial. Hal ini bertujuan untuk memberikan bantuan yang lebih cepat dan efektif kepada masyarakat yang terdampak.
Warga Masih Mengungsi
Setelah satu minggu banjir bandang, ribuan warga Aceh Tamiang masih bertahan di posko pengungsian. Akses menuju desa-desa yang terdampak terhambat akibat lumpur dan tumpukan kayu, sehingga bantuan sulit masuk. Kondisi ini memperkuat urgensi relokasi huntap agar korban segera memiliki rumah layak.
Kayu Gelondongan Dimanfaatkan
Politisi Fraksi Gerindra tersebut juga menyoroti pentingnya efisiensi dalam pembangunan rumah pascabencana dengan memanfaatkan sumber daya lokal. Contohnya, kayu gelondongan yang terbawa arus banjir dapat digunakan sebagai material bangunan agar tidak menjadi limbah. Diperlukan diskresi terkait pemanfaatan kayu-kayu tersebut agar dapat difungsikan untuk pembangunan rumah. Hal ini diharapkan mampu menekan biaya, baik dari APBN maupun CSR.
Peringatan Dini BMKG Diperkuat
Andi menekankan peran Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dalam memberikan peringatan dini. Hal ini sangat penting mengingat musim penghujan baru memasuki tahap awal dan potensi bencana susulan masih tinggi. Ia meminta BMKG terus memberikan early warning kepada masyarakat dan pemerintah daerah agar risiko bencana susulan dapat diantisipasi dengan lebih baik.
Pemerintah Siapkan Huntara dan RISHA
Pemerintah telah memastikan hunian sementara (huntara) sudah disiapkan oleh BNPB. Sementara itu, hunian tetap (huntap) akan dibangun dengan metode Rumah Instan Sederhana Sehat (RISHA) berbahan beton pracetak. Sebanyak 51 lokasi relokasi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat disiapkan untuk pembangunan huntap.
Presiden Prabowo Subianto turut meninjau pembangunan 600 unit huntara di Aceh Tamiang yang rampung dalam delapan hari. Dalam kunjungan tersebut, Presiden memimpin rapat koordinasi bersama sejumlah menteri, Gubernur Aceh, dan pejabat daerah. Ia menekankan bahwa hunian sementara merupakan langkah awal sebelum relokasi hunian tetap dapat direalisasikan.
Harapan Warga Aceh
Harapan warga Aceh sangat sederhana: segera memiliki rumah layak setelah kehilangan segalanya. Relokasi huntap yang cepat, terkoordinasi, dan berbasis kebutuhan nyata menjadi kunci agar pemulihan pascabencana benar-benar dirasakan masyarakat.
Tinggalkan Balasan