Wawancara Eksklusif Janice Tjen: Perjuangan Atlet Tenis RI Ciptakan Sejarah

Janice Tjen: Perjalanan Menuju Panggung Internasional

Janice Tjen telah menjadi kebanggaan bagi Indonesia sepanjang tahun 2025. Ia menciptakan sejarah dalam dunia tenis, tetapi perjalanan menuju titik ini tentu tidak mudah. Meskipun tidak lahir dari keluarga dengan latar belakang atlet tenis, Janice membuktikan bahwa kerja keras dan semangat pantang menyerah bisa membuka jalan menuju panggung internasional.

Kariernya sebagai petenis dimulai saat ia menjalani pendidikan sekaligus berkompetisi di Amerika Serikat melalui jalur student-athlete. Di sana, Janice mendapatkan fasilitas, lingkungan, dan kompetisi yang lebih baik dibandingkan di Indonesia, sehingga membantu mengembangkan mental, teknik, dan fisiknya untuk level profesional. Ia kemudian tampil di berbagai turnamen internasional, mulai dari ITF hingga WTA, bahkan lolos kualifikasi Grand Slam.

Salah satu pencapaian terbesarnya adalah tampil di US Open, salah satu lawannya adalah Emma Raducanu, mantan juara turnamen tersebut. Di sektor tunggal putri WTA, Janice Tjen tercatat sebagai runner up Sao Paolo Open (250), serta menjuarai Jinan Open (125) dan Chennai Open (250). Sementara di ganda putri, ia memenangkan Suzhou Open (125), Guangzhou Open (250), dan Chennai Open (250).

Untuk gelar Guangzhou Open, Janice meraihnya bersama Katarzyna Piter asal Polandia. Sementara di Suzhou dan Chennai Open, ia menjadi juara bersama Aldila Sutjiadi. Mereka bukan pasangan baru, karena pernah meraih medali perunggu Asian Games 2022 bersama. Kini, Janice Tjen menduduki peringkat 53 dunia di kategori tunggal putri. Ia tidak puas diri dan ingin terus meningkatkan prestasinya.

Awal Mula Mengenal Tenis

Awal mula Janice Tjen mengenal tenis bermula dari teman, terutama karena dekat dengan Priska Madelyn Nugroho sejak kecil dan satu sekolah. Orang tua mereka saling mengenal, lalu diajak mencoba bermain tenis dan akhirnya mulai ikut latihan. Awalnya hanya ekskul atau main biasa, tapi pelatihnya memberi masukan kepada orang tua bahwa Janice memiliki bakat. Dari seminggu sekali latihan, ia akhirnya berlatih tiga minggu sekali, lalu setiap hari.

Pernah coba olahraga lain selain tenis? Awalnya, saat SD, di sekolah pastinya banyak dikenalkan olahraga lain seperti futsal, basket, dan badminton. Ayah Janice juga suka bermain badminton. Namun, ia akhirnya memilih tenis karena lebih serius. Dari seminggu sekali tiba-tiba jadi tiga minggu sekali, lalu setiap hari. Dari situ, ia mulai senang dengan peningkatan kemampuan dan pengalaman bermain.

Raket Pertama dan Pengalaman Awal

Pertama kali mendapatkan raket pertama, Janice tidak mengerti apa-apa. Raket itu berwarna merah dengan sedikit warna silver. Ia diberi raket itu, dan bermain secara gratis. Raket itu kembar dengan kakaknya. Jika bisa berbicara kepada dirinya sendiri waktu kecil, ia ingin menyampaikan bahwa kerja keras dan enjoy dengan perjalanan akan membawa hasil.

Janice pernah lebih ingin bermain tenis daripada sekolah. Benar, karena dari dulu lebih senang bermain olahraga daripada duduk di kelas. Keluarga sangat mendukungnya, termasuk dalam memutuskan untuk bermain di Amerika Serikat melalui liga mahasiswa. Keputusan ini didukung oleh orang tua, yang membantu memperoleh informasi tentang program tersebut.

Adaptasi di AS dan Tantangan

Di AS, Janice menghadapi culture shock, terutama dari program-program yang disediakan dan tingkat kompetisi pemain-pemain di sana. Proses adaptasi awalnya sulit, terutama dalam berkomunikasi dengan pelatih dan rekan tim. Namun, ia akhirnya terbiasa dengan dukungan yang kuat dari rekan-rekan tim.

Ada saat-saat ragu untuk menjadi pemain profesional, terutama karena harus sering bepergian dan biaya yang mahal. Namun, pelatih di AS memberi dukungan dan menyarankan untuk mencoba tur selama dua tahun. Ini membantu Janice melewati keraguan tersebut.

Biaya Turnamen dan Dukungan Sponsor

Biaya turnamen bervariasi, tergantung lokasi dan tiket pesawat. Di awal, Janice mendapat sponsor dari teman yang melihat prestasinya selama di kampus. Keluarga juga memberi dukungan, terutama ketika ia sedang down. Tantangan terbesar sebagai petenis Indonesia adalah tidak adanya turnamen profesional di negara sendiri, sehingga harus sering bepergian.

Perkembangan Karier dan Target Berikutnya

Dalam beberapa tahun terakhir, Janice telah tampil di banyak turnamen WTA. Ia tidak menyangka bisa naik ke peringkat 50-an dalam waktu singkat. Kuncinya adalah konsistensi, kerja keras, dan terus belajar dari setiap pertandingan.

Janice memilih jurusan Sosiologi karena membutuhkan waktu yang lebih fleksibel, agar bisa fokus pada tenis. Cita-citanya selalu jadi petenis. Inspirasinya adalah Ashleigh Barty. Ia ingin melawan Sabalenka, pemain top 10 besar, karena ingin menguji kemampuannya.

Di US Open, ia melawan Emma Raducanu. Meski lebih berpengalaman, Janice mengakui bahwa ia masih harus belajar lebih banyak. Untuk bisa ikut US Open, ia harus mengumpulkan poin dari turnamen ITF terlebih dahulu.

Masa Depan yang Lebih Baik

Janice tidak pernah ditawarkan untuk bermain dengan bendera negara lain. Target berikutnya adalah terus meningkatkan performa dan ranking. Ia ingin menjadi lebih baik dari sekarang, tanpa puas diri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *