Tahun 2025 sebagai Tahun Terpanas Ketiga dalam Sejarah
Data terkini menunjukkan bahwa tahun 2025 menjadi salah satu tahun terpanas yang pernah tercatat, dengan posisi ketiga setelah tahun-tahun sebelumnya. Hal ini menandai semakin dekatnya dunia pada ambang batas pemanasan global yang telah disepakati dalam Perjanjian Iklim Paris 2015.
Selama tahun 2025, berbagai bencana iklim muncul dan memperkuat indikasi bahwa perubahan iklim sedang memengaruhi seluruh dunia. Misalnya, kebakaran hutan yang meluas di Los Angeles, siklon yang tidak biasa menghancurkan wilayah Asia Tenggara, serta kekeringan ekstrem yang membuat Iran mempertimbangkan pemindahan ibu kota. Semua peristiwa ini menunjukkan bagaimana cuaca ekstrem semakin sering terjadi.
Temuan dari program Copernicus Climate Change Service milik Uni Eropa menunjukkan bahwa suhu rata-rata global pada tahun 2025 melampaui ambang batas 1,5 derajat Celsius. Ini merupakan tahun ketiga berturut-turut sejak 2023 dan 2024, di mana suhu rata-rata global melebihi angka tersebut. Mauro Facchini, yang memimpin observasi Bumi di Komisi Eropa, menyebut kondisi ini sebagai “tonggak yang tak seorang pun ingin capai”.
Para ilmuwan sudah lama memperingatkan tentang bahaya jika batas suhu ini terlampaui. Kenaikan suhu di atas 1,5 derajat Celsius dikhawatirkan akan meningkatkan frekuensi hari panas ekstrem, risiko banjir mematikan, serta memperburuk badai yang merusak. Carlo Buontempo, direktur layanan perubahan iklim Copernicus, menyatakan bahwa dunia berpotensi melampaui ambang batas tersebut dalam jangka panjang.
Langkah yang Diperlukan untuk Menghadapi Pemanasan Global
Para ilmuwan sepakat bahwa diperlukan tindakan simultan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dan sekaligus beradaptasi dengan perubahan iklim yang semakin parah. Transisi ke energi bersih menjadi salah satu langkah utama dalam mengurangi dampak perubahan iklim. Selain itu, adaptasi juga penting agar manusia dapat hidup di planet yang semakin hangat.
Pada KTT iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa tahun lalu, negara-negara berkomitmen untuk mengalokasikan dana sebesar US$120 miliar atau sekitar Rp2.011 triliun bagi negara rentan. Dana ini ditujukan untuk proyek adaptasi seperti pembangunan tanggul laut, sistem peringatan dini, dan pengembangan tanaman tahan kekeringan. Sayangnya, komitmen finansial ini belum selalu berujung pada aksi nyata.
Peran El Niño dalam Kenaikan Suhu
Gas rumah kaca tetap menjadi penyebab utama peningkatan suhu global. Emisi ini dilepaskan saat manusia membakar bahan bakar fosil seperti minyak, batu bara, dan gas. Emisi ini berkaitan langsung dengan meningkatnya kejadian cuaca ekstrem yang mengancam nyawa banyak orang.
Masalah ini semakin diperparah oleh rusaknya penyerap karbon alami, seperti hutan, yang seharusnya mampu menyerap karbon dioksida. Laurence Rouil, direktur layanan pemantauan atmosfer Copernicus, menyatakan bahwa data atmosfer tahun 2025 memberi gambaran jelas bahwa aktivitas manusia masih menjadi pendorong utama suhu ekstrem yang kita amati. Ia menambahkan bahwa konsentrasi gas rumah kaca terus meningkat secara stabil selama 10 tahun terakhir.
Namun, fenomena El Niño yang sangat kuat pada 2023 dan 2024 memperparah kondisi ini. Pola iklim ini mendorong panas dari samudra ke atmosfer, sehingga memengaruhi suhu global secara signifikan. Hasilnya, es laut di Kutub Utara dan Selatan mencapai titik terendah sepanjang sejarah pada 2025. Antarktika juga mengalami suhu tahunan terhangat yang pernah tercatat, sementara setengah dari daratan dunia mengalami lebih banyak hari dengan panas berbahaya dibandingkan biasanya.
Pesan dari Atmosfer
“Atmosfer sedang mengirimkan pesan kepada kita, dan kita harus mendengarkannya,” ujar Rouil. Data yang dirilis menunjukkan bahwa perubahan iklim bukanlah isu jangka pendek, tetapi tantangan yang harus dihadapi secara serius dan berkelanjutan. Tindakan kolektif dari seluruh dunia diperlukan untuk mengurangi dampak pemanasan global dan menjaga kelangsungan hidup bumi.
Tinggalkan Balasan