Fakta Listrik Aceh: Ucapan Bahlil Tidak Sesuai Data, Hanya 60 Persen Dari 97 Persen

Isu Listrik di Aceh Pasca Banjir, Bahlil Lahadalia Dituduh Berbohong

Beberapa hari setelah bencana banjir dan longsor mengguncang Aceh, isu tentang kondisi listrik di wilayah tersebut kembali menjadi sorotan. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia dilaporkan menyampaikan informasi bahwa 97 persen wilayah Aceh telah kembali memiliki pasokan listrik. Namun, laporan tersebut justru menimbulkan ketidakpuasan dari berbagai pihak, termasuk anggota DPR RI dan masyarakat setempat.

Kritik terhadap Laporan Bahlil

Anggota DPR RI dari Partai Gerindra, TA Khalid, memberikan kritik tajam terhadap pernyataan Bahlil. Ia menyebut bahwa data yang disampaikan oleh menteri tersebut tidak sesuai dengan realitas di lapangan. Menurut Khalid, saat ini hanya sekitar 60 persen daerah di Aceh yang sudah mendapatkan pasokan listrik. Ia menegaskan bahwa kebohongan dalam laporan data bisa berdampak buruk bagi masyarakat dan memperlambat proses penanganan bencana.

Khalid juga memperingatkan agar seluruh menteri tidak asal melaporkan data kepada Presiden. Ia menekankan pentingnya transparansi dan kejujuran dalam penyampaian informasi agar kebijakan yang diambil dapat benar-benar membantu rakyat Aceh.

Realita di Lapangan

Berdasarkan pengamatan dan laporan dari berbagai wilayah di Aceh, kondisi listrik masih belum pulih sepenuhnya. Misalnya, di Kota Banda Aceh, beberapa daerah masih mengalami pemadaman listrik. Hal serupa juga terjadi di Aceh Besar, Aceh Jaya, Bireuen, dan Gayo Lues. Warga di beberapa lokasi bahkan mengeluhkan bahwa listrik mati selama beberapa hari tanpa ada tanda-tanda perbaikan.

Salah satu warga, Hilmi Irsyadi, mengungkapkan bahwa listrik di tempat tinggalnya di Gampong Pango Deah, Kecamatan Ulee Kareng, Banda Aceh, masih padam sejak Minggu pagi hingga Senin malam. Sementara itu, Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, dan Persandian Kabupaten Bireuen, M Zubair MH, menyatakan bahwa seluruh Bireuen masih gelap karena listrik belum menyala.

Penjelasan dari Pihak Pemerintah Aceh

Juru Bicara Pemerintah Aceh, Muhammad MTA, memberikan klarifikasi terkait klaim Bahlil. Menurutnya, data yang diberikan oleh Menteri ESDM tidak sesuai dengan kondisi nyata di lapangan. Ia menjelaskan bahwa hingga saat ini, suplai listrik Aceh baru mencapai 60-70 persen dari total jaringan. Di Banda Aceh sendiri, hanya 35-40 persen yang sudah menyala. Meski demikian, jika suplai tegangan tinggi dari pembangkit listrik Arun selesai, kemungkinan besar seluruh wilayah akan kembali menyala.

MTA juga menegaskan bahwa jumlah petugas PLN yang dikerahkan untuk pemulihan listrik mencapai hampir 1.000 orang. Ia berharap semua pihak tetap berhati-hati dalam menyampaikan informasi, terutama dalam situasi bencana yang sangat berpengaruh terhadap psikologi masyarakat.

Peran Ombudsman RI

Ombudsman RI juga turut mengkritik informasi yang disampaikan oleh Kementerian ESDM dan PLN. Anggota Ombudsman RI, Johanes Widijantoro, menekankan bahwa akurasi informasi sangat penting dalam situasi darurat. Ia menyatakan bahwa penyampaian informasi yang tidak sesuai fakta justru dapat menghambat pemulihan layanan publik dan merusak kepercayaan masyarakat.

Menurutnya, dalam kondisi bencana, masyarakat tidak membutuhkan laporan yang dibuat untuk menyenangkan pimpinan. Mereka membutuhkan informasi yang jujur, transparan, dan sesuai dengan kondisi nyata.

Kesimpulan

Isu listrik di Aceh pasca banjir dan longsor menunjukkan adanya ketidaksesuaian antara laporan resmi dan realitas di lapangan. Hal ini menimbulkan kekecewaan dari masyarakat dan kritik terhadap para pejabat yang dinilai tidak jujur dalam menyampaikan data. Diperlukan transparansi dan akurasi informasi agar upaya pemulihan dapat berjalan lebih efektif dan mendapatkan dukungan dari masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *