Rupiah Jisdor turun 0,10% ke Rp 16.669 per dolar AS pada Senin (15/12/2025)

Rupiah Melemah di Pasar Spot dan Jisdor BI

Pada Senin (15/12/2025), nilai tukar rupiah mengalami penurunan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di berbagai pasar. Di Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI), rupiah ditutup pada level Rp 16.669 per dolar AS, yang merupakan penurunan sebesar 0,10% dibandingkan posisi akhir pekan lalu yang ada di Rp 16.652 per dolar AS.

Pergerakan rupiah di Jisdor BI sejalan dengan pergerakan rupiah di pasar spot. Pada akhir perdagangan Senin, rupiah di pasar spot ditutup pada level Rp 16.667 per dolar AS, melemah 0,13% dari posisi akhir pekan lalu yang berada di Rp 16.646 per dolar AS. Hal ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap rupiah terus berlangsung di berbagai sektor perdagangan.

Di kawasan Asia, rupiah mengalami depresiasi terhadap dolar AS. Sementara itu, dolar Taiwan juga melemah sebesar 0,55%, dan rupee India melemah sebesar 0,29%. Meskipun demikian, mayoritas mata uang Asia lainnya menguat terhadap dolar AS. Beberapa contohnya adalah:

  • Yen Jepang menguat sebesar 0,35%
  • Won Korea menguat sebesar 0,30%
  • Baht Thailand menguat sebesar 0,23%
  • Ringgit Malaysia menguat sebesar 0,18%
  • Dolar Singapura menguat sebesar 0,12%
  • Yuan China menguat sebesar 0,09%
  • Dolar Hong Kong menguat sebesar 0,04%
  • Peso Filipina menguat sebesar 0,007%

Pergerakan mata uang ini menunjukkan bahwa sebagian besar negara di Asia sedang mengalami penguatan terhadap dolar AS, sementara rupiah dan beberapa mata uang lainnya mengalami penurunan.

Selain itu, indeks dolar yang digunakan untuk mengukur kekuatan dolar AS terhadap mata uang utama dunia tetap berada di level 98,39. Angka ini tidak mengalami perubahan dari akhir pekan lalu, menunjukkan bahwa dolar AS masih stabil dalam konteks global.

Kondisi ini menjadi perhatian bagi para pelaku pasar dan investor, karena fluktuasi nilai tukar dapat memengaruhi ekonomi nasional dan internasional. Dengan melihat tren penurunan rupiah terhadap dolar AS, diperlukan analisis lebih lanjut terkait faktor-faktor penyebab penurunan tersebut, seperti kebijakan moneter, situasi politik, atau kondisi ekonomi makro.

Dalam konteks yang lebih luas, pergerakan nilai tukar ini juga bisa menjadi indikator kesehatan ekonomi suatu negara. Oleh karena itu, penting bagi pemerintah dan lembaga terkait untuk terus memantau dan mengambil langkah-langkah yang diperlukan guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *