Pengembangan Sepeda Listrik Sesuai Jalan Indonesia

Inovasi Sepeda Listrik dari Universitas Sebelas Maret

Universitas Sebelas Maret (UNS) di Solo telah merancang prototipe sepeda listrik yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan transportasi perkotaan. Proyek ini tidak hanya fokus pada efisiensi energi, tetapi juga menekankan ketangguhan, stabilitas, dan kenyamanan pengguna. Riset ini dilakukan sebagai respons terhadap tantangan pengembangan kendaraan listrik di Indonesia, khususnya menghadapi kondisi jalan perkotaan yang sering kali tidak rata dan berlubang.

Riset sepeda listrik ini dilakukan oleh Research Group (RG) Teknologi dan Pemrosesan Logam (METALS) Fakultas Teknik UNS. Proyek ini merupakan bagian dari roadmap jangka panjang METALLIVES (Metals for Lightweight Vehicles), yang berfokus pada inovasi kendaraan ringan berbasis riset material, manufaktur, dan analisis struktural. Tujuan utama dari proyek ini adalah menciptakan solusi transportasi yang ramah lingkungan dan sesuai dengan kondisi jalan di Indonesia.

Berbeda dengan sepeda listrik komersial yang umumnya mengadopsi desain luar negeri, prototipe buatan UNS dikembangkan dengan pendekatan kontekstual. Tim peneliti melakukan penyesuaian desain agar sesuai dengan karakteristik jalan di Indonesia. Salah satu inovasi yang diterapkan adalah sistem tiga suspensi. Sistem ini dirancang untuk meningkatkan stabilitas dan kenyamanan saat berkendara di jalan tidak rata, termasuk melewati lubang atau permukaan bergelombang.

Ketua Peneliti RG METALS, Nurul Muhayat, menjelaskan bahwa keselamatan pengguna menjadi prioritas utama dalam pengembangan prototipe ini. Ia menyatakan bahwa kenyamanan berkendara tidak dapat dipisahkan dari faktor stabilitas rangka dan sistem suspensi yang memadai. “Kami merancang sepeda ini agar tetap aman dan nyaman digunakan dalam kondisi jalan perkotaan yang sesungguhnya,” ujarnya.

Dari sisi material, rangka sepeda menggunakan aluminium AA6061 yang memiliki bobot ringan namun tetap kuat secara struktural. Proses penyambungan rangka dilakukan dengan metode pengelasan TIG atau Gas Tungsten Arc Welding (GTAW) untuk menjaga kualitas sambungan tanpa menambah beban berlebih. “Prototipe ini juga telah melalui serangkaian pengujian teknis, mulai dari uji makro, mikro, dan uji tarik pada sambungan las, hingga uji performa sepeda,” tambah Nurul.

Pengujian performa sepeda listrik ini mengacu pada Standar Nasional Indonesia (SNI) 1049 Tahun 2008, yang mencakup lintasan ergonomi, jarak tempuh, serta simulasi jalan tidak rata. Menariknya, riset ini awalnya bermula dari kompetisi mahasiswa pada tahun 2022. Desain terbaik kemudian dikembangkan secara bertahap dengan dukungan pendanaan internal UNS hingga mencapai tahap hilirisasi riset pada tahun 2025.

Mahasiswa dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari S1 hingga S3, terlibat secara aktif dalam proses penelitian. Hal ini menjadikan proyek ini sebagai sarana pembelajaran sekaligus penguatan riset terapan. Selain itu, pengembangan sepeda listrik UNS juga diarahkan untuk mendukung pembangunan berkelanjutan, khususnya dalam upaya menghadirkan solusi transportasi ramah lingkungan dan beremisi rendah di kawasan perkotaan Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *