Tahun 2025 Ditetapkan sebagai Tahun Terpanas Ketiga dalam Sejarah
Tahun 2025 telah resmi ditetapkan sebagai tahun terpanas ketiga dalam sejarah berdasarkan analisis data suhu yang dirilis oleh tiga lembaga independen. Lembaga tersebut adalah Layanan Perubahan Iklim Copernicus Uni Eropa, Met Office Inggris, dan Berkeley Earth. Posisi ini menempatkan 2025 di bawah 2023 dan 2024, yang masing-masing menjadi dua tahun terpanas dalam sejarah.
Data yang dikeluarkan oleh ketiga lembaga ini menunjukkan bahwa suhu global pada 2025 meningkat sebesar 1,47 derajat Celsius dibandingkan rata-rata periode praindustri antara 1850 hingga 1900, sesuai dengan data dari Copernicus. Sementara itu, Met Office mencatat kenaikan sebesar 1,41 derajat Celsius, sedangkan Berkeley Earth melaporkan peningkatan sebesar 1,44 derajat Celsius.
Fenomena La Niña yang Tidak Mengurangi Kenaikan Suhu
Meski 2025 mengalami fase pendinginan Samudra Pasifik ekuatorial atau La Niña, yang biasanya mengurangi suhu global, kenaikan suhu tetap terjadi. Hal ini disebabkan oleh pemanasan akibat gas rumah kaca yang berhasil mengimbangi efek pendinginan alami tersebut.
Daniel Swain, ilmuwan iklim dari University of California, menyatakan bahwa fenomena ini menunjukkan bahwa pemanasan akibat aktivitas manusia kini lebih dominan daripada variabilitas alami dalam sistem cuaca. Menurutnya, hal ini membuktikan pergeseran signifikan dalam dinamika iklim global.
Percepatan Pemanasan Global
Peningkatan suhu pada 2025 sejalan dengan pandangan para ilmuwan tentang percepatan laju pemanasan global dalam beberapa tahun terakhir. Peneliti dari Berkeley Earth menyebutkan bahwa lonjakan pemanasan antara 2023 hingga 2025 sangat ekstrem dan menunjukkan adanya percepatan.
Beberapa faktor diduga berkontribusi terhadap percepatan ini, termasuk pengurangan awan rendah yang bersifat reflektif serta penurunan polusi sulfur dari sektor pelayaran yang sebelumnya memiliki efek pendinginan.
Batas 1,5 Derajat Celsius Dilampaui
Menurut data dari Copernicus, rata-rata pemanasan tiga tahunan kini telah melampaui ambang batas 1,5 derajat Celsius untuk pertama kalinya. Batas ini merupakan target yang disepakati dalam Perjanjian Paris 2015. Meskipun demikian, melampaui batas ini tidak langsung berarti terjadinya dampak iklim yang lebih parah, tetapi lebih merupakan target diplomatik.
Lembaga ini memperkirakan bahwa dunia berpotensi sepenuhnya melampaui ambang batas 1,5 derajat Celsius pada pertengahan 2029, atau 13 tahun lebih cepat dari proyeksi saat perjanjian ditandatangani.
Perbedaan Data Antar Lembaga
Data dari NASA menunjukkan bahwa 2025 hanya sedikit lebih panas dibandingkan 2023, sehingga kedua tahun tersebut tercatat imbang sebagai tahun terpanas kedua. Sementara itu, Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional AS (NOAA) menemukan bahwa 2025 sedikit lebih sejuk dibandingkan 2023, namun mencatat suhu laut bagian atas hingga kedalaman 700 meter sebagai yang terpanas sepanjang sejarah.
Perbedaan kecil antar dataset ini mencerminkan perbedaan metodologi yang digunakan oleh masing-masing lembaga penelitian.
Dampak Cuaca Ekstrem
Lebih dari separuh daratan dunia pada 2025 mengalami jumlah hari stres panas di atas rata-rata, yaitu kondisi yang terasa setara dengan suhu minimal 32 derajat Celsius. Di Greenland, suhu pada Mei di sejumlah wilayah meningkat lebih dari 12 derajat Celsius di atas rata-rata, dengan pencairan es pada 19 Mei berlangsung 12 kali lebih cepat dari kondisi normal.
Peningkatan panas ini memperburuk cuaca ekstrem. Lebih dari 400 orang tewas akibat kebakaran hutan di Los Angeles pada Januari, dengan kerugian asuransi mencapai US$40 miliar. World Weather Attribution (WWA) menyebut perubahan iklim membuat kondisi cuaca pemicu kebakaran tersebut 35% lebih mungkin terjadi.
Fluktuasi Suhu dan Faktor Cuaca
Secara tahunan, fluktuasi suhu rata-rata dipengaruhi oleh kondisi cuaca jangka pendek maupun perubahan iklim. Kehadiran El Niño yang menghangatkan atau La Niña yang mendinginkan di Samudra Pasifik ekuatorial biasanya menjadi faktor utama penentu peringkat suhu suatu tahun.
Dengan kondisi Pasifik pada 2025 yang cenderung netral atau sedikit condong ke La Niña, tahun tersebut tetap tergolong panas. Suhunya hanya sedikit lebih rendah dibandingkan 2023, yang ditandai kemunculan El Niño pada musim panas. Bahkan, 2025 tercatat lebih panas dibandingkan dengan seluruh tahun El Niño sebelum 2023.
Tinggalkan Balasan