Tekan Biaya, Perahu Surya Diluncurkan

Inovasi Perahu Listrik Tenaga Surya untuk Nelayan

Di Pulau Tunda, Kabupaten Serang, Banten, sebuah inovasi teknologi ramah lingkungan diluncurkan untuk membantu para nelayan. Proyek ini menghadirkan perahu listrik yang menggunakan tenaga surya sebagai sumber energi utama. Tujuan dari pengembangan kapal ini adalah untuk mengurangi biaya bahan bakar, menekan emisi karbon, serta memperkuat mata pencaharian nelayan di tengah tantangan perubahan iklim.

Peluncuran perahu tersebut dilakukan dalam acara Expo Inovasi Ekosistem Kapal Listrik Ramah Lingkungan. Acara ini dihadiri oleh berbagai pihak seperti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), United Nations Development Programme (UNDP), serta Kementerian Kelautan dan Perikanan. Proyek bernama SeaBLUE ini juga didukung oleh pemerintah Jepang.

Pelaksana Tugas Deputi Bidang Kebijakan Pembangunan BRIN, Anugerah Widiyanto, menjelaskan bahwa BRIN memiliki target untuk menyediakan enam unit motor listrik bagi kapal nelayan. Pengembangan motor tempel di perahu dilakukan bersama dengan PT Giga Inovasi Nasional.

Kepala Pembiayaan Pembangunan UNDP Indonesia, Nila Murti, menilai inovasi kapal listrik tenaga surya sebagai solusi strategis untuk menangani tantangan yang dihadapi nelayan kecil. Ia menekankan bahwa teknologi ini mampu menurunkan biaya operasional, mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil, serta mendukung transisi menuju energi bersih.

Di Pulau Tunda, akses listrik masih belum tersedia secara 24 jam. Wilayah ini memiliki luas sekitar 260 hektare dengan jumlah penduduk sekitar 1.700 jiwa. Mayoritas atau 85 persen kepala keluarga bermata pencaharian sebagai nelayan tradisional. Meski ketergantungan pada sektor kelautan dan perikanan telah berlangsung turun-temurun, nelayan sering menghadapi kendala seperti kesulitan memperoleh bahan bakar solar.

Kepala Desa Wargasara, Hasyim, mengatakan bahwa kapal listrik tenaga surya hasil riset BRIN sangat membantu warga. Ia berharap teknologi ini dapat meningkatkan kesejahteraan nelayan.

Kepala Pusat Riset Teknologi Transportasi BRIN, Aam Muharam, menjelaskan bahwa proyek ini menghasilkan komponen teknologi kapal listrik yang inovatif dan sesuai dengan kondisi operasional di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Proyek ini menargetkan distribusi 162 cooler box bertenaga surya dan enam mesin kapal listrik untuk 34 desa di Morotai dan Kepulauan Tanimbar.

Berdasarkan data Kementerian Kelautan dan Perikanan, Indonesia memiliki lebih dari dua juta nelayan kecil yang menyumbang hingga 60 persen produksi perikanan tangkap nasional. Namun, banyak nelayan kecil masih rentan terhadap risiko perubahan iklim, fluktuasi harga bahan bakar, serta kehilangan hasil pascapanen, terutama di wilayah kepulauan terpencil.

Melalui proyek SeaBLUE, UNDP memperkenalkan kapal listrik dan cooler box bertenaga surya untuk membantu nelayan kecil menurunkan biaya bahan bakar, mengurangi emisi, dan menjaga kesegaran hasil tangkapan. Proyek ini bekerja sama dengan BRIN dan KKP untuk memberikan pelatihan praktis dan dukungan teknis, sehingga kapal yang digunakan aman, mudah dioperasikan, dan berkelanjutan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *